
Siska tak kunjung mengangkat telpon dari papanya. Ponselnya terus saja bergetar. Belum juga bertemu dengan Ilham, papanya sudah menghubunginya.
"Bagaimana ini? papa telpon terus?" tanya Siska pada pengawalnya.
"Apa kita pulang saja non? sepertinya tuan akan marah besar jika nona terus mengabaikan panggilan darinya" saran pengawal Siska.
Setelah berpikir lama Siska pun memutuskan pulang tanpa menengok Ilham. Di dalam kamar masih banyak teman teman Ilham yang menjenguk, Siska pun tidak berani masuk ke dalam.
"Ya sudah kita pulang saja!" Siska dan pengawalnya memutuskan pulang. Buah tangan yang dia bawa diletakkan begitu saja di bangku depan ruang perawatan. Sangat kecewa tapi Siska tidak mau terkena amarah papanya.
"Ray..bukannya itu perempuan yang selalu ngikuti bang Ilham?" Manda memberi kode pada Raya setelah melihat Siska berlalu melewati mereka. Raya pun melirik karena dari tadi dia berjalan menunduk. Begitu juga dengan Siska memandang sinis saat melihat kedatangan Manda dan Raya.
Raya dan Manda langsung menuju kamar perawatan Ilham yang masih ramai dijenguk teman temannya. Raya dan Manda terkejut karena banyak orang di sana. Alhamdulillah nya Ilham sudah sadarkan diri.
" Hai Raya, Manda.. terimakasih ya sudah menolongku kemarin.." Ilham pun memperkenalkan Raya dan Manda kepada teman-teman nya. Raya dan Manda jadi salah tingkah sendiri karena teman Ilham semuanya laki laki.
Karena merasa tak enak hati, setelah memberikan buah tangan dan berkenalan dengan semua teman Ilham, Raya dan Manda pamitan. Setidaknya mereka berdua sudah tau keadaan Ilham yang baik baik saja.
"Sebaiknya kita ke rumah Lily saja Ray.." ajak Manda.
"Memangnya Lily sudah pulang?"
"Iya!"
Manda dan Raya memutuskan pergi ke rumah Lily karena sudah dua hari Lily ke luar kota bersama mamanya. Raya melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit. Hari sudah mulai senja, tapi Raya belum mau pulang ke rumahnya.
Tiba di rumah Lily, Raya langsung mendapat telepon dari papanya yang mengatakan jika mamanya masuk rumah sakit. Raya langsung pamit pada Manda sebelum bertemu dengan Lily. Manda memutuskan tetap tinggal dan mungkin akan menginap di rumah Lily malam ini.
__ADS_1
"Kok sendiri? bukankah kamu datang dengan Raya?" Lily celingukan mencari keberadaan Raya setelah tadi sempat mendengar suara mobil Raya berhenti di depan rumahnya.
"Raya langsung ke rumah sakit. Tadi papanya telpon kalau Tante Rossi dilarikan ke rumah sakit." Manda segera ke dapur rumah Lily untuk mengambil minum. Begitulah persahabatan mereka yang sudah seperti keluarga sendiri.
"Bagaimana keadaan bang Ilham? apa benar kecelakaan yang dialaminya karena ulah seseorang?" Lily menjadi penasaran dengan kabar mengenai Ilham setelah mendengar cerita dari Raya melalui telepon.
"Belum jelas. Namun ayah bang Ilham sedang menyelidikinya. Semua mulus tanpa bukti dan seolah-olah seperti kecelakaan biasa." Jelas Manda saat dia dan Lily sudah berada di kamar.
πππ
Sementara itu..
Raya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang ditunjuk papanya. Raya segera menemui resepsionis untuk menanyakan ruang perawatan mamanya karena ponsel papanya tidak bisa dihubungi.
