Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 69 ( Ingin membantu Sastro 2)


__ADS_3

Raya kembali ke kamarnya dan masih merenungkan apa yang terjadi pada Sastro, kenapa dia Sampai tidak mau ditolong? Kalau memang dia bisa sendiri kan seharusnya semua sudah beres? Kalau memang tidak bisa, bukankah lebih baik meminta bantuan?Capek berpikir dicampur lelah, Raya pun tertidur.


"Bang Ali?" seakan tak percaya, Raya akhirnya bisa bertemu dengan Ali. Padahal baru tadi siang Ali di rumahnya, sekarang sudah di sini lagi. Ali hanya tersenyum malu saat bertemu Raya.


"Ray? apa kabar?" masih dengan malu malu Ali memberanikan diri menyapa Raya.


Ali dan Raya mengobrol di ruang tamu rumah Raya. Raya sangat senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan Ali.


"Apa yang kamu pikirkan? sepertinya kamu punya masalah?" Ali memberanikan diri bertanya karena Raya hanya diam.


"Jadi begini bang.." Raya pun tidak sabar, dia menceritakan apa yang sudah terjadi pada Sastro kepada Ali.


"Jadi hantu yang aku tangkap tadi itu namanya Sastro?" Ali paham dengan apa yang di ceritakan Raya padanya. Dia pun berpikir sejenak.


"Kemungkinan jasadnya sudah diberi mantra, jadi tidak ada siapapun yang bisa menemukannya, kecuali mantra itu dimusnahkan." Jelas Ali. Meskipun tidak begitu mengerti, Raya mencoba untuk memahami.


"Bagaimana caranya supaya kita bisa membantunya? Apa bang Ali bisa memusnahkan mantra itu? aku kasihan pada bik Asih yang terus bersedih karena memikirkan anaknya." Raya pun berharap seandainya Ali bisa membantu Sastro.


"Maaf Ray aku gak bisa melakukannya, karena aku gak tau mantranya seperti apa. Kenapa kamu gak tanya ibunya, kenapa si Sastro meninggal?di mana pastinya tempat yang dia ingat terakhir kalinya?" Ali memastikan.


"Aku sudah pernah bertanya, kata bik Asih anaknya itu dikubur hidup-hidup dan tidak tau dimana tempatnya. Karena setelah melihat gelap, tiba-tiba saja Sastro sudah di sini karena sebelumnya hanya nama ibunya yang dia sebutkan. Saat dia ingin kembali melihat jasadnya, dia sudah tidak bisa kembali ke tempatnya". Jelas Raya.


Untuk memperjelas situasi, Ali mengajak Raya untuk menemui Sastro. Mungkin dengan bertemu langsung, Ali bisa memaksa Sastro untuk bercerita. Raya pun mengajak Ali ke tempat Sastro, yaitu pohon jambu di samping rumah nya. Ali dan Raya bergegas ke sana. Pelan pelan mereka berdua berhasil membuka pintu tanpa bersuara.


"Sastro.." panggil Raya dengan suara lirih, takut terdengar papa dan mamanya dari dalam kamar. Ali memperhatikan sekelilingnya yang sangat sunyi. Ini tengah malam, tentu saja suasana sangat sepi.

__ADS_1


Raya kembali memanggil Sastro, tapi yang dipanggil tak kunjung menampakkan diri. Hingga angin dingin tiba tiba menyeruak, Raya melipat kedua tangannya merasakan dingin yang membuat tubuhnya merinding. Dia lupa memakai jaket.


"Ada apa mencari ku lagi?" Sastro yang tiba-tiba muncul langsung membuat Raya dan Ali terjingkat.


"Sudah kubilang untuk tidak mencampuri urusanku. Aku tidak pernah mengganggumu, jadi kenapa malah kamu yang menggangguku?" ucap Sastro lagi .


"Jangan salah paham dulu, aku ke sini hanya ingin membantumu." jawab Raya meyakinkan Sastro.


"Gak usah sok pinter. Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? guru ku saja sudah menyerah!" jawab Sastro sinis.


"Jika kamu mau menceritakan semuanya, mungkin aku bisa membantumu!" Ali pun angkat suara, membuat Sastro yang tadi bersikap sinis kini penuh tanya.


