Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps 125 (gelap)


__ADS_3

"Gak nyangka ya.. sekarang kita bisa jadi saudara. Semoga kedepannya kita selalu dirahmati oleh Allah SWT dan persaudaraan kita tidak akan pernah terpisahkan apapun yang terjadi." Raya, Lily dan Siska saling bercengkerama menikmati suasana sore hari yang nyaman dan indah di taman depan apartemen.


"Wah wah..jadi gitu ya.. Mentang-mentang sudah jadi saudara, lupa deh denganku yang jauh dari sana.." Manda yang sudah lama tidak bertemu pun akhirnya datang untuk melepas kangen.


"Pindah kesini donk, biar kita bisa sama-sama terus "cerca Lily.


"Pingin sebenarnya, tapi gak boleh sama orangtuaku..Gimana donk?" Manda merasa kesepian setelah jauh dari kedua sahabat baiknya itu.


Ketika sedang asik mengobrol dan bercanda, tiba-tiba saja suasana hangat di sore hari berubah menjadi gelap. Gumpalan awan hitam pun datang membuat birunya langit menjadi gelap. Raya dan ketiga sahabatnya langsung bergegas kembali ke apartemen. Ternyata tak hanya mereka berempat yang merasakan adanya keanehan dengan suasana sore hari itu. Meskipun sudah berteduh, orang orang tetap mengawasi gelapnya hari yang tiba-tiba itu, padahal waktu masih menunjukkan jam empat sore.


Karena orang orang yang penasaran masih berdiri di depan apartemen, Raya dan teman temannya ikut penasaran. Mereka tidak jadi masuk kedalam apartemen, melainkan bergabung dengan semua orang yang ada disana. Angin kencang mulai bertiup menggoyangkan pepohohan yang berjajar rapi di pinggir jalan.


"Apa itu? bukankah itu angin p*t**g beliung?"Lily langsung menunjuk ke arah pusaran angin kencang yang mengarah ke tempat mereka berdiri. Tentu saja semua yang melihat jadi kalang kabut karena angin tersebut seperti telah menargetkan mereka.


"Ray..Lakukan sesuatu" Siska langsung merangkul lengan Raya karena takut.


"Kita ke samping bangunan ini saja!" Raya pun mengambil keputusan dan bersiap berlari. Manda dan Lily langsung bergandengan tangan dengan Raya dan mereka berlari mencari perlindungan.


Namun belum juga sampai tempat tujuan, mereka berempat merasa seakan ada yang tiba-tiba menarik tangan mereka. Karena gelap, mereka tidak bisa melihat apapun. Dalam sekejap suasana menjadi sunyi. Tak terasa hembusan angin sedikitpun yang menerpa kulit. Raya berusaha melihat dalam kegelapan tetapi tidak ada pencerahan.


"Ray..Lily.. Siska..Kalian dimana?" Manda yang juga tidak bisa melihat apapun, memberanikan diri untuk bersuara mencari teman temannya, tetapi tidak ada yang menyahut.


Dalam gelap Manda hanya bisa merangkak dan dia menemukan tubuh seseorang tergeletak di depannya. Manda memberanikan diri meraba tubuh tersebut dan mengguncangnya sambil memanggil nama teman temannya. Raya yang mendengar suara Manda memanggil namanya langsung menjawab tetapi dia merasa telah dibatasi oleh dinding.


"Ray..kamu dimana? Lalu siapa yang di depanku ini?" Manda langsung melanjutkan percakapannya setelah mendengar respon dari Raya.

__ADS_1


"Aku di balik dinding. Cepat bangunkan dia, mungkin saja Lily atau Siska." ucap Raya dengan suara lantang. Manda masih terus mengguncang tubuh seseorang di depannya tersebut dengan memaksakan pandangannya yang gelap itu.


Lama Manda berusaha membangunkan seseorang di hadapannya yang tak juga merespon itu, Raya merasakan ada dua tangan yang memegang bahunya tanpa bersuara.


"Siapa kamu?" teriak Raya.


"Kamu kenapa Ray?" Manda jadi khawatir mendengar teriakan Raya tetapi Raya tidak menjawabnya dan suasana kembali sunyi. Manda terus memanggil Raya tetapi tidak ada sahutan lagi. Manda pun semakin ketakutan dan mulai menangis.


