
Hari masih terlalu dini untuk melaporkannya pada Herman ,majikan utama. Ketua pengawal segera melakukan pemeriksaan melalui kamera pengawas.
"Kamera CCTV disini masih berfungsi kan?bagaimana penjagaan semalam sampai kelolosan seperti ini?" ketua pengawal sangat geram, tidak menyangka jika anak buahnya bisa lali dalam bekerja. Padahal sebelum merekrut pengawal, dia sudah menjelaskan tugas utamanya. Jika seperti ini keadaannya mungkin nasibnya akan menjadi neraka.
Dan benar saja.. Saat memasuki ruang pemantauan, hanya ada satu orang yang bertugas dan saat ini sedang dalam keadaan tertidur.
"Hey bangun!" teriak sang ketua pengawal dan membuat penjaga ruang pemantauan terkejut.
"Bagus ya..Bukannya bekerja malah enak enakan molor!" lanjutnya.
"Maafkan saya bos! Saya hanya sendiri disini dari pagi kemarin. Saya sungguh sangat mengantuk sekali."
"Alasan.." sang ketua langsung memukul perut penjaga tersebut hingga tersungkur.
"Cepat periksa keadaan semalam." perintah ketua pengawal.
Penjaga itu langsung berdiri dan bergegas memutar rekaman CCTV di lantai dua semalam. Tak ada sesuatu yang janggal dalam penjagaan, hingga seorang pengawal membawa selimut tebal di kedua tangannya.
"Apakah itu nona muda yang dia bawa?" tanya ketua pengawal tetapi tak ada yang menjawab.
Pengawal yang membawa selimut tebal itupun menghilang di samping rumah yang tidak terekam kamera pengawas. Kemudian penjaga itu mengarahkan layarnya pada pelayan yang pergi ke kamar lainnya bersama pengawal yang satunya.
Mereka sungguh canggung saat melihat adegan tersebut. Ternyata semua sisi ruangan di dalam rumah memang sengaja dipasang kamera CCTV, termasuk juga di setiap kamarnya kecuali kamar mandi.
Berikut bukti nona muda mereka yang dibawa pengawal yang diperankan Bayu, terekam dengan jelasnya. Namun sayang wajah Bayu dan Agus tidak terlihat jelas di layar kamera.
__ADS_1
"Mampus kita!" ketua pengawal pun merasa bersalah dan bingung harus ngomong apa sama majikannya nanti karena nona mudanya diculik seseorang yang menyamar sebagai pengawal.
Herman yang gelisah sejak semalam, pagi itu langsung pergi menuju kamar putrinya. Naluri seorang ayah ternyata bisa dirasakan Herman, itu semua karena dia sangat sayang dengan putrinya sejak masih kecil.
Semua pengawal terlihat sudah berbaris di sepanjang lorong lantai dua hingga kamar Siska. Semua tampak ketakutan tapi berusaha tetap tenang. Mereka tinggal menunggu nasib dari majikan jika tahu telah lalai dalam pekerjaan. Sang ketua pengawal pun tak berani berkata tetapi raut wajahnya memperlihatkan kecemasan.
Merasa ada yang tak beres, Herman segera berlari menuju kamar Siska. Dan betapa terkejutnya dia saat tidak mendapati anaknya disana.
"Kemana putriku?" Herman sudah mulai emosi ditambah lagi tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
"Kemana putriku?" Herman sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia langsung memukul pengawal yang berdiri tak jauh darinya. Tentu saja pengawal itu hanya diam tak melawan.
Sang ketua pengawal pun akhirnya angkat bicara. Dia menceritakan semua kejadian semalam kepada majikannya. Herman tidak terima. Ternyata sia sia baginya yang sudah mengganti semua pengawalnya yang dulu , yang juga telah lalai menjaga putrinya.
Herman segera meminta ketua pengawal mengantarnya melihat rekaman CCTV yang sudah dia pasang.
"Kemana pelayan yang menjaga putriku di dalam kamar?" Herman ingin menginterogasi pelayan tersebut untuk memastikan jika yang dimaksud olehnya adalah benar.
