
Mama Rossi akhirnya di ruqyah oleh kyai Arifin. Menurut kyai Arifin, sejak mama Rossy mengalami penyekapan di rumah paman Agus, kondisi mama Rossy menjadi hampa sehingga sangat mudah didekati makhluk dunia lain.
"Saya dan Raya merasa tertekan di kota, kyai. Kami pikir semua ada sangkut pautnya dengan Agus yang ingin meneror kami." ucap papa Sigit pada kyai Arifin.
"Sebenarnya saya juga tidak mengerti dengan keluarga Hambali. Kenapa mereka tidak mau mengakhiri pertikaian leluhurnya." Kyai Arifin merupakan warga baru di kampung tersebut. Namun berdasarkan cerita warga, akhirnya kyai Arifin tahu apa yang terjadi di kampung tersebut.
Karena lokasi kampung yang jauh dari kota, jadi tak banyak orang luar yang mau masuk ke kampung tersebut. Mungkin hanya orang berkepentingan seperti tenaga medis dan aparat negara saja yang terpaksa berkunjung ke sana.
Kegiatan warga kampung sebagian besar adalah bertani. Mereka bertahan hidup dengan hasil panen, sedangkan sebagian besar pindah ke kota mencari rejeki lain atau bahkan melanjutkan sekolah.
"Saya ingin sekali mengakhiri semuanya. Menurut kyai, apa yang harus saya lakukan?" tanya papa Sigit meminta solusi dari kyai Arifin.
"Seandainya keturunan keluarga Hambali mau berunding, mungkin semua bisa terselesaikan. Hanya saja mereka terlalu yakin dengan pendapatnya sendiri. Dulu kami warga sudah berhasil mendiskusikan semua dengan Pak Arman, bapaknya Ali. Beliau bersedia untuk tidak melanjutkan dendam keluarganya, tapi saudara saudaranya yang tidak menyetujui. Bahkan kami beranggapan kematian pak Arman ada sangkut pautnya dengan saudaranya, tapi kami tidak punya bukti untuk menuntut mereka." Kyai Arifin membayangkan saat berdiskusi dengan pak Arman dan nenek Sari yang saat itu masih hidup.
"Seandainya saya menemui mereka dan ingin membahas masalah ini secara kekeluargaan, bagaimana menurut kyai?" papa Sigit ingin segera mengakhiri semuanya dan hidup dengan damai bersama keluarganya.
"Kamu mau setor nyawa langsung Git? mereka punya keyakinan ilmu hitam. Dan sepengetahuan saya, kematian keluarga kamu adalah kemenangan bagi mereka." jelas kyai Arifin yang tidak setuju dengan keinginan papa Sigit.
Papa Sigit kembali dilema. Beliau tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi keluarga Hambali yang masih hidup, kecuali Ali.
"Ali? bagaimana dengan Ali, kyai?" tanya papa Sigit tiba tiba ingat jika Ali yang telah menjaga ibunya saat masih hidup.
"Tidak bisa! Ali suka pada putrimu. Ketiga pamannya pasti akan memanfaatkan nya. Selama ini Ali memendamnya karena tidak ingin pamannya menyakiti Raya." jelas kyai Arifin.
"Sebaik itukah?" papa Sigit tidak percaya.
__ADS_1
"Memangnya menurutmu kejadian hilangnya Raya waktu itu karena apa?" kyai Arifin mengingatkan papa Sigit pada kejadian hilangnya Raya sampai dua kali. Dan Ali lah yang menyelamatkannya. Papa Sigit mengerti, Ali memang tidak seperti pamannya yang selalu ingin menghancurkan keluarganya. Jika tidak, Ali pasti sudah mendapatkan Raya sejak saat itu.
Setelah mendapatkan ruqyah dari kyai Arifin, mama Rossy sudah mulai membaik. Beliau sudah bisa diajak bicara. Mama Rossi tidak begitu ingat dengan kejadian yang dialaminya. Yang beliau ingat hanyalah penampakan mirip seseorang yang dia kenal dan itu selalu berubah ubah. Sosok penampakan itu selalu mengajak mama Rossy agar ikut dengannya. Namun mama Rossy menolak, tapi tidak bisa mengatakannya. Mama Rossi hanya bisa teriak ketakutan. Dan anehnya, penampakan itu selalu menghilang saat Raya datang.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya papa Sigit.
"Aku merasa sedikit tenang, rasanya damai sekali tinggal di sini. " jawab Mama Rossi.