🪦🪦🪦


Di sebuah ruangan yang hangat, cahaya menyilaukan membuat Raya harus kembali menutup mata dengan kedua tangannya. Setelah berada di tempat yang gelap tiba-tiba saja berubah menjadi terang, tentu saja menyilaukan mata indah Raya. Raya membuka matanya perlahan, satu persatu barang yang ada di hadapannya dilihat dengan seksama. Hingga pandangannya mengarah pada sosok lelaki tampan idaman para wanita.


"Kamu?" Raya langsung pingsan begitu mengetahui siapa yang sudah berdiri tak jauh darinya itu.


"Yang mulia kenapa dengannya?" pangeran kedua langsung heran melihat Raya yang tiba-tiba pingsan.


"Maaf yang mulia, hamba hanya penasaran. Kenapa yang mulia tidak membawa permaisuri? malah membawa wanita cantik ini?" pangeran kedua pun mengutarakan rasa penasarannya.


"Jadi menurutmu dia memang cantik kan?" ucapan sang raja membuat pangeran kedua mengerti dan segera pamit kembali ke kamarnya meninggalkan sang raja yang menggendong Raya untuk dipindahkan ke tempat tidur.


Di kamar lainnya, Lily yang terbangun dari pingsannya menjadi heran dengan suasana di hadapannya. Dia sangat asing dengan tempat tersebut.


"Dimana ini? apa yang terjadi denganku?"


"Kamu sudah sadar? minumlah ini" pangeran kedua memberikan segelas air pada Lily tetapi langsung ditolak oleh Lily.

__ADS_1


"Kamu siapa? kenapa aku ada disini? dimana teman temanku?" Lily berusaha menjauhi pangeran kedua meskipun dia sedikit merasa takjub melihat ketampanan pria di hadapannya itu.


"Istriku..Apa kamu sudah melupakanku?" tanya pangeran kedua.


"Istri? apa maksudmu?" Lily semakin takut dan semakin mundur mengubah posisi duduknya sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Namun dari pernyataan pria tampan di depannya itu, Lily langsung teringat dengan pangeran kedua yang menjadi suaminya di kerajaan iblis berdasarkan cerita dari Raya dan Manda sebelumnya.


"Jadi ini suamiku di alam lain? gantengnya.." batin Lily mengungkapkan kekagumannya. Namun siapa sangka apa yang diucapkan Lily dalam hati bisa didengar oleh pangeran kedua. Sehingga membuat pangeran kedua tersenyum membuat wajahnya semakin terlihat tampan bagi Lily.


Namun seketika Lily tersadar dengan apa yang sudah dibayangkannya. Lily langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius lagi.


"Cepat katakan dimana teman temanku!" bentak Lily membuat pangeran kedua yang tersenyum merubah wajahnya menjadi muka serius.


"Maafkan aku, aku tidak melihat siapapun kecuali kamu." pangeran kedua memasang wajah tak bersalahnya membuat Lily semakin tak enak hati, tetapi langsung ditepiskannya kembali.


"Kamu bohong kan?" ucap Lily tak percaya.


"Aku tidak bohong. Aku memang tidak melihat siapapun kecuali kamu yang sedang pingsan, maka dari itu aku membawamu kesini. Aku sangat senang sekali bisa bertemu kembali dengan mu. Aku pikir kita sudah tidak bisa bertemu kembali."


Lily semakin iba mendengar ucapan pangeran kedua. Seketika jantungnya berdegup kencang karena semakin tertarik dengan ketampanan pria di depannya itu.


"Aku ingin istirahat, boleh?" Lily tidak ingin terus terusan berhadapan dengan pria yang mengaku suaminya itu. Lily tidak bisa mengendalikan hatinya , apalagi melihat pria tampan di depannya.


"Baiklah! Kamu istirahat saja. Jika butuh sesuatu, kamu bisa mencariku. Aku ada di ruangan sebelah." pangeran kedua langsung pergi meninggalkan Lily membuat Lily bernapas lega.

__ADS_1


Setelah kepergian pangeran kedua, Lily langsung melompat lompat kegirangan. Meskipun tidak mengingat apapun jika dia pernah berada di tempat tersebut, tetapi setelah melihat wajah tampan pangeran kedua membuat Lily semakin yakin jika pangeran kedua sangat menginginkannya. Setelah di dunia nyata Lily merasa jauh banget dari yang namanya pria tampan, kini Lily sangat bahagia karena ada pria ganteng yang menginginkannya.


"Raya!"


__ADS_2