Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 67 (kembalinya Tyo 2)


__ADS_3

Keesokan paginya, Raya sudah membuat surat ijin palsu dan dia titipkan pada temannya yang lain. Raya sengaja juga berbohong pada kedua sahabatnya. Namun sepertinya Manda dan Lily tidak curiga.


Pagi itu Tyo sudah menunggu Raya di samping sekolah. Baru satu hari Tyo masuk sekolah, tapi sudah berani bolos. Padahal dari rumah masing-masing,baik Tyo dan Raya sudah memakai seragam sekolahnya.


"Ayo!" Tyo meminta Raya segera naik di boncengan motornya. Raya menurut, Tyo segera melajukan motornya ke sebuah danau yang lumayan jauh dari kotanya.


Danau itu sungguh indah. Dulu pernah sekali mereka mampir ke tempat itu dan kini mereka ingin kembali mengenang semuanya.


"Gimana kabar kamu Tey?" Raya memberanikan diri bertanya, sudah lama dia tidak tahu keadaan Tyo. Beberapa waktu yang lalu, hanya orang asing yang Raya temui dalam wujud Tyo.


"Aku baik Rey..Banyak hal yang ku alami semenjak kejadian waktu itu."Tyo merebahkan tubuhnya di atas rumput di pinggiran danau berwarna hijau itu. Raya yang duduk di sampingnya merasa penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat dekatnya itu.


"Sebenarnya ada apa? kenapa mama kamu terus terusan menyudutkan ku, seolah olah akulah penyebab kecelakaan yang kamu alami."Raya memastikan jika apa yang dikatakan mama Tyo hanyalah bukannya saja.


"Memangnya apa yang mamaku katakan?" Tyo justru heran dengan apa yang dikatakan Raya.


"Kamu tidak ingat?"


Raya menceritakan kejadian hilangnya Tyo yang tiba-tiba. Ketika sudah kembali malah dinyatakan hilang ingatan dan mamanya telah menuduh Raya adalah penyebab dibalik kejadian tersebut. Tyo yang mendengar cerita Raya jadi terkejut. Ternyata apa yang dialami Tyo lebih dari itu.


"Memangnya apa yang terjadi padamu saat itu?" Raya meminta penjelasan dari Tyo.


"Sebenarnya saat itu..."


Pada saat itu Tyo sedang mengantarkan mamanya ke perkumpulan komunitasnya. Tyo hanya mengantarnya saja dan langsung pulang karena ada hal yang harus dikerjakan.


Saat berkendara, Tyo seakan melihat Raya di seberang jalan. Karena ingin menghampiri, Tyo langsung saja menyeberang. Menurutnya, Tyo sudah melihat kaca spion dan tidak ada kendaraan lain di belakangnya. Namun sayang, saat dia hendak menyeberang malah ada minibus dari belakang dan langsung menabraknya.

__ADS_1


Saat di rumah sakit, Tyo masih sedikit sadar. Dan dia menyebut nama Raya. Mungkin saat itu mamanya salah menafsirkan, dan mengira ada kaitannya dengan Raya.


Namun siapa sangka, ternyata saat Tyo koma, mamanya malah datang ke paranormal. Paranormal itu mengatakan jika Tyo sudah diikuti makhluk halus yang selama ini telah mengikuti teman perempuannya. Hal ini membuat mamanya Tyo semakin yakin jika penyebab kecelakaan memang berhubungan dengan Raya.


"Nanti aku tanyakan ke mama.." Tyo masih tidak percaya jika mamanya sampai berbuat seperti pada Raya. Seingatnya mamanya sangat baik dengan Raya.


"Sudahlah gak usah. Yang penting sekarang kamu sudah baikan."Raya tidak ingin memperpanjang masalah dengan mamanya Tyo.


"Bagaimana dengan keadaanmu sekarang? apa masih sering melihat makhluk halus dan berada di suatu tempat aneh?" Tyo ingin tahu setelah sebelumnya Raya selalu bercerita padanya tentang mimpi buruknya.