Papa Sigit dan dokter Reno saling pandang, begitu juga dengan kyai Arifin dan istrinya.
"Bagaimana kalau Rossy tinggal di sini saja untuk beberapa waktu?" ucap istri kyai Arifin. Kyai Arifin menyetujui usul istrinya. Papa Sigit tampak berpikir. Apa mungkin membiarkan istrinya tinggal di kampung ini lagi?
"Gapapa Got, ada kami yang menjaganya. Kamu dan temanmu kembali saja ke kota." ucap kyai Arifin.
"Baiklah kalau begitu, besok pagi kami berdua akan kembali ke kota. Saya titip Rossi kyai!" papa Sigit mempercayai jika kyai Arifin pasti bisa melindungi istrinya. Mungkin dengan tinggal di sini bersama keluarga kyai Arifin bisa memulihkan kesehatan istrinya. Toh Agus pasti tidak berani macam-macam dengan kyai Arifin. Pikir papa Sigit.
Papa Sigit dan dokter Reno pamit kembali ke kota. Papa Sigit merasa lega dengan keadaan istrinya. Semoga semua akan baik-baik saja.
"Kamu istirahat di sini dulu beberapa hari, Minggu depan aku akan menjemputmu!" papa Sigit memeluk dan mencium kening istrinya sebagai tanda perpisahan. Papa Sigit yakin istrinya akan aman bersama keluarga kyai Arifin.
" Iya..kamu hati hati di jalan. Jaga Raya baik baik."
Meskipun kepikiran dengan Raya, mama Rossi tetap ingin menenangkan pikiran nya di kampung. Mama Rossi kini sebatang kara. Setelah keluarganya meninggal karena kecelakaan, kini hanya suami dan anak perempuan yang dia miliki. Jika berpisah seperti ini,mama Rossy merasa telah hidup sendiri.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Sementara itu di kota...
Raya, Manda dan Lily pergi ke toko buku langganan mereka. Banyak tugas sekolah yang membuat mereka harus mencari banyak buku referensi.
"Kalian lihat perempuan itu, genit sekali. Dasar Tidak tau malu! Ada banyak pengawal yang mengelilingi, tapi dengan cueknya manja pada lelaki itu." kata Lily merasa tidak suka dengan pemandangan di depannya. Raya dan Manda spontan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Lily.
Raya yang tidak peduli hanya melihatnya sekilas dan kembali memilih milih buku. Manda yang merasa kenal dengan lelaki tersebut langsung menajamkan penglihatannya.
"Sepertinya aku pernah kenal dengan lelaki itu, tapi dimana ya?" Manda mencoba mengingat dimana pernah bertemu lelaki yang hanya diam dan sibuk memilih buku, sementara seorang perempuan di sampingnya terus saja berkata manja tanpa dihiraukan oleh lelaki tersebut.
Karena tidak kepikiran siapa lelaki itu, Manda kembali melihat lihat buku bersama Raya. Begitu juga dengan Lily.
"Manda?" terdengar suara seorang lelaki menyapa Manda. Karena mendengar namanya dipanggil seseorang, Manda pun berbalik dan sangat terkejut begitu melihat lelaki tersebut.
"Bang Ilham?" Akhirnya Manda menyadari jika lelaki tersebut adalah Ilham, putra kyai Arifin. Raya dan Lily yang mendengar Manda menyebut nama Ilham langsung ikut menoleh.
Ilham sangat terkejut ketika melihat Raya ada bersama Manda.
"Raya. " sapa Ilham gugup.
"Eh..bang Ilham, apa kabar?" sapa Raya balik. Terjadi kecanggungan diantara mereka berdua. Gadis yang bersama Ilham saat itu pun menjadi kesal karena merasa Ilham sangat akrab dengan Manda dan Raya.
Gadis itu pun mengajak Ilham pergi. Namun Ilham menolak dan justru meminta gadis itu untuk pulang duluan.
"Kamu duluan saja! aku masih ada urusan dengan mereka." ucap Ilham pada gadis itu. Karena merasa diabaikan oleh Ilham. Gadis itu pun pergi dengan keadaan marah. Pengawal yang bersamanya ikut bersamanya juga.
__ADS_1
"Bang Ilham..kok pacarnya diabaikan begitu saja?" ucap Manda.
"Dia bukan pacarku. Aku sendiri heran, kemana mana dia selalu mengikutiku!" jawab Ilham, tapi pandangannya tak lepas dari Raya. Raya jadi gugup dibuatnya.