Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps. 42(masih rencana)


__ADS_3

Karena merasa dibohongi, paman Agus dan paman Bayu mulai merencanakan sesuatu. Jadwal melakukan sesembahan masih pertengahan bulan depan. Mereka tersenyum karena sudah mendapatkan calon tumbalnya.


"Kamu yakin mas akan memberikan anaknya mas Herman?" paman Agus memastikan jika pemikiran kakaknya sama dengan pemikirannya.


"Menurut mu bagaimana? apakah kita akan diam saja setelah tau ini semua?" paman Bayu sangat yakin dengan keputusannya. Bukankah selama ini paman Herman lah yang mengatakan hanya anggota keluarga perempuan yang bisa dijadikan tumbal?


Paman Agus dan paman Bayu saling tersenyum. Mereka tidak perlu ambil pusing mencari korban lagi. Harapan mereka pada Ali diabaikannya terlebih dahulu. Kedua kakak beradik itu akan fokus dengan anak kakak tertuanya.


🌸🌸🌸


Raya semakin fokus dengan mamanya. Dia menjaga mamanya selalu. Bik Asih sudah kembali bekerja, pak Harun yang menghilang beberapa hari juga sudah kembali. Ternyata pak Harun mengalami kecelakaan kecil saat kembali setelah mengantar bik Asih waktu itu.


Sekarang semua telah kembali dan beraktifitas normal lagi.


Raya sudah kembali ke sekolah, meskipun konsentrasinya terbagi dengan kesehatan mamanya. Raya meminta bik Asih agar tidak meninggalkan mamanya sendirian meskipun di dalam kamar. Raya masih penasaran dengan penampakan yang selalu menghantui mamanya, namun saat melihat Raya pasti penampakan itu menghilang. Pak Harun juga diminta Raya untuk selalu waspada dan berada tidak jauh dari kamar mamanya saat dirinya pergi ke sekolah. Agar jika sewaktu-waktu mama Rossy teriak, pak Harun bisa langsung datang.


Papa Sigit juga sudah kembali bekerja. Karena masa cuti juga sudah melebihi batas, melihat kinerja papa Sigit yang kompeten, Bos nya pun memberikan sedikit sanksi yaitu potong gaji.


"Gimana Git keadaan istri kamu?" tanya dokter Reno saat papa Sigit berkunjung ke rumah sakit sepulang kerja.


"Masih sama. Rossy merasa takut di rumah sendiri." jelas papa Sigit.


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya dokter Reno lagi.


"Mungkin benar yang dikatakan Raya, aku harus kembali ke kampung untuk konsultasi dengan kyai Arifin. Bagaimana menurutmu?" dokter Reno sudah seperti saudara sendiri bagi papa Sigit. Apapun kejadian yang dialami papa Sigit pasti diceritakan pada dokter Reno.

__ADS_1


"Menurutku juga begitu. Minggu depan aku cuti, aku bisa menemanimu kesana!" ucap dokter Reno.


"Baiklah! aku akan mengajukan cuti lagi. Jika tidak bisa, mungkin aku akan mengundurkan diri." jawab papa Sigit.


"Apa kamu yakin?"


"Iya.. Keselamatan keluarga ku lebih penting!"


Setelah ngobrol panjang dan lebar dengan dokter Reno, papa Sigit pamit pulang. Papa Sigit masih tidak percaya jika keluarga Hambali masih menaruh dendam padanya. Padahal selama ini papa Sigit tidak pernah terlibat urusan dengan keluarga mereka. Namun kini papa Sigit tahu, ternyata mama Rossy juga ikut andil dengan kelanjutan dendam tersebut.


Papa Sigit sudah sangat sayang pada istri dan anaknya, jadi papa Sigit mempunyai tanggung jawab pada keluarga kecilnya itu. Apalagi ibu kandungnya sudah tidak ada. Papa Sigit sangat menyesal karena tidak menemani ibunya di saat saat terakhirnya.


"Astaghfirullah haladzim.."


Papa Sigit menghentikan laju kendaraannya dengan mendadak dan menabrak mobil di depannya yang mendadak berhenti. Karena berhenti mendadak, terjadilah kecelakaan beruntun di belakang mobilnya. Papa Sigit turun dari mobilnya begitu juga pengemudi di belakangnya. Mereka menghampiri sopir mobil yang ada di depan mobil papa Sigit.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" ucap salah seorang pria di samping papa Sigit. Tak ada yang menjawab, mereka masih bungkam dengan apa yang dilihatnya.