"Mereka masih pingsan tuan." jawab ketua pengawal.
"Bawa aku kesana!" perintah Herman.
Ketua pengawal itu membawa Herman dan diikuti beberapa pengawal lainnya. Hingga sebelum keluar rumah ada pengawal lain yang berlari menuju ke arahnya hendak memberi kabar.
"Maaf tuan, pengawal di depan gerbang bilang telah menemukan dua pengawal lain telah tewas dan di buang di parit samping rumah." lapor pengawal itu dengan napas masih ngos-ngosan.
__ADS_1
Herman meringis merasa pertahanannya tidak kuat dan sudah kalah dari kedua adiknya yang hanya bergerak tanpa pengawalan. D Ngan kondisi masih lemas, Herman mengajak anak buahnya untuk melihat pengawal itu terlebih dahulu.
Setelah memastikan keadaan pengawalnya yang telah meninggal tersebut, Herman langsung meminta ketua pengawal menghubungi polisi. Menurut Herman, karena menyangkut tindakan pembunuhan pasti polisi lebih dapat mengontrol semuanya. Apalagi ditambah kasus penculikan putrinya. Sepertinya d Ngan melaporkannya pada polisi, maka kedua adik Herman itu dapat diringkus.
Ketua pengawal segera menghubungi pihak kepolisian untuk melaporkan tindakan pembunuhan sekaligus penculikan yang ada di rumah majikannya.
Herman kembali ke rumah sambil menunggu pihak kepolisian datang. Herman dan anak buahnya segera menemui kedua pelayan yang sebelumnya sudah dibuat pingsan oleh pelaku saat kejadian hilangnya putrinya tersebut.
"Apa mereka yang kalian lihat semalam?" tanya Herman sambil memperlihatkan foto kedua adiknya tersebut.
"Benar tuan.." Dengan wajah ketakutan, mereka pun mengangguk.
"Kalian harus bersedia menjadi saksi di kepolisian nanti. Jika berani kabur maka kalian akan aku laporkan telah bersekongkol dengan pelaku." ancam Herman kepada kedua pelayan tersebut.
Masih dengan rasa takut, kedua pelayan tersebut hanya bisa mengiyakan ucapan majikannya. Mereka tidak punya pilihan lain selain tetap berpihak pada majikannya tersebut. Memangnya mereka bisa apalagi?
Hari sudah agak siang saat polisi melakukan olah TKP. Dengan bukti CCTV ditambah pengakuan kedua pelayannya, Herman pun merasa lega. Dia sangat berharap polisi dapat menemukan keberadaan kedua adiknya dan segera menangkap mereka. Kini yang ada dipikiran Herman hanyalah bagaimana cara menyelamatkan putrinya yang tengah dalam keadaan hamil.
Setelah dari kantor polisi untuk memberikan keterangan nya, Herman dan beberapa anak buahnya tidak langsung pulang. Herman sengaja pergi ke rumah Anton sang dukun yang tidak lain adalah temannya itu.
Kali ini Herman sangat bergantung pada temannya itu karena guru spiritualnya tidak bisa membantu jika menyangkut urusan keluarga. Jadi Anton lah yang kini sangat diandalkan oleh Herman untuk memberi pelajaran pada kedua adiknya tersebut.
"Aku sudah kalah cepat! Kita bahkan belum melancarkan serangan, tapi aku sudah kecolongan" Herman dengan geram menceritakan penculikan putrinya kepada Anton. Anton hanya manggut-manggut mencerna semua cerita Herman.
"Tapi kamu sudah bagus melaporkan mereka pada pihak berwajib. Biar mereka mendapat hukuman di penjara. Sekarang yang terpenting adalah keberadaan anak kamu" Anton segera melakukan ritual mencari keberadaan Siska.
__ADS_1
Perginya Siska belum terlalu lama,pasti masih bisa terdeteksi. Herman pasrah menyerahkan semuanya pada Anton sahabatnya itu. Dia hanya berharap jika putrinya dalam keadaan baik baik saja dan bisa segera kembali padanya.
"Paman...Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa ada disini bersama paman?"