
"Raya... ayo kesini! Nenek kangen sama kamu sayang"
"Nenek.."
"Raya..apa kamu tidak kangen nenek? Sini peluk nenek"
"Nenek..nenek.."
π²π²π²
"Raya..kamu kenapa?"Suara Ali dari luar mengejutkan Raya hingga membuat Raya terperanjat dari tidurnya.
"Iya bang, aku tidak apa-apa.Hanya mimpi buruk saja!" jawab Raya dari dalam kamar. Raya bergegas bangun membukakan pintu untuk Ali.
Raya dan Ali kemudian duduk di kursi ruang tamu. Hari masih gelap, padahal Raya merasa sudah tidur terlalu lama. Ali pun membuatkan teh hangat untuk Raya karena cuaca di kampung sangat dingin bila malam tiba.
"Bagaimana aku bisa memberi kabar pada keluargaku bang? apa di sini ada yang punya telfon?" Raya pun resah memikirkan orang tuanya yang saat ini pasti mencemaskannya.
"Yang aku tau kyai Arifin punya. Tapi bukankah beliau ada di kota menjenguk anaknya yang sedang sakit?" jawab Ali.
"Warga yang lain?" Raya mencoba memastikan apakah Ali tau ada warga lain yang punya telpon, tapi Ali hanya menggelengkan kepalanya.
Bagaimana dia bisa tau? sedangkan selama ini Ali selalu mengucilkan diri dari warga. Dan warga pun tidak begitu peduli dengan nya, apalagi setelah kematian ayahnya.
Raya berpikir keras pada siapa lagi dia bisa meminta tolong di kampung ini selain pada Ali dan keluarga kyai Arifin. Sejenak Raya teringat pada Nina adik dari Tata mantan tunangan Ali dulu.
" Bang..Besok temani aku ke rumah Nina ya? mungkin dia punya telpon" pinta Raya. Ali pun terkejut mendengar nama Nina, namun dia mengangguk agar Raya tidak banyak bertanya.
"Masih malam, istirahatlah!" pinta Ali. Raya pun mengangguk dan kembali ke kamarnya.
Mungkin Nina bisa membantunya. Raya pun tersenyum sendiri. Merasa bahagia besok bisa menghubungi keluarganya di kota, itupun jika Nina memang punya telpon. Raya kembali memejamkan matanya dan menikmati tidurnya yang sempat terganggu akibat mimpi buruk tadi.
__ADS_1
π²π²π²
Masih di tempat ditemukannya mobil Raya tanpa pengemudinya ..
Manda dan Lily tetap berdiri di samping mobil Raya sambil mengamati rumah sakit yang terbengkalai tersebut.
"Menurutmu Apa mungkin Raya masuk ke dalam rumah sakit tersebut?"
"Bagaimana mungkin?" Lily tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Manda. Mana mungkin Raya memasuki rumah sakit yang jelas jelas sudah tidak beroperasi.
"Bisa jadi! bukankah saat itu dia mendapat telpon jika mamanya dibawa ke rumah sakit ini. Tidak mungkin kan dia meninggalkan mobilnya begitu saja? Atau Raya diculik?" Manda semakin khawatir dengan ide konyolnya yang tiba tiba muncul itu.
"Memangnya siapa yang mau menculik Raya?" Lily pun penasaran. Manda hanya mengangkat bahunya. Dia pun menyadari jika apa yang dikatakannya sangat tidak masuk akal.
Malam semakin larut. Manda dan Lily semakin kedinginan menunggu papa Sigit datang.
Tak berapa lama papa Sigit akhirnya datang bersama dengan mama Rossy dan pak Harun. Papa Sigit pun membawa kunci cadangan mobil milik Raya dan berhasil membukanya.
"Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?" tanya papa Sigit sembari mengambil tas Raya yang tertinggal di dalam mobil guna mengambil ponselnya. Manda menceritakan kejadian sebenarnya tentang Raya dan rumah sakit yang ditunjuk Raya sebelumnya.
"Apa mungkin Raya masuk ke dalam rumah sakit tersebut?"
"Itu yang tadi sempat kami pikirkan Om..'"jawab Manda.
