Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps.56(bertemu Nina)


__ADS_3

Ali segera membawa Nina ke Puskesmas bersama dengan Raya. Nina mengerang kesakitan karena perutnya terasa nyeri. Mereka berjalan menuju Puskesmas yang lokasinya lumayan jauh dari rumah Nina.


"Apa yang terjadi padamu Nina?" tanya Raya penasaran melihat banyak darah di rumah Nina tadi.


"Aku terpeleset dan jatuh. Aku sudah teriak minta tolong tapi tak ada yang mendengar. Untunglah kalian datang" Nina masih meringis menahan sakit di bagian perutnya.


" Kemana suami kamu? bukankah seharusnya dia menemanimu?" Ali pun ikut bicara.


"Tadi ada orang dari warung yang mencari suamiku. Katanya Ayah kewalahan, jadi aku mengizinkan suamiku membantu Ayah disana" Jawab Nina.


Mereka bertiga sudah tiba di Puskesmas. Ali segera membaringkan Nina agar segera mendapat penanganan dari pihak medis yang hanya beberapa orang tersebut. Sejenak Raya melupakan tujuannya mencari Nina.


Dokter Puskesmas segera memeriksa Nina. Ali pun mulai khawatir.


"Kenapa bang?" tanya Raya melihat Ali tampak gelisah.


" Sebaiknya kita pergi dari sini!" pinta Ali.


"Bagaimana dengan Nina?"Raya pun merasa heran.


"Biar mereka yang memberitahukan pada keluarganya." Ali langsung menarik Raya dan mengajaknya pergi tanpa pamit pada Nina.


🐲🐲🐲


Sementara itu saat siang hari di rumah Nina..


Bagus yaitu suami Nina langsung panik begitu tiba di rumah. Pintu rumah terbuka lebar seperti bekas buka paksa. Saat dipanggil nama istrinya tak ada sahutan sama sekali. Bagus lebih terkejut lagi saat melihat banyak darah di lantai . Bagus sangat khawatir, dia langsung kembali ke warung ayah mertuanya dengan berlari dalam keadaan bingung.


"Kamu kenapa Gus?" tanya mertua Bagus ketika sampai warung dengan wajah bercucuran keringat.

__ADS_1


" Nina yah! Nina diculik! Rumah porak-poranda dan banyak darah di lantai" kata bagus masih ngos ngosan.


Mendengar pernyataan bagus, orang tua Nina ikut panik. Siapa yang berani menculik Nina dalam keadaan hamil seperti saat ini? sementara mereka merasa tidak pernah punya musuh.


Karena warung sudah sepi, ayah Nina pun segera menutup warungnya dan segera pulang ke rumah untuk melihat keadaan bersama Bagus dan juga istrinya.


Mereka pun merasa syok saat melihat pintu rumah yang memang sengaja dibuka paksa. Ibu Nina langsung pingsan begitu melihat banyak darah di lantai.


"Ada apa ini?" Ayah Nina langsung membopong istrinya dan meletakkannya di bangku panjang di ruang tamu. Mereka tidak berbuat apa-apa dan tidak bisa berpikir apapun, hingga tiba-tiba ada petugas dari Puskesmas datang ke rumah dan mengabarkan keadaan Nina.


"Jadi Nina ada di Puskesmas?" tanya ayah Nina.


"Benar Pak.. tadi ada dua orang yang mengantar anak bapak ke Puskesmas. Untung saja belum terlambat. Cucu Bapak lahir dengan selamat" kata petugas Puskesmas.


"Anakku sudah lahir ?" Bagus pun merasa senang. Petugas Puskesmas langsung pamit setelah menyampaikan kabar tentang Nina. Ayah Nina segera membangunkan istrinya yang masih pingsan untuk mengabarkan kelahiran cucunya.


"Siapa yang sudah menolong Nina yah?" Bagus mulai berpikir. Ayah mertua bagus hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.


Nina tampak bahagia melihat putranya lahir ke dunia dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Untung saja ada Ali dan Raya yang telah menolongnya. Jika tidak Nina juga tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.


" Nina.." sapa orang tua dan suami Nina. Nina pun tersenyum dan menunjukkan putranya tanpa berkata apa-apa saking bahagianya.


