Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 122 (melarikan diri)


__ADS_3

“Kamu pamannya permaisuri kan?”mbak Dwi langsung menghampiri paman Agus masih dengan memperhatikan sekelilingnya.


"kamu siapa? bagaimana bisa tahu siapa aku?" tanya paman Agus yang tidak begitu peduli.


"Aku sama denganmu? aku manusia dan juga ingin tanya pada permaisuri bagaimana caranya bisa kembali kesana."


Mendengar ucapan mbak Dwi yang ingin pulang ke dunianya, paman Agus menjadi semangat. Mereka berdua pun saling bertukar pikiran. Setelah mengobrol beberapa hal, mereka pun sepakat akan melakukan pertemuan kembali di belakang istana. Paman Agus akhirnya ingat jika di belakang istana ada sebuah hutan yang bisa menghubungkan dunia iblis dengan dunia manusia.


Sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan, mbak Dwi dan paman Agus langsung bertemu dipinggir hutan belakang istana. Paman Agus sudah mendapatkan ilmu untuk menaklukkan binatang buas peliharaan sang raja iblis. Tentu saja dari istri tercintanya yaitu putri keempat yang sudah mencuri ilmunya dari putri ketiga.


Paman Agus sudah hafal betul jalan tersebut meskipun baru sekali melewatinya, karena memang ingatan paman Agus sangatlah tajam.


"Kamu yakin ini jalan menuju alam manusia?" tanya mbak Dwi kurang yakin dengan petunjuk paman Agus.


"Kalau kamu tidak yakin, sebaiknya kamu kembali saja. Aku akan pulang sendiri ke dunia manusia." jawab paman Agus kesal karena ternyata mbak Dwi sangat cerewet.


"Iya baiklah!" akhirnya mbak Dwi diam dan mengikuti paman Agus menyusuri hutan.


Dalam perjalanan melewati hutan terlarang, tentu saja hewan buas peliharaan sang raja iblis langsung menghadang. Dengan ilmu yang sudah didapat tentu saja paman Agus bisa melewatinya dengan selamat. Mbak Dwi begitu takjub dengan upaya paman Agus.


"Ternyata kamu memang pengalaman.." puji mbak Dwi.


"Makanya jangan meremehkan orang terlalu cepat." ucap paman Agus sombong.


Saat sampai gerbang perbatasan, paman Agus langsung menarik mbak Dwi untuk sembunyi. Ternyata mereka melihat banyak pengawal kerajaan sedang sibuk di depan gerbang perbatasan.

__ADS_1


"Apa yang mereka lakukan disana?" tanya paman Agus heran.


"Sepertinya mereka sedang memperbaiki gerbang tersebut." jawab mbak Dwi sok tahu.


"Apa itu jalan satu-satunya menuju alam manusia?" tanya mbak Dwi penasaran.


"Iya.. Sepertinya gempa kemarin sudah menghancurkan gerbang pembatas. Apa masih bisa diperbaiki? Jika tidak bisa bagaimana kita akan kembali ke dunia manusia?" paman Agus mulai berpikir.


Gerbang perbatasan sudah hancur total akibat gempa dahsyat yang terjadi. Para tukang bangunan yang sedang memperbaiki dengan mudahnya membangun kembali gerbang tersebut tetapi belum tentu bisa memperbaiki penghubung dua dunia tersebut. Karena yang bisa melakukannya hanya sang raja dan pangeran kedua.


Karena pangeran kedua tidak ada di lokasi, para pembangun gerbang langsung meninggalkan tempat tersebut setelah tugas mereka selesai. Karena merasa sudah aman sebab tidak ada orang, paman Agus memberanikan diri mendekati gerbang perbatasan tersebut. Mbak Dwi hanya mengekor di belakang paman Agus.


"Apa ini bisa dilewati?" gumam paman Agus.


"Akhirnya kita bisa pulang" ucap mbak Dwi senang.


"Akhirnya gerbang sudah bisa diaktifkan kembali." pangeran langsung membacakan mantra untuk membuka gerbang penghubung dua dunia.


Setelah selesai pangeran kedua langsung memasuki gerbang tersebut setelah memerintahkan pada para pengawalnya agar melaporkan kepada sang raja iblis jika gerbang perbatasan sudah berhasil diperbaiki.


