
Raya segera mengambil kunci yang disimpan bik Asih di bawah pot bunga. Mama Rossi tampak ketakutan ketika masuk ke dalam rumah.
"Mama kenapa? Mama melihat sesuatu?" Raya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun tak nampak olehnya suatu apapun. Kenapa mama Rossy ketakutan?
"Ayo ma.." papa Sigit memapah mama Rossy ke kamarnya.
"Ray..sholat berjamaah di kamar papa saja!" ucap papa Sigit pada Raya.
"Iya pa..Raya ambil mukena dulu di kamar!" Raya berlalu menuju kamarnya. Entah kenapa hari ini Raya seperti asing di rumahnya sendiri. Raya mengambil mukena miliknya dan bergegas mengambil wudhu di kamar mandi yang tak jauh dari dapur.
Saat Raya hendak ke kamar orang tuanya, tiba-tiba dia melihat sekelebat bayangan masuk ke kamar orang tuanya. Raya pun berlari mengejar bayangan itu dan langsung masuk ke kamar papanya.
"Kamu kenapa Ray?" tanya papa Sigit heran melihat Raya berlari ke arahnya.
"Ayo pa..sholat dulu!" Raya kembali mengedarkan pandangannya. Tak ada bayangan tadi yang dilihatnya. Padahal jelas sekali bayangan itu masuk ke dalam kamar.
Papa Sigit menjadi imam shalat Raya dan mama Rossi. Mama Rossy ikut sholat sambil duduk di ranjang. Setelah sholat suasana menjadi tenang. Papa Sigit menemani mama Rossy sebentar hingga tertidur.
"Ray..mari kita bicara di depan. Biarkan mama kamu istirahat."
"Iya pa.." Raya mengikuti papanya ke ruang keluarga. Papa Sigit pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya. Semua karena kutukan leluhur dari keluarga Bisri dan Hambali.
Almarhum kakeknya Raya telah menceritakan pada papa Sigit tentang semua yang terjadi pada leluhurnya. Papa Sigit sebenarnya hanya ingin menghindari kelanjutan dari kisah masa lalu tersebut, yaitu dengan menjauh dari tempat kelahirannya. Namun siapa sangka justru kisah itu mengusiknya kembali saat ini.
Selama ini papa Sigit berdiam diri dan berpura pura tidak tahu tentang semua yang terjadi. Namun siapa sangka wanita yang dipilihnya menjadi istri ternyata mempunyai kenangan yang memicu masalah masa lalunya terusik kembali. Kini papa Sigit hanya berusaha untuk melindungi keluarganya. Yaitu penerus terakhir dari keluarga Bisri.
"Apa menurut papa, Aku sudah ditakdirkan untuk melawan mereka?" Raya mulai gelisah dengan cerita leluhurnya.
"Itu hanya menurut prediksi yang digariskan. Kita hanya bisa menghindari ini semua dengan pergi sejauh jauhnya!" jawab papa Sigit.
"Papa tidak mempunyai keinginan untuk melawan mereka? keluarga Hambali sudah mengibarkan bendera perang dengan kita Pa?" Raya mencoba meyakinkan papanya jika menghindar bukanlah suatu solusi.
"Papa hanya ingin keluarga kita menikmati hidup dengan aman dan damai Ray. Tanpa pertikaian ataupun permusuhan, dengan siapapun juga. Selama ini papa selalu berusaha untuk bersikap baik dengan sesama karena hanya ingin menjaga tali silaturahim sebanyak banyaknya."Papa Sigit hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua kepada Sang Pencipta.
__ADS_1
"Dan papa juga pasrah jika keluarga kita habis di tangan paman Agus? bukankah kita sudah tidak punya keluarga lain lagi? hanya kita bertiga saja loh Pa! Jika bukan kita yang menghabisi mereka,itu artinya kita yang harus menyerahkan diri pada mereka." Raya mulai geram. Papa Sigit hanya diam.
"Menurut garis hidup hanya yang memiliki kelebihan khusus lah yang akan menang. Dan diantara kita semua hanya kamu Ray yang memiliki kelebihan itu. Entah Agus sudah tau apa belum, papa dan mama berusaha untuk tidak memberitahukannya pada siapapun." Papa Sigit menjadi gelisah.
"Apa menurut papa Raya tidak bisa berbuat sesuatu?"