"Syukurlah kamu baik-baik saja" ayah Nina pun menggendong cucunya setelah Bagus mengumandangkan Adzan ditelinga putranya.


" Kita berhutang Budi pada orang yang sudah menolong kamu" kata Bagus. Nina pun mengangguk.


" Siapa orang yang sudah menolong kamu tadi Nina?" Ibunya pun penasaran karena ternyata masih ada orang baik di kampungnya.


"Mereka Raya dan bang Ali" ucap Nina dengan hati-hati. Bagus dan kedua orangtua Nina hanya saling pandang, mereka tak menyangka mendengar nama Ali dan Raya lagi.

__ADS_1


"Maksud kamu Raya cucunya nenek Sari?" tanya Ayah Nina.


"Iya"


" Kenapa gadis itu ada di kampung ini lagi? tinggal di mana dia? bukankah rumah nenek Sari bukan miliknya lagi?" Ayah Nina pun penuh tanya. Beliau dan sebagian warga masih percaya jika kedatangan keluarga Bisri hanya akan membuat bencana di kampungnya. Padahal Kyai Arifin sudah menjelaskan jika peristiwa masa lalu itu hanya akal-akalan keluarga Hambali saja. Namun bagi ayah Nina dan beberapa warga, kutukan itu masih berlaku.


"Mungkin Raya tinggal di rumah Kyai Arifin. Bukankah beberapa waktu lalu Bu Rossi tinggal di sana karena mengalami depresi?"ucap Nina. Orang tua Nina semakin heran. Mereka bahkan tidak tahu keberadaan mama Rosy yang menginap di rumah Kyai Arifin beberapa waktu yang lalu.


" Ayah bersikaplah netral, jangan selalu mencurigai bang Ali. Bang Ali itu hanya korban dari keserakahan keluarganya. Buktinya sekarang Bang Ali baik-baik saja dengan Raya. Bukankah seharusnya mereka berdua saling bermusuhan?" jelas Nina.


Ayah Nina tampak berpikir. Mungkin memang tak seharusnya mereka menyalahkan Ali. Tapi kepergian Tata berkaitan dengan Ali, bahkan Tata dinyatakan hilang saat bersama Ali. Hal itu yang membuat orang tua Nina tidak terima dan selalu menyalahkan Ali yang tidak bisa melindungi putrinya. Kejadian hilangnya Tata saat itu membuat orang tua nya sangat terpukul, terlebih lagi saat ditemukannya Tata satu Minggu berikutnya dalam keadaan sudah tidak bernyawa.


"Nanti kita pikirkan lagi, yang penting sekarang anak kamu sudah lahir dengan selamat. Kita harus mengadakan syukuran Bu.."


" Ya..yah" jawab Ibu Nina.


🐲🐲🐲


Sementara itu di hutan..


Ali mengajak Raya pulang ke rumahnya melalui hutan belantara. Seperti biasanya Ali tidak pernah melewati jalan kampung ketika menuju rumahnya.


"Bang..bukankah kita ingin meminjam telepon pada Nina? Kenapa kita pulang dengan tergesa-gesa?" Raya kecewa karena tujuannya bertemu Nina belum tercapai. Ali hanya diam saja tanpa menjawab.


"Bang Ali takut bertemu orangtua Nina ya?" tanya Raya lagi.


"Sudahlah! lain kali kita temui Nina lagi!" ucap Ali kemudian.


"Tapi bang.." Raya menghentikan kata-katanya karena Ali langsung pergi meninggalkannya. Raya pun berlari kecil mengejar Ali.

__ADS_1


"Oke oke! aku tidak akan banyak mengeluh" ucap Raya dengan gerakan seperti mengunci bibirnya menggunakan kedua jarinya. Ali menghentikan langkahnya dan tersenyum ke arah Raya kemudian berlalu lagi.


"Senyumanmu Bang.." batin Raya yang memegang dadanya. Raya merasakan jantungnya berdegup kencang melihat senyuman manis Ali. Raya pun mengejar Ali, karena Ali sudah semakin jauh darinya. Akhirnya mereka berdua terus bercanda dalam perjalanan ke rumah Ali. Raya tak menyangka bisa melihat senyuman Ali yang begitu lepas, setelah sebelumnya Ali tidak pernah tersenyum sama sekali.


__ADS_2