"Kamu juga hantu?" tanya Sastro menatap Ali dengan heran.


"Bukan..Dia manusia sama sepertiku!" jawab Raya mendahului Ali. Ali tersenyum sinis pada Sastro. Sastro justru heran dengan Raya. Dia mulai sadar dengan keadaan. Sastro pun kembali diam.


"Bulan depan saat tengah malam bulan purnama, kamu bisa kembali ke apartemen tempat terakhir kalinya yang kamu ingat. Kamu sebut namaku, nanti aku akan bantu kamu." Ucap Ali. Sastro masih tida yakin, tapi apa salahnya dia coba. Setidaknya harapan untuk menemukan jasadnya bisa terwujud.


"Apa kamu yakin bisa menolongku?" Sastro masih ragu meskipun dia sudah berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk percaya pada Ali.


"Kamu bisa memikirkannya dulu, masih ada banyak waktu."Jelas Ali. Sastro tak banyak bicara, dia langsung menghilang. Raya dan Ali kembali masuk ke dalam rumah.


"Bang Ali beneran akan batu Sastro?"meskipun Raya percaya pada Ali, dia juga sedikit ragu dengan apa yang di bilang Ali tentang malam bulan purnama.


"Kenapa gak di coba dulu" jawab Ali.

__ADS_1


Beberapa saat setelah masuk ke dalam rumah, Raya merasakan banyak kunang kunang di sekitarnya. Pandangannya tiba tiba kabur. Dia memanggil nama Ali tapi tak ada jawaban. Suasana tiba-tiba gelap, Raya masih teriak memanggil Ali tapi seakan dia sendirian di sana.


"Sayang bangun..Kamu kenapa?" suara mama Rossi menyadarkan Raya. Seketika Raya membuka matanya dan menyadari sudah ada di kamarnya.


"Apa kamu mimpi buruk seperti dulu lagi? Ada apa dengan Ali? kenapa kamu memanggil namanya?" mama Rossi memberikan pertanyaan bertubi-tubi membuat Raya bingung mau menjawab apa.


Bik Asih memberikan segelas air putih pada Raya. Papa Sigit yang sangat khawatir juga sudah menghubungi dokter Reno agar segera ke rumahnya.


"Aku tidak apa-apa, mungkin kemarin kecapekan jadinya mimpi buruk." Raya tidak ingin membuat orang orang di dekatnya menjadi khawatir. Dia pun pamit ke kamar kecil dan menanggap seolah olah tak terjadi apa-apa.


"Apa kita ke rumah sakit saja Ray?" papa Sigit masih khawatir dengan keadaan putrinya, apalagi sahabatnya tidak kunjung datang.


"Aku tida apa-apa Pa...Papa bilang ke om Reno gak usah kesini." ucap Raya sambil berlalu.Mendengar putrinya sangat percaya diri, papa Sigit menjadi lega. Beliau segera mengirim pesan Agar dokter Reno tidak usah ke rumahnya.


Saat di dalam kamar mandi, Raya mula berpikir kembali dengan situasi semalam. Apakah semua yang dialaminya hanya mimpi? Namun rasanya adalah nyata. Bagaimana Ali bisa di rumahnya semalam? Jika memang mimpi, bagaimana semua tampak nyata?


Raya semakin bingung memikirkannya. Dia pun meminta ijin pada papanya untuk mengijinkannya tidak masuk sekolah dulu. Meskipun kemarin Raya sudah bolos, dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Kalau ketahuan, dia hanya bisa pasrah.


Papa Sigit kembali mengirim pesan kepada dokter Reno agar bisa membuatkan surat ijin untuk Raya. Mengingat kondisi putrinya masih terlihat pucat.


Raya kembali istirahat, papa Sigit pamit berangkat kerja diantar mama Rossi ke depan. Bik Asih juga kembali ke dapur.


Raya masih saja kepikiran tentang semalam. Apa karena Raya memang kangen dengan Ali, apalagi Ali sudah ke rumahnya tapi tidak bertemu dengannya. Jadi Raya terus saja memikirkannya. Raya segera membuang jauh-jauh pikiran sempitnya itu. Hingga...


"Aku mau melakukan apa yang diminta Ali semalam."

__ADS_1


"..."


__ADS_2