Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 65 ( kisah pilu Sastro)


__ADS_3

"Tidak....apa yang kalian lakukan?" Sastro terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebuah bayangan hitam sudah menyelimuti tubuh kekasihnya di atas sebuah meja. Keberadaan Sastro yang tiba-tiba, membuat bayangan itu lenyap seketika.


Saat itu Bayu dan Agus yang sedang bersujud di sisi meja ikut terkejut melihat kehadiran Sastro. Mereka berdua langsung panik karena aksinya diketahui orang lain, terlebih saat melihat tuannya langsung menghilang.


"Bagaimana ini mas?" Agus meminta pendapat kakaknya.


"Dia tidak boleh menyebarluaskan apa yang sudah dilihatnya." jawab Bayu.


Agus dan Bayu segera bertindak. Mereka langsung menangkap Sastro dan mengikat tangannya. Sastro yang masih syok saat itu tidak sempat menghindar. Agus langsung meminumkan obat pembasmi serangga kepada Sastro.


"Jangan sampai kita meninggalkan jejak. Kita harus segera menyingkirkan mayat mereka." Agus langsung memasukkan mayat Sastro dan kekasihnya itu ke dalam dua koper besar. Saat itu juga Bayu dan Agus meninggalkan apartemen dengan membawa dua koper tersebut.


Bayu dan Agus bergegas melajukan mobilnya ke pinggiran kota. Berdasarkan informasi dari kakaknya yaitu Herman, mereka berdua sudah sampai di sebuah villa yang cukup sepi.


"Jadi mas Herman punya tempat seperti ini?" Bayu menatap villa kosong yang jauh dari keramaian itu.


"Sepertinya tempat ini sangat cocok untuk melakukan ritual" kata Agus.


"Nanti kita pikirkan, sebaiknya kita urus mayat ini dulu"jawab Bayu.


Agus dan Bayu langsung mencari semak semak di belakang Villa dan menggali sebuah lubang untuk mengubur kedua mayat itu. Namun saat Agus membuka koper, ternyata Sastro tiba-tiba bergerak. Sastro masih sadar dan tadi hanya pingsan.


"Mau apa kalian?" Sastro pun memberontak. Apalagi saat dirinya melihat Bayu sedang mengeluarkan mayat kekasihnya dari dalam koper. Sastro pun mengamuk dan hendak menyerang Bayu, tetapi dia sangat lemah dan Agus sudah lebih dulu memukulnya dari belakang dengan balok.


"Cepat masukkan mereka ke dalam lubang sebelum ada yang melihat!" Bayu bergegas melempar mayat wanita itu ke dalam lubang yang sudah digalinya. Begitu juga dengan Agus yang ikut melemparkan Sastro. Namun pada saat itu, Sastro masih setengah sadar.


"Aku tidak terima dengan ini. Aku akan jadi hantu penasaran dan akan mencari kalian." ucap Sastro sebelum tumpukan tanah menimbunnya.


"Mas.." Agus mulai ketakutan.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan! Dia sudah berada di dunia lain, tidak mungkin akan menghantui kita. Tuan kita yang akan melindungi kita. Sebaiknya kita pikirkan bagaimana cara mengganti sesembahan tadi." Bayu meyakinkan Agus agar tidak terprovokasi oleh ucapan Sastro tadi.


Setelah semua beres, mereka berdua masuk ke dalam villa dan istirahat di sana. Mereka menjadikan villa tersebut sebagai tempat berlindung.


"Coba aja mas Herman memberikan tempat ini sejak dulu. Kita tidak perlu takut ketahuan orang orang."


"Terserahlah! Aku lelah" Bayu dan Agus pun terlelap.


🪦🪦🪦


Seakan mimpi, Sastro sudah berada di sebuah Padang ilalang yang tandus. Tak ada siapapun di sana. Sastro hanya terdiam tak tau arah pulang.


"Ibu.." Sastro menutup mata dengan kedua tangannya dan menangis memanggil nama ibunya. Tak lama dia mendengar suara obrolan seseorang. Itu suara ibunya dan seorang wanita. Sastro pun membuka matanya.


Sastro sangat gembira karena bisa bertemu dengan ibunya lagi. Saking gembiranya, Sastro berteriak memanggil ibunya. Namun ibunya tidak mendengar. Sastro pun bangkit dan ingin menghampiri ibunya tetapi setiap memanggil, ibunya tidak memperhatikannya. Sastro pun langsung memeluk ibunya dari belakang.


