
Sudah dua hari Raya tinggal di rumah Ali. Raya belum juga bisa memberi kabar kepada orangtuanya. Hingga akhirnya..
"Ayo kita ke rumah kyai Arifin" ajak Ali .
"Aku dengar beliau sudah pulang. Kamu bisa meminjam telepon beliau untuk menelpon orangtuamu" lanjutnya.
Mendengar kabar kepulangan kyai Arifin, Raya sangat senang. Dia tidak sabar ingin segera ke rumah kyai Arifin.
"Antar aku ya bang" pinta Raya pada Ali. Ali pun mengangguk dan tersenyum.
Saat itu juga Ali dan Raya bergegas ke rumah kyai Arifin. Karena sudah tidak sabar ingin segera memberi kabar kepada orangtuanya, Raya berlari kecil agar segera sampai di rumah kyai Arifin. Di tengah perjalanan, Raya dan Ali bertemu dengan Bagus yang sedang mencari kayu bakar.
Dengan sangat sungkan, Bagus memberanikan diri menyapa Ali dan Raya.
"Ali..terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan Nina. Aku berhutang Budi padamu" ucap Bagus yang langsung menghentikan perjalanan Ali dan Raya.
"Jangan sungkan. Itu sudah menjadi kewajiban semua orang." jawab Ali. Bagus hanya tersenyum tipis merasa bersalah karena selama ini telah berpikir buruk pada Ali. Tak banyak yang mereka bicarakan, Ali dan Raya segera pamit karena Raya sudah tak sabar ingin bertemu kyai Arifin untuk meminta pertolongan yaitu meminjam telepon.
Sesampainya di rumah Kyai Arifin, Raya langsung menuju pintu belakang karena di jam seperti ini biasanya Bu Hajjah ada di kebun belakang rumahnya. Dan benar saja Raya melihat Bu Hajjah sedang duduk duduk di bale bersama..
"Bang Ilham.." sapa Raya setelah mendekat.
"Eh .. Assalamualaikum..Bu Hajjah, bang Ilham.."lanjutnya.
Ali mengikuti Raya dan mengucap salam pada Bu Hajjah dan Ilham. Ilham bersikeras agar di bawa pulang karena tidak tahan dengan bau rumah sakit padahal kondisinya masih belum stabil meskipun sudah bisa diajak berkomunikasi.
Dokter mengijinkan pulang namun dengan banyak catatan medis.
Melihat keberadaan Raya yang tiba-tiba membuat Bu Hajjah dan juga Ilham sangat terkejut. Mereka heran bagaimana Raya bisa sampai ke kampung ini lagi.
"Raya..ada urusan penting kah kamu kembali ke kampung ini lagi?" tanya Bu Hajjah.
__ADS_1
"Tidak Bu Hajjah..Ada yang ingin saya sampaikan kepada kyai Arifin." jawab Raya.
Kyai Arifin yang kebetulan melihat Raya dan Ali dari jendela ikut terkejut dan penasaran kenapa Raya kembali ke kampung ini lagi. Kyai Arifin pun bergegas keluar untuk menemui Raya.
"Raya.." sapa kyai Arifin.
"Assalamualaikum kyai.."Raya menyalami tangan kyai Arifin begitu juga dengan Ali. Setelah diajak masuk ke dalam rumah dan dipersilahkan untuk duduk, Raya segera menceritakan maksud kedatangan nya ke rumah kyai Arifin begitu juga dengan apa yang sudah dialami nya hingga sampai di kampung ini lagi. Kyai Arifin mendengar kan dengan seksama begitu juga dengan Bu Hajjah dan juga Ilham.
"Jadi kamu tiba-tiba saja sudah berada di kampung ini?" tanya kyai Arifin memastikan. Raya mengangguk tanpa ragu.
"Saya kesini mau pinjam telepon untuk memberi kabar kedua orang tua saya. Mereka pasti mengkhawatirkan saya karena pergi tanpa kabar" ucap Raya.
Ilham yang saat itu membawa ponselnya langsung saja memberikan nya kepada Raya. Namun langsung dicegah oleh ibunya.