"Tapi sepertinya itu tidak mungkin pak! Gedungnya saja hampir sebagian sudah roboh. Tidak mungkin non Raya masuk ke dalam sana" pak Harun pun tidak sependapat. Papa Sigit hanya mengangguk pelan.
Karena hari sudah malam, papa Sigit meminta pak Harun mengantar Manda dan Lily pulang namun mereka menolaknya. Karena tadi mereka sudah berpamitan pada mama Lily akan menginap di rumah Manda, sedangkan mereka juga tidak mungkin pergi ke rumah Manda tengah malam begini. Akhirnya papa Sigit pun mengijinkan mereka berdua menginap di rumah beliau. Papa Sigit pun membawa mobil Raya pulang ke rumah.
"Raya bagaimana Om?" tanya Lily dan Manda masih khawatir.
"Kita tunggu sampai besok. Jika masih tidak ada kabar, nanti Om lapor polisi."
__ADS_1
π²π²π²
Keesokan paginya..
Raya bangun dengan sangat segar. Dia segera mandi dan melakukan kewajibannya di waktu subuh. Hari ini Raya sangat bersemangat ingin bertemu Nina. Semoga saja Nina punya ponsel agar bisa dipinjam untuk menghubungi orangtua nya di kota. Pikir Raya.
Setelah sarapan Raya meminta Ali agar menemaninya untuk bertemu Nina. Sebenarnya Ali keberatan, namun demi Raya dia tidak bisa menolak.
"Aku tidak ikut sampai rumah ya, aku akan mengawasimu dari jauh saja. Nanti jika sudah selesai aku jemput di tempat sebelumnya." pinta Ali. Raya mengangguk tanda mengerti.
Kini Ali dan Raya berjalan menuju rumah Nina. Menurut Ali, Nina sudah tidak membantu bapaknya di warung karena kondisi perutnya yang semakin membesar. Ali mengantar Raya melewati hutan, seperti biasanya Ali menghindari jalan umum agar tidak bertemu banyak orang. Raya hanya mengikuti nya saja.
"Bang Ali sangat hafal jalan tembusan ya?" tanya Raya memecahkan kesunyian karena dari tadi mereka berjalan tanpa berbicara apapun.
"Sudah terbiasa." jawab Ali singkat. Mereka terdiam lagi.
Tak berapa lama rumah Nina sudah kelihatan. Ali berhenti dan membiarkan Raya pergi ke rumah Nina sendiri.
"Aku tunggu kamu disini. Jangan bilang pada Nina jika kamu bersamaku. Bilang saja jika kamu tersesat." pinta Ali. Lagi lagi Raya hanya mengangguk. Raya tak banyak bicara karena sudah tau masalah Ali dengan keluarga Nina.
Rumah Nina tampak sepi. Pintu tertutup namun jendelanya terbuka. Raya memberanikan diri mengucap salam.
"Assalamualaikum.." berulang kali Raya mengucap salam namun tak ada sahutan. Sesekali Raya melihat Ali dan mengisyaratkan jika tidak ada sahutan dari dalam. Ali meminta Raya untuk terus mengetuk pintu.
Samar samar mendengar suara sangat pelan sekali dari dalam. Suara orang minta tolong tapi tidak begitu jelas. Raya kembali mengucap salam dan memanggil nama Nina. Namun tetap tak ada jawaban. Hingga Raya terkejut tatkala ada benda jatuh dari dalam rumah.
Krompyangg....
Raya langsung melongok mengamati dari jendela. Betapa terkejutnya Raya ketika melihat Nina sudah duduk di samping meja dengan banyak darah. Raya pun panik. Dia langsung memanggil Ali agar segera mendatanginya.
Ali yang melihat wajah panik Raya langsung berlari menghampiri.
__ADS_1
"Ada apa?" Ali pun ikut panik. Dia segera menengok melalui jendela yang ditunjuk Raya. Ali pun terkejut melihat Nina bersimbah darah. Dengan segera Ali mendobrak pintu agar bisa segera menolong Nina.
Setelah pintu terbuka Ali dan Raya segera menghampiri Nina. Ali pun langsung menggendong Nina tanpa banyak tanya. Raya hanya mengekor dari belakang.