"Ada apa bik?" tanya Rossy melihat bik Asih yang langsung terdiam dan pucat.


"Kalau begitu istirahat saja. Biar besok bisa kembali fit." Karena hari sudah malam, Rossi pun meminta bik Asih untuk istirahat.


Saat di kamar, bik asih merasakan sesuatu yang aneh. Hatinya berdesir tetapi tidak tau apa yang terjadi. Bik asih segera istirahat, mungkin memang tubuhnya sedang lelah.


Sastro menangis di samping ibunya, Dia sekarang sudah tau jika dirinya sudah tida di alam ibunya.


"Semua gara gara mereka berdua. Aku akan balas dendam, aku akan membuat mereka merasakan kematian yang lebih menyiksa daripada kematian ku." Sastro pun pergi meninggalkan ibunya.


Semasa hidupnya, Sastro juga pernah mendalami sedikit ilmu kebatinan. Dia juga mempunyai guru spiritual. Itulah yang membuatnya menjadi sukses saat tinggal di kota. Sastro pun mencari guru spiritual nya itu.


🪦🪦🪦

__ADS_1


Sementara itu di rumah sakit...


"Untunglah kamu baik baik saja sayang " Herman memeluk putrinya yang mulai sadar.


"Aku dimana papa? Tadi itu aku..." dengan paniknya, Siska langsung meringkuk.


"Kamu sudah baik baik saja sekarang.Ada papa disini, kamu tidak usah takut lagi." Herman pun menenangkan putrinya. Siska percaya, dia sudah mulai tenang. Sekarang Siska menjadi yakin jika papanya melarangnya keluar rumah adalah untuk melindunginya.


"Papa maafkan Siska. Mulai sekarang Siska akan mematuhi semua nasehat dari papa. Siska tidak akan keluar rumah sembarangan lagi. Siska akan jadi anak baik. Hahaha...."


Mendengar kata-kata putrinya, Herman menjadi panik. Ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya. Siska tiba tiba tertawa cekikikan setelah itu langsung menangis, kemudian malah ketakutan.


Herman langsung meminta bantuan psikiater. Namun tidak ada suatu penyakit serius. Dokter dan psikiater disana hanya terbengong. Saat mereka bertanya, Siska menjawab dengan normalnya. Jadi dokter menyimpulkan jika Siska memang baik baik saja. Namun berbeda dengan Herman, dia bisa merasakan sesuatu keanehan pada putrinya.


Karena dokter menyatakan bahwa putrinya sudah sehat, Herman pun segera melunasi biaya pengobatan dan membawa putrinya pulang. Namun untuk lebih jelasnya tentang kondisi Siska, Herman bukannya membawa Siska pulang ke rumah melainkan pergi ke tempat gurunya.


"Jadi bagaimana guru? apa yang terjadi dengan putri saya sebenarnya ?" Herman sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Dia pun tidak sabar dengan jawaban gurunya.


"Di dalam tubuhnya sudah terdapat banyak ion negatif. Mungkin kondisi fisiknya memang baik baik saja, tetapi lama-kelamaan dia akan kehilangan akalnya. Jiwanya akan kosong dan cepat atau lambat dia akan pergi juga."


"Apa? Namun guru bisa kan membuatnya normal kembali?" Herman sudah menyerah. Baginya guru Noe adalah segalanya. Jika gurunya saja tidak bisa menyembuhkannya, apalagi yang dia harapkan?


"Dia sudah menjadi sesembahan, tetapi karena gagal jiwanya masih terbagi dua. Cara satu satunya adalah mengganti sesembahan yang gagal itu." saran guru Noe. Herman seperti mendapatkan semangat lagi. Dia pun ingin mencari kedua adiknya dan mengganti sesembahan putrinya dengan wanita lain.


"Tapi saya tidak tahu dimana keberadaan mereka setelah kejadian kemarin. Anak buah saya sudah kehilangan jejak." Herman pun menyesal karena kehilangan jejak kedua adiknya.


"Dia ada di tempat asalnya. Ada seseorang yang telah menyelamatkannya."petunjuk dari guru Noe.


"Siapa?"

__ADS_1


"Pikir sendiri! Sudah kubilang aku tidak mau ikut campur urusan keluargamu. Jika terjadi apa apa, jangan pernah melibatkan ku!" guru Noe pun meninggalkan Herman dan anak buahnya, kemudian menutup pintu rumahnya rapat rapat.


__ADS_2