"Sekarang lebih dari sekedar mimpi. Aku mengalaminya langsung. Ternyata semua mimpiku itu berkaitan dengan masa laluku." terang Raya.


Tyo merasa heran, dia masih tidak mengerti dengan apa yang diceritakan Raya.


"Maksudmu makhluk halus yang ada di mimpimu itu beneran nyata?" Tyo mulai berasumsi.


"Apa rencana mu sekarang?" Tyo sangat mengkhawatirkan keadaan Raya.


"Aku harus menyelesaikan kesenjangan antara dua keluarga yang selama ini bertikai. Aku yakin mereka hanya salah paham saja. Semoga kedepannya semua bisa diatasi dengan baik. Dan bisa hidup saling rukun"


"Apa kamu yakin bisa mengendalikannya?"


"Harus di coba. Semoga saja bisa."


"Aminn.."


🌹🌹🌹

__ADS_1


"Ali..Paman ingin meminta bantuan mu. Apa kamu bisa?" Agus yang sudah tidak bisa melihat apapun hanya bisa mengandalkan Ali. Meskipun dulu dia lama tinggal di rumah yang ditempati Ali, Agus sudah lupa kondisi rumahnya. Bahkan mau ke kamar mandi saja dia tidak tau jalannya.


"Memangnya apa yang bisa saya bantu paman, Ali akan selalu menjaga paman disini." jawab Ali dengan sopan. Meskipun Agus sudah memperlakukannya dengan tidak baik sebelumnya, Ali tetap bersikap baik padanya. Baginya pamannya adalah keluarganya, bagaimanapun dia tetap harus menghormatinya.


"Bisakah kamu mengantar paman ke kota? paman ingin bisa melihat kembali." Agus sudah bertekad ingin memeriksakan matanya, mungkin saja masih bisa di obati. Jika dia tetap berada di kampung, yang ada dia tidak akan bisa berbuat apapun.


"Tapi Ali tidak pernah meninggalkan kampung, paman."


"Kamu cukup mengantarkan paman ke rumah sakit saja. Setelah itu kamu bisa kembali ke sini "


"Baiklah jika itu yang paman inginkan, Ali akan mencoba menggunakan tenaga dalam. Kapan paman akan ke kota?"


" Nanti saja menjelang pagi"


Pagi itu, Agus sudah berada di samping rumah sakit di kota. Ali mengantarnya untuk mendaftar. Karena dokter mata yang di cari belum datang, Agus masih setia menunggu di ruang depan poly mata. Agus meminta Ali untuk kembali pulang dan membiarkannya sendiri.


"Apa paman yakin aku tinggal sendiri di sini?" sepertinya Ali yang tidak yakin akan meninggalkan pamannya dalam keadaan seperti ini. Namun Agus tetap memaksanya pergi.


"Kamu pulang saja, aku sudah berada di rumah sakit. Aku pasti aman. Nanti jika aku sudah pulih aku akan mengunjungimu di rumah." Agus meyakinkan Ali jika dia akan baik baik saja.


Ali pun tidak khawatir lagi. Dia yakin jika pamannya adalah orang yang keras kepala. Ali tidak bisa menyangkal keinginannya. Ali pun meninggalkan pamannya di rumah sakit sendiri dan segera pergi dari sana.


Saat sudah keluar dari rumah sakit, Ali bukannya bergegas pulang, tiba tiba saja dia ingat dengan Raya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Raya, apa salahnya sudah sampai kita dia tidak mencarinya?


Saat sampai di tempatnya datang tadi, Ali lagi bermeditasi mencari keberadaan Raya. Setelah merasakan auranya, Ali langsung menuju tempat Raya.


Ali sudah berada di depan sebuah rumah minimalis yang sepi. Ali celingukan karena tidak ada orang di sana, apalagi jalanan di depan rumah itu juga sangat sepi.

__ADS_1


"Bang Ali?"


__ADS_2