"Kamu hanya seorang perempuan Ray! Papa tidak ingin terjadi sesuatu denganmu."
Raya terdiam. Menurutnya kekhawatiran papanya justru akan menjadi penghambat kekalahan dari semua yang telah dan akan terjadi.
"Aarrggghhh..."
Raya dan papa Sigit terperanjat mendengar mama Rossy berteriak di dalam kamarnya. Mereka berdua segera berlari menuju kamar melihat keadaan mama Rossy.
"Heh..siapa kamu!" bentak Raya pada suatu bayangan yang ada di dekat mama Rossy. Dan pastinya hanya Raya yang melihat karena papa Sigit tidak memiliki kelebihan itu.
Bayangan itu pun menghilang begitu Raya membentaknya. Papa Sigit segera menghampiri istrinya dan menenangkannya. Raya mencari keberadaan bayangan tersebut yang menghilang keluar jendela. Raya mengintip melalui tirai jendela dan melihat keadaan di luar kamar mamanya.
Bayangan tadi sudah berdiri di samping pohon yang ada di halaman rumah Raya dengan menghadap kamar mama Rossy. Raya memperhatikan dengan seksama wujud dari bayangan tersebut. Seperti seseorang yang pernah dikenalnya, namun Raya tidak jelas melihatnya.
"Gak jelas Pa! tapi sepertinya seseorang yang kita kenal!" jawab Raya masih melihat ke arah bayangan tadi yang masih terlihat olehnya berdiri di tempat yang sama.
Mama Rossi masih ketakutan, beliau menutup kedua matanya dan menggigil ketakutan. Papa Sigit panik tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ma..apa yang Mama lihat? atau siapa?" tanya papa Sigit.
"Ibu...itu ibu pa!" gumam mama Rossy, tapi Raya masih bisa mendengarnya. Raya terus memperhatikan bayangan itu. Namun wujudnya tidak seperti yang mamanya katakan.
"Bukan..itu bukan nenek!" ucap Raya.
"Mama jangan khawatir ya..ada kami di sini!" Papa Sigit terus menenangkan istrinya.
"Oh iya Pa..Pak Harun kemana kok belum sampai? rumah baik Asih kan tidak jauh dari sini?" tanya Raya mulai khawatir dengan pak Harun yang belum tiba di rumah setelah mengantar baik Asih pulang tadi.
__ADS_1
Papa Sigit mencoba menghubungi pak Harun dengan menelponnya, tapi ponsel pak Harun tidak aktif.
"Gak bisa dihubungi Ray!" kata papa Sigit.
"Ray..apa perlu kita kembali ke kampung dan membahasnya dengan kyai Arifin?" papa Sigit mulai gelisah. Beliau khawatir dengan keluarganya yang hanya tinggal bertiga. Raya tampak berpikir. Mungkin memang sudah seharusnya mereka mengakhiri semua kisah masa lalu keluarganya yang tiada pernah ada habisnya.
"Pekerjaan papa gimana? lagipula bukankah kita sudah tidak mempunyai tempat tinggal di sana?" Raya mengingatkan papanya jika rumah nenek Sari satu satunya sudah dihibahkan untuk kepentingan kampung.
"Kita bisa tinggal di rumah kyai Arifin. Rumah beliau kan besar?"
"Nanti kita merepotkan beliau dan keluarganya Pa.." Raya tidak ingin keluarganya membebani kyai Arifin. Meskipun kyai Arifin pasti mengijinkan, tapi Raya merasa sungkan dengan keluarga beliau.
"Kita cari cara yang lain saja!" lanjutnya.
"Kamu ada saran?" tanya papa Sigit.
Raya tampak berpikir. Sebentar lagi masa liburnya telah berakhir, Raya harus kembali ke sekolah. Lantas bagaimana dengan masalah keluarganya?
Raya mulai dilema. Apa yang harus dia lakukan?Jika dia bertekad mengurus masalah keluarganya, sudah pasti dia harus mengorbankan sekolahnya. Tapi jika dia melanjutkan sekolahnya, apa yang akan terjadi dengan keluarganya? bagaimana jika paman Agus melakukan penyerangan?
.
.
.
.
.
Apa yang kalian lakukan jika jadi Raya?
Jawab: a. ...
__ADS_1
b. ...
c. ....