
Sigit yang masih galau akhirnya pulang atas perintah kyai Arifin. Dia juga harus memikirkan Raya putrinya. Dengan langkah gontai, papa Sigit menuju rumah nenek Sari. Ternyata Raya dan yang lainnya sudah tidur di kamarnya. Papa Sigit membuka tudung saji di meja makan, Sepertinya Raya menyisakan makanan untuk beliau.
"Putriku memang berbakti." gumam papa Sigit. Padahal tadi di rumah kyai Arifin,papa Sigit sudah makan. Namun begitu melihat lauk pauk di meja makan seakan papa Sigit lupa jika perutnya sudah kekenyangan. Setelah makan, papa Sigit pun akhirnya merebahkan tubuhnya di kasur saking lelahnya.
🌸🌸🌸
Pagi harinya...
Tok tok tok..
"Om Sigit.." Manda dan Lily mengetuk pintu kamar papa Sigit dengan keras dan berulang-ulang. Mungkin karena lelahnya papa Sigit terus mengabaikan ketukan pintu tersebut.
"Om Sigit..Raya tidak ada di kamarnya!" teriak Manda, sontak membuat papa Sigit terperanjat.
"Apa?" papa Sigit langsung membuka pintu dan berlari ke kamar mereka memastikan jika Raya memang tidak ada.
"Sudah kalian cari di sekitar rumah?" papa Sigit terus bertanya sambil mencari Raya di sekitaran rumah.
"Tidak ada om, mobilnya juga sudah tidak ada!" jelas Manda.
"Raya pergi membawa mobil?" papa Sigit keluar rumah dan melihat ke halaman. Memang mobil Raya sudah tidak ada di sana.
"Raya pergi kemana?" gumam papa Sigit sambil berpikir kemana Raya membawa mobilnya.
"Coba kalian telfon nomornya! Saya akan ke rumah kyai Arifin!" papa Sigit kembali ke kamar guna mengganti baju kemudian langsung menuju rumah kyai Arifin.
"Ponselnya gak aktif Om.."teriak Manda. Namun sepertinya papa Sigit tidak menghiraukannya.
"Ya...dikacangin!" gerutu Manda.
"Hussstt!"
__ADS_1
Lily dan Manda masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya. Mereka terdiam dan berpikir, apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Raya?
"Kamu merasa ada yang aneh gak sih? kenapa masalah tidak kunjung ada habisnya?" tanya Manda pada Lily.
"Entahlah! kemarin sore aku juga lihat Raya berperilaku aneh. Sepertinya dia menyimpan sesuatu yang tidak kita ketahui." jawab Lily mengungkapkan apa yang dirasakannya kemarin saat bertemu Raya yang masuk dari pintu belakang.
Mereka berdua pun kembali terdiam.
Dengan berlari, papa Sigit sudah tiba di rumah kyai Arifin. Nafasnya memburu, papa Sigit duduk lemas di lantai teras rumah kyai Arifin.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..Om kenapa?" tanya Ilham yang kebetulan duduk di kursi teras rumahnya.
"Ayah kamu mana?" tanya papa Sigit masih dengan nafas yang ngos-ngosan. Ilham segera berlari masuk ke dalam rumahnya mencari ayahnya.
Tak lama kyai Arifin keluar bersama Ilham. Dan juga Bu Hajjah yang membawa segelas air putih untuk diberikan kepada papa Sigit atas permintaan suaminya.
"Kamu kenapa lagi Git?" kyai Arifin memberikan air minum yang di bawa istrinya. Papa Sigit Langsung meneguknya agar melegakan tenggorokan nya setelah berlarian.
"Apa?" kyai Arifin dan Ilham terkejut bersamaan.
"Ini tidak bisa dibiarkan kyai..Saya harus membuat perhitungan dengan Agus, karena dia sudah mengibarkan bendera perang pada saya.
"Jangan gegabah Git! kamu harus memikirkannya dengan cermat dan kepala dingin!" cegah kyai Arifin.
"Tapi ini sudah keterlaluan kyai! Agus pasti sengaja melakukan ini semua pada saya." papa Sigit yang selalu bisa menahan amarahnya, kini mulai geram.
"Kamu tidak punya bukti untuk menuduhnya Sigit. Lagipula tidak ada saksi yang melihat!" ucap kyai Arifin.
Papa Sigit sudah tidak mau tau lagi. Hari ini dia harus mendatangi Agus dan meminta pertanggung jawabannya. Papa Sigit meninggalkan rumah kyai Arifin dengan