
"Jika kalian ingin kesana lagi, aku hanya bisa mendoakan kalian dari sini saja!" ucap Manda.
"Hah.."Siska dan Lily sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan Manda. Sejenak Lily menemukan sebuah ide.
"Kenapa kita tidak kembali kesana saja untuk mencari Raya? bukankah kita sudah tahu tempatnya?" Lily tersenyum senang. Kenapa juga saat itu dia memilih pulang dan meninggalkan Raya sendiri di dunia iblis? Mereka adalah teman, sudah seharusnya saling melindungi. Ternyata apa yang diucapkan Manda membuat Lily mempunyai ide tersebut.
"Benar juga! Kita bisa mencari Raya di dunia iblis." Siska penuh semangat seperti Lily.
"Sudah kubilang aku tidak ingin kembali kesana. Jika kalian ingin pergi, pergi saja sendiri. Jangan ajak aku!" Manda langsung menutup kepalanya dengan bantal.
Lily dan Siska langsung menyusun rencana untuk kembali ke kerajaan iblis. Anggap saja kepulangan mereka adalah mengantar Manda yang penakut. Lily dan Siska sudah sepakat jika besok malam mereka berdua akan kembali ke kerajaan iblis untuk mencari Raya. Dan malam ini mereka memutuskan untuk istirahat sejenak.
Keesokan harinya...
Pagi pagi sekali Manda sudah pamit pulang dan diantar oleh pak Harun. Manda merasa syok setelah papa Sigit bilang padanya jika kepergian mereka ke dunia iblis sudah berlalu selama satu bulan. Mekipun papa Sigit sudah bilang pada orangtuanya, Manda masih merasa khawatir jika bertemu orangtuanya nanti.
Pak Harun hanya mengantar Manda sampai depan rumah karena ternyata ibunya Manda sudah menunggunya. Pak Harun langsung pamit pulang.
Manda takut menghadapi ibunya tetapi siapa sangka sang ibu justru langsung menangis melihat kedatangan putrinya tersebut.
"Maafin Manda Bu.." Manda langsung bersujud di kaki ibunya. Sang ibu tak berkata-kata dan langsung membawa Manda masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di rumah Raya..
Lily dan Siska sudah menyiapkan keperluannya. Bukan baju dan perlengkapan piknik yang akan dibawa, melainkan semua peralatan sholat dan juga Al Qur'an.
"Yakin..hanya ini yang kita bawa kesana?" Siska tak habis pikir melihat barang bawaan Lily. Apalagi Lily melarang Siska saat akan memasukkan beberapa stel baju.
"Kita bukan kemping disana nanti, tapi menemukan Raya. Kalau mau ganti baju, tinggal ambil kain disana saja. Sepertinya dari bahan sutra, kan bagus kalau bisa dibawa kesini. Siapa tahu bisa dijual dengan harga mahal. Lagipula kamu mau kalau nanti papa sama Mama mencurigai kita?" Lily menjelaskan panjang kali lebar pada Siska. Siska hanya manggut-manggut tanda mengerti.
Siska kembali mengosongkan tasnya. Kali ini dia hanya membawa tas kecil yang berisi ponsel dan dompet.
"Kamu tidak jadi bawa ransel?" tanya Lily heran.
"Memangnya apa yang aku masukkan ke dalam ransel nanti? bukannya semua sudah masuk ke dalam tas kamu?" tunjuk Siska pada ransel di tangan Lily. Lily pun tersenyum kecut melihat ransel di tangannya yang berisi mukena dan Al-Qur'an.
Lily dan Siska merasa ada peluang buat mereka. Tanpa pamitan pada bik Ijah, mereka langsung keluar apartemen membawa barang bawaannya. Karena hutan terlarang jauh berada di pinggiran kota, Lily sudah mengeluarkan uang yang ad di celengannya begitu juga dengan Siska. Mereka membutuhkan uang untuk ongkos taksi menuju hutan terlarang.
Semua berjalan lancar, hingga mereka berada tepat di pinggiran hutan tempat terakhir mereka terselamatkan. Meskipun supir taksi merasa heran menurunkan mereka disana, supir itu tak berani tanya. Baginya upah yang dia dapat sudah lebih dari perkiraan karena Lily menambahkan ongkos lagi dan berpesan agar supir tidak menceritakan kejadian saat ini kepada siapapun. Sopir itu mengerti dan langsung pergi meninggalkan Siska dan Lily.
Suasana disana memang sangat sepi dan hampir tak ada yang melintas. Lily masih menghafal tempat tersebut setelah sebelumnya dia meninggalkan tanda disana tanpa disadari Siska dan Manda ketika itu.
"Kapan kamu meninggalkan tanda tersebut?" tanya Siska saat melihat Lily memperhatikan tanda yang ada di sebuah pohon. Lily hanya tersenyum tanpa menjawab dan langsung masuk ke dalam hutan tanpa menghiraukan Siska.
__ADS_1
"Tunggu aku Ly..." Siska tergesa berlari menyusul Lily.
Sesuai dengan apa yang diperkirakan, Lily dan Siska tiba-tiba saja sudah berada di gerbang perbatasan dunia iblis. Lily memperhatikan sekelilingnya karena merasa aneh, semudah itu mereka bisa sampai di depan gerbang perbatasan dunia manusia dan dunia iblis.
"Kamu merasa aneh gak sih? kita sampai disini dengan lancar gitu?" Lily kembali memeriksa tanda di pohon yang ada di samping gerbang perbatasan.
"Bukannya ini semua berkat tanda yang kamu tinggalkan sebelumnya." ejek Siska merasa Lily sangat sombong karena bisa membuka jalan. Lily kembali tersenyum malu.
Siska dan Lily langsung memasuki gerbang perbatasan beda dunia itu. Sungguh memang sudah beda dunia, hawanya pun langsung berubah. Lily dan Siska sudah mengenakan jaket tebal karena sebelumnya mereka menggigil kedinginan. Siska menyibak ilalang yang setinggi dirinya. Kini mereka tidak tahu jalan di dunia iblis karena Lily baru teringat meninggalkan tanda saat sudah di dunia manusia. Sekarang Siska hanya mengandalkan intuisinya.
Setelah berjalan jauh ke dalam hutan, mereka berdua menemukan hutan bambu tanpa ilalang. Cukup bersih seperti telah terawat. Namun tak jauh dari tempat mereka berdiri, Lily dan Siska dikejutkan oleh banyaknya binatang buas yang berkumpul seakan sedang menikmati hasil buruan. Siska yang merasa akrab dengan mereka berusaha mendekat meskipun sangat takut. Lily menggandeng Siska dan ikut takut melihat banyaknya binatang buas yang besar besar itu.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Siska membuyarkan binatang buas yang sedang berkerumun. Melihat kehadiran Siska, tentu saja semua binatang itu langsung memberi hormat.
Namun yang membuat Siska dan Lily sangat terkejut adalah saat melihat dua orang lelaki yang tadinya dikerumuni oleh binatang buas tersebut.
"Bang Ilham..Bang Ali?" Siska dan Lily langsung kompak memanggil nama kedua pria tersebut.
"Mereka kerabatku. Jangan diganggu! Lepaskan mereka!" perintah Siska. Tanpa diduga, semua binatang itu langsung membubarkan diri setelah ketuanya memberi perintah.
Untung saja Siska dan Lily datang tepat pada waktunya. Jika tidak, mungkin Ali dan Ilham sudah tinggal tulangnya saja. Tubuh Ali dan Ilham hampir terkoyak tetapi masih lengkap. Lily langsung mengeluarkan kotak P3K nya yang dia bawa.
__ADS_1
"Kamu bawa itu juga?" lagi lagi Siska merasa heran dengan Lily.
"Untuk jaga-jaga!" jawab Lily santai sambil mengobati luka di tubuh Ali. Tanpa banyak tanya lagi Siska juga membantu Ilham membersihkan luka di tangan dan kakinya.