Raya sangat terkejut setelah tau jika tidak ada pasien atas nama mamanya. Padahal papanya sudah jelas memberikan alamat rumah sakit tempat mamanya dilarikan tadi. Raya tidak panik, dia pun mencoba menelpon papanya sekali lagi namun tetap tidak aktif.
"Tolong panggilkan papa bik.."
"Baik non.."
Raya saling ngobrol dengan papa Sigit di telepon. Setelah banyak mengobrol, Raya menjadi lega karena mama Rossy baik baik saja. Namun Raya masih penasaran, siapa yang menelponnya menggunakan ponsel papanya. Karena papa Sigit bilang jika beliau meletakkan ponselnya di kamar karena habis baterai.
"Pulang segera sayang, dan hati hati di jalan. Ini sudah larut."
"Iya pa.."
Raya kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit karena memang mamanya tidak ada di sana. Sepanjang jalan Raya terus konsentrasi dengan mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa jalanan menuju rumah jadi panjang seperti ini? mana sepi lagi?"
Jalan yang dilalui Raya adalah jalan ramai yang biasa dilalui kendaraan. Namun malam ini terlihat sepi oleh Raya. Padahal hari belum begitu larut. Raya terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia tau jika jalanan sepi maka itulah yang tidak aman untuk ngebut.
Sudah dua jam Raya berkendara tapi belum juga sampai rumah. Padahal dari rumah sakit yang dia kunjungi tadi harusnya hanya 30 menit bisa sampai rumahnya. Namun kini?
Raya menghentikan laju kendaraannya dan parkir di pinggir jalan yang masih sepi. Dia mengamati tempatnya berhenti dan melihat sekeliling. Raya berada tak jauh dari rumah sakit tadi. Bahkan logo rumah sakit yang dia datangi tadi masih terlihat jelas dari kaca spion. Raya menarik nafasnya dalam-dalam.
"Jadi dari tadi aku hanya berkendara di sini sini saja?"
Raya kembali mengamati keadaan lalu lintas yang masih sepi. Dia merasa aneh dengan keadaan ini. Raya merasa terjebak saat ini. Tiba-tiba Raya ingat dengan kedua sahabatnya itu. Raya mulai menelpon mereka namun tak ada satupun yang menjawab. Begitu pula dengan telpon rumah yang tadi sempat dihubunginya, sekarang tidak tersambung.
Fix..Raya sendiri.
Raya berdoa dari balik kemudi. Meminta pertolongan Sang khalik agar tetap melindunginya dari marabahaya. Samar Raya melihat seseorang melintas di depan mobilnya.
"Bang Ali? apa yang dia lakukan di sini? Tidak mungkin! aku pasti berhalusinasi. Bang Ali tidak mungkin ke kota ini!"
Raya meyakinkan dirinya sendiri jika itu pasti bukanlah Ali. Karena Ali pernah bilang padanya jika dia tidak akan pernah meninggalkan kampung halamannya. Lalu siapa yang dilihat Raya?
Raya semakin penasaran. Meskipun dia merasa aneh dengan kehadiran Ali, tapi Raya tetap ingin tau siapa lelaki yang mirip Ali itu. Raya keluar dari mobilnya dan mengikuti kemana Ali pergi. Dengan jarak pandang yang tidak terlalu jauh, Raya masih bisa membuntuti Ali.
Tak lama berselang, Ali sudah berada di sebuah gubuk tua yang ada di hutan belantara. Raya baru menyadari jika semua yang dialaminya sangat aneh. Tadi dia di jalanan kota dan sekarang sudah ada di hutan belantara. Hutan mana yang dia datangi?
"Astaghfirullah...saking kepo nya aku sampai lupa membawa tas ku!" Raya meraba sakunya yang hanya ada kunci mobil. Ponsel pun dia tinggal di dalam mobilnya.
Raya menengok ke belakang dan sudah tidak mengenali jalan yang dia lalui tadi. Raya semakin bingung saat melihat gubug yang didatangi Ali tadi sudah tidak ada di depan matanya. Raya tersesat.
__ADS_1