"Memangnya kamu punya nomor telepon orang tua Raya?"ucap Bu Hajjah pada Ilham dan langsung mengganti ponsel Ilham dengan ponsel beliau sendiri untuk diberikan kepada Raya. Ilham pun nyengir karena malu.
Tak banyak bicara lagi, Raya langsung melakukan panggilan telepon dengan mamanya.
Masih di kediaman papa sigit..
"Pa..Raya dimana? Bagaimana keadaannya sekarang?" mama Rossy masih menangis sendu karena belum mendapat kabar dari putrinya.
"Tenanglah ma..Serahkan semua pada polisi. Mereka pasti sudah melakukan pencarian terhadap putri kita" papa Sigit tak bisa berbuat apapun selain menenangkan istrinya yang terus menangis memikirkan putri mereka yang tidak tau dimana keberadaannya.
Saat itu Lily dan Manda pun hampir setiap hari datang ke rumah Raya untuk menghibur mama Rossy. Mereka sudah menganggap orang tua Raya seperti orang tua mereka sendiri.
"Tante yang sabar ya..Kita sama sama berdoa semoga Raya segera ditemukan.." Lily pun memeluk mama Rossy agar merasa lebih tenang.
Tak lama kemudian terdengar dering telepon dari ponsel mama Rossi. Mama Rossi pun terkejut melihat panggilan telepon dari ibu hajjah Arifin dan segera mengangkat panggilan teleponnya.
"Assalamualaikum mama.."
__ADS_1
Mama Rossi yang mengenali suara pada telepon nya langsung teriak histeris saking bahagianya.Sehingga membuat papa Sigit, Lily, dan juga Manda terkejut dan langsung memandang aneh pada mama Rossy.
"Sayang.. apakah itu kamu? dimana kamu sekarang nak?" tanya mama Rossy.
"Siapa ma? apakah Raya yang menelepon?" papa Sigit pun penasaran dengan orang yang menelpon istrinya. Mama Rossi hanya mengangguk karena masih menahan tangis.
Di telepon..
Raya menceritakan keadaan nya kepada mamanya. Mama Rossi pun tertegun tak bisa membayangkan kejadian yang menimpa putrinya tersebut. Namun mama Rossy sangat lega karena sudah tau keadaan Raya yang baik-baik saja.
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Raya di telepon, mama Rossy meminta kepada papa Sigit agar segera berangkat ke kampung halamannya untuk menjemput Raya. Tak banyak kata papa Sigit langsung meminta pak Harun untuk menyiapkan mobil. Lily dan Manda tak mau ketinggalannya, mereka turut serta untuk ikut menyusul Raya di kampung halaman nya.
" Kami juga ikut ya om.."
"Apa kalian tidak khawatir jika orang tua kalian mencari?" papa Sigit merasa senang dengan persahabatan putrinya, tapi beliau juga khawatir dengan kecemasan orang tua Lily dan Manda.
"Jangan khawatir om..kami sudah ijin kok!" kata Lily diikuti anggukan oleh Manda. Karena tidak khawatir lagi papa Sigit mengijinkan mereka berdua untuk ikut menjemput Raya..
"Kita akan menginap disana!" ucap papa Sigit.
"Iya.." Lily dan Manda mengerti. Mereka segera ke kamar Raya untuk mengemas beberapa pakaian milik Raya yang akan mereka kenakan di sana nanti.
Tak lama bersiap, papa Sigit dan keluarga langsung berangkat ke kampung dengan di sopiri pak Harun. Mereka semua sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Raya karena masih penasaran dengan cerita Raya yang tiba-tiba berada di kampung tersebut. Karena penjelasan Raya kurang bisa diterima oleh Mama Rossi di telepon tadi.
Lima jam perjalanan dari kota ke kampung halaman. Hari pun telah senja. Atas petunjuk papa Sigit, pak Harun menghentikan mobilnya di sebuah surau tak jauh dari kampung tersebut.
"Sebentar lagi adzan Maghrib, sebaiknya kita menunaikan shalat dulu dan melanjutkan perjalanan setelah nya" ucap papa Sigit dan disetujui semuanya.
Suasana sangat sepi, seperti biasanya. Apalagi saat senja seperti ini.
Brakkk...
__ADS_1
Ciiieeettttt......