
Dengan mengantongi laporan dari bik asih, para polisi langsung melakukan penggerebekan di tempat tinggal Bayu dan Agus. Namun sayang..saat mereka sudah sampai sana , rumah itu telah kosong.
"Ibu yakin ini tempat tinggal pelaku?" tanya polisi memastikannya pada bik Asih.
"Memang disini alamat yang dibilang anak saya." jawab bik asih apa adanya.
"Bagaimana jika bik Asih tanya lagi pada anak bibik itu.." pinta komandan polisi yang memimpin jalannya penggerebekan.
"Maaf..semalam putra saya sudah berpamitan dan tidak akan berurusan dengan dunia ini lagi katanya." jawab bik Asih membuat polisi dan yang lainnya tercengang.
"Memang semalam putra bik Asih berpamitan kembali ke alamnya tetapi dia tetap meminta pelaku kejahatan terhadap nya harus diusut tuntas." papa Sigit membantu menjelaskan situasi karena melihat bik Asih semakin gugup.
Polisi mengerti dan melakukan penyelidikan lagi. Rumah itu memang kosong dan sepertinya hanya dijadikan sebagai tempat tinggal sementara oleh pelaku.
Namun berdasarkan tetangga sebelah, Bayu dan Agus pernah cerita tentang kepindahannya dan rumah baru yang akan mereka tempati. Karena merasa kenal cukup baik, mereka juga pernah mengabadikan pertemanan mereka dalam sebuah foto.
"Apakah mereka yang anda cari?" wanita itu menyerahkan foto kebersamaan nya dengan Bayu dan Agus kepada komandan polisi.
Komandan polisi mengamati foto tersebut dan merasa sangat asing. Namun berbeda dengan papa Sigit yang terkejut dengan foto itu.
"Anda kenal?" tanya komandan polisi kepada papa Sigit.
"Mereka..."
Papa Sigit menceritakan kepada komandan polisi apa yang terjadi dengan Bayu dan Agus. Namun papa Sigit tidak menyangka jika Sastro yang menjadi korbannya . Karena selama ini mereka hanya mencari korban perempuan saja. Mendengar pernyataan papa Sigit, wanita yang menyerahkan foto tersebut langsung bergidik ngeri.
__ADS_1
"Untung saja aku tidak jadi ikut dengannya saat itu!" ucap wanita tersebut.
"Memangnya mereka mengajak kemana?" tanya komandan polisi penasaran. Begitu juga dengan papa Sigit.
"Yang bernama Bayu pernah mengajak saya menikah setelah tahu jika saya janda. Namun anak saya menolak karena kami kenal belum begitu lama" jelas wanita itu.
Papa Sigit tidak menceritakan secara detailnya tentang siapa Bayu dan Agus sebenarnya. Beliau hanya menyampaikan jika Bayu dan Agus mencari tumbal untuk kekayaan. Itu menurut keyakinan papa Sigit setelah bertemu dengan Herman sebelumnya. Jika Bayu dan Agus tertangkap, bukankah berarti Herman juga akan terlibat?
" Apakah ini adalah cerita akhir dari kalian? Kebenaran pasti akan terungkap. Sudah sepantasnya kalian mendapatkan balasan seperti ini. Allah tidak akan membiarkan orang musyrik seperti kalian bisa terus berjaya. Aku hanya akan diam menyaksikan keterpurukan kalian!!" papa Sigit tersenyum menyeringai.
Berdasarkan informasi dari tetangga, polisi dan jajarannya langsung menuju TKP. Dan tidak butuh waktu banyak, mereka langsung bisa menangkap Bayu dan Agus.
Bayu dan Agus sangat terkejut saat para polisi menangkap mereka. Saat itu Bayu dan Agus memang ada di rumah dan tidak kemana-mana. Meskipun mereka berdua memberontak, polisi tetap memborgol tangan mereka dan membawanya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
"Tidak mungkin! Dia kan sudah mati!" teriak Agus spontan. Begitu juga dengan Bayu yang terperangah. Bagaimana mungkin orang yang sudah Meti bisa membuat laporan? Mereka berdua sangat tidak menyadari dengan pertanyaan yang menjebak mereka.