Setelah semua tampak sepi, paman Agus berani keluar menuju gerbang tersebut dan memasukinya dengan menggandeng mbak Dwi. Tentu saja mbak Dwi tetap setia mengikuti.


"Apa kita tidak akan ketahuan oleh pangeran itu?" tanya mbak Dwi was was.


"Tenang saja..Dia pasti sudah jauh." jawab paman Agus yakin.

__ADS_1


Dan benar saja, paman Agus dan mbak Dwi berhasil keluar dari hutang terlarang dengan selamat. Kini mereka sudah berada di pinggir jalan hutan larangan dunia manusia. Karena hari telah larut, mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri jalanan yang sepi. Memang jalan disana tampak sepi saat malam hari ditambah dengan tidak adanya lampu penerangan membuat suasana semakin horor.


Paman Agus dan mbak Dwi berjalan cukup jauh tanpa arah. Meskipun sudah kembali ke dunia manusia, paman Agus tidak punya tujuan tempat tinggal. Dia tidak ingin kembali ke apartemennya karena takut ketahuan oleh sang raja iblis.


"Kemana tujuan kamu?" tanya paman Agus pada mbak Dwi.


"Aku mau pulang ke rumah orangtuaku. Aku masih ada anak yang membutuhkanku." jawab mbak Dwi datar. Memangnya kemana lagi tujuannya. Kalau memang harus menyerahkan diri kepada polisi karena kasus pembunuhan yang dilakukannya, mbak Dwi hanya bisa pasrah.


"Bolehkah aku ikut denganmu? aku sudah tidak punya tujuan tempat tinggal lagi." pinta Paman Agus pada mbak Dwi.


"Boleh!" tanpa pikir panjang mbak Dwi ternyata menyetujui permintaan paman Agus. Sepanjang perjalanan mereka banyak mengobrol sehingga membuat perjalanan mereka tak terasa sudah memasuki pinggiran kota.


Mbak Dwi yang sudah menghafal jalan langsung menuju ke rumah nya. Meskipun lokasinya lumayan jauh tetapi karena ada teman ngobrol, membuat perjalanan tak terasa melelahkan. Mbak Dwi sudah tiba di rumah kecilnya yang kumuh. Mbak Dwi segera mengetuk pintu berharap sang ibu segera membukanya dan membiarkannya masuk karena takut ada tetangga yang melihat.


Tak berapa lama terdengar suara pintu dibuka, ternyata anak mbak Dwi yang membukanya. Anak mbak Dwi yang mengenali ibunya tentu saja sangat senang bisa bertemu kembali dengan ibunya. Mereka segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.


Anak mbak Dwi sudah sembuh dari penyakitnya karena sudah ditolong oleh sumbangan warga dan keluarganya Raya. Namun kini ganti ibunya mbak Dwi yang sedang berbaring lemah karena penyakit tuanya. Mbak Dwi segera menghampiri ibunya yang berbaring di ranjang kamar dan tidak sanggup berdiri lagi. Mbak Dwi langsung meminta maaf kepada ibunya karena selama ini sudah membohongi dan menelantarkan ibunya dan juga anaknya sendiri.


Saking senangnya melihat mbak Dwi pulang, tentu saja sangat ibu langsung menangis dan memeluk anaknya tersebut. Ibunya mbak Dwi sudah mengetahui cerita tentang anaknya tersebut dari polisi dan sekarang sedang dalam pencarian polisi.


"Ibu tenang saja, setelah ini saya akan meyerahkan diri ke kantor polisi." ucap mbak Dwi agar ibunya tidak khawatir.


"Jangan..Apa kamu akan meninggalkan kami lagi?" ibu mbak Dwi tidak setuju jika harus kehilangan anaknya lagi.


Ibu mbak Dwi pun menceritakan tentang rumahnya yang ada di luar kota dan ingin mengajak mbak Dwi pindah kesana menghindari masalah yang sudah terjadi dan hidup bersama dalam damai. Awalnya mbak Dwi menolak karena dia ingin bertanggungjawab pada apa yang sudah dilakukannya.

__ADS_1


Namun setelah paman Agus bilang sesuatu kepada mereka, mbak Dwi pun berubah pikiran. Dia pun setuju dengan usul dari ibunya.


__ADS_2