Mobil tersebut kosong, tak ada yang duduk di kursi kemudi. Padahal kunci mobil masih menempel di tempatnya. Ada yang sudah menelpon polisi, kini mereka hanya menunggu kedatangan polisi untuk menyelidiki kasus ini.


Papa Sigit kembali melihat mobilnya yang ringsek bagian depannya karena menghantam cukup keras, dan juga bagian belakang yang ditabrak mobil di belakangnya. Alhamdulillah papa Sigit tidak terluka. Begitu juga dengan pengemudi lain yang hanya mengalami kerusakan pada mobil masing masing.


Polisi pun tiba dan meminta keterangan kepada papa Sigit dan beberapa orang yang terlibat tabrakan beruntun. Papa Sigit yang dimintai keterangan paling banyak karena berada persis di belakang mobil tanpa pengemudi tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi pak?" tanya polisi pada papa Sigit di TKP.

__ADS_1


"Saya tidak tahu persis pak! saya melajukan mobil saya dengan kecepatan standar. Tiba-tiba saja mobil di depan saya berhenti mendadak. Saya tidak bisa menghindar jadi langsung menabrak." jawab papa Sigit.


Jawaban yang sama didapat dari pengendara mobil yang ada di belakang mobil papa Sigit. Semua memang mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar sesuai peraturan yang sudah dipasang.


Polisi melakukan penelusuran. Mencari tau kepemilikan mobil tersebut. Karena hanya ringsek sedikit, polisi menyarankan semua pemilik mobil untuk melakukan servis sendiri hingga pemilik mobil ditemukan.


"Huuu...."teriak para pengemudi yang merasa dirugikan.


Papa Sigit hanya pasrah, beliau sudah memberikan nomor teleponnya pada polisi dan akan dihubungi jika ada perkembangan selanjutnya. Kini papa Sigit melajukan mobilnya menuju rumah dan akan menservis mobilnya di bengkel dekat rumahnya.


Papa Sigit pun menelpon Raya agar menjemputnya di bengkel tak jauh dari rumahnya. Kalau jalan kaki lumayan juga, jadi papa Sigit meminta Raya menjemputnya.


"Papa dijemput pak Harun ya.." jawab Raya di telepon. Raya tidak bisa meninggalkan mamanya yang mulai histeris sejak magrib tadi. Papa Sigit pun mengerti dan menunggu pak Harun menjemputnya.


Setelah menutup teleponnya, Raya kembali memeluk mamanya.


"Mama sabar ya, ada Raya di sini. Tidak ada yang bisa mengganggu mama lagi." Raya memperhatikan sekeliling dan tidak mendapati apa yang membuat mamanya takut. Bik Asih memberikan air putih pada Raya untuk diminumkan pada mamanya.


Raya berpikir keras. Siapa sebenarnya makhluk yang selalu meneror mamanya tersebut? dan kenapa selalu menghilang jika Raya datang?


"Apa bik Asih melihat apa yang dilihat mama?" tanya Raya pada bik Asih yang sedang memijit kaki mama Rossy.


"Saya tidak meliht apa apa non! Kalau siang ibuk tidak pernah teriak seperti ini. Ibu teriaknya hanya saat maghrib saja!" jawab Bik Asih membuat Raya semakin heran. Raya pun memijit pelipisnya.


Mama Rossi sudah tidur, Raya merebahkan tubuhnya sejenak di samping mamanya sambil menunggu papanya pulang. Bik Asih berganti memijit kaki Raya, beliau sangat kasihan dengan nona mudanya yang pasti sangat kelelahan menjaga mamanya setelah pulang sekolah hingga malam tiba. Bahkan kadang kadang sampai ketiduran di samping mamanya. Dan papa Sigit tidak pernah membangunkannya.

__ADS_1


Seperti saat ini, Raya sudah terlelap di samping mamanya. Papa Sigit hanya memerintahkan bik Asih agar kembali ke kamarnya tanpa membangunkan Raya. Papa Sigit pun istirahat di sofa yang juga ada di kamar tersebut.


__ADS_2