Pernyataan Agus tentu saja membuat polisi terheran. Bagaimana bisa Agus bilang jika yang ada di foto sudah meninggal? Apakah dia kenal? Dari situlah polisi semakin yakin jika mereka memang ada hubungannya dengan kematian Sastro.
Hingga berulang kali polisi terus mencerca berbagai pertanyaan kepada mereka. Bayu menyadari telah terjadi kesalahan pada nya dan juga Agus. Bayu pun membisikkan sesuatu pada adiknya itu. Agus mengerti dan menyerahkan semuanya pada polisi.
Setelah mengakui kejahatannya, Bayu dan Agus langsung dimasukkan ke dalam bui dan menunggu proses sidang.
"Mas..apa kita akan berakhir disini? Apakah kita akan dihukum mati?" Agus dengan begitu polosnya menjadi takut dengan takdir hidupnya. Sedangkan Bayu masih sangat santai meskipun saat ini mereka ada dibalik jeruji besi.
"Kamu tenang saja, proses persidangan tidak mungkin akan terjadi begitu cepat. Kita masih bisa pergi dari sini sebelum disidang. Jika memang kita berakhir disini, kita bisa melemparkan kesalahan kita pada mas Herman." Bayu sudah mendapatkan banyak ide untuk bisa menyelamatkan diri tetapi jika harus berada di penjara selamanya, maka seorang kakak yang sudah mempermainkannya harus ikut juga dengan mereka.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Kakaknya, Agus menjadi semangat kembali. Awalnya kan memang karena kakak pertamanya. Apalagi kasus kematian Sastro juga saat mereka berdua masih ada dibawah pimpinan kakaknya sendiri yang sudah memanfaatkannya.
Bayu meminta Agus agar cepat istirahat. Masih banyak waktu untuk mereka merencanakan semuanya dengan baik. Bayu juga memikirkan cara keluar dari tempat tersebut dan menghilang sejauh jauhnya hingga tak ada yang mengetahui keberadaan mereka. Hingga Bayu menemukan solusi yang tepat untuk menjalani hidup selanjutnya.
"Kamu yakin akan melakukannya mas?"tanya Agus ragu.
"Memangnya apalagi yang kita butuhkan di tempat ini jika disana kita bisa melakukan apa saja!" bujuk Bayu pada adiknya. Bayu sangat tahu siapa adiknya tersebut. Selama ini Agus hanya menurut padanya saja karena sejak kecil Bayu lah yang selalu memperhatikan Agus dibanding saudara yang lainnya.
"Baiklah! Aku akan ikut kemanapun kamu pergi." ucap Agus membuat Bayu tersenyum senang. Dia yakin jika Agus tidak mungkin mau berpisah dengannya.
"Tapi mas..Menurutmu siapa yang sudah melaporkan kita?'tanya Agus penasaran karena selama ini tidak pernah ada kasus seperti itu pada mereka.
"Entahlah! Mungkin keluarganya? bukankah hantu itu sudah meneror kita beberapa waktu yang lalu? Sudahlah gak usah dipikirkan! Yang penting adalah bagaimana kita bisa keluar dari sini!" Bayu langsung mengabaikan adiknya karena sudah ngantuk dan ingin segera tidur. Agus juga sudah lelah dan tidak ingin mengganggu kakaknya jika sudah seperti ini.
🪦🪦🪦
Di tempat lain...
"Kamu belum bilang kenapa kamu tidak jadi menemui saudaramu itu? Lalu bagaimana kita tahu keberadaan anak kamu dimana?" Anton masih penasaran karena Herman tidak menceritakan apapun padanya.
"Mereka itu tertangkap polisi karena kasus pembunuhan dan saat itu aku juga terlibat. Kalau mereka terbukti bersalah, pasti aku juga akan ditangkap. Lalu bagaimana dengan putriku yang sampai saat ini belum ditemukan?" Herman semakin menyesal karena lalai dalam menjaga putri kesayangannya.
"Itu sebabnya kamu juga tidak mau melaporkan hilangnya anak kamu?" tanya Anton lagi.
"Kalau kita bisa mencarinya sendiri, buat apa laporan pada polisi? buang buang duit aja!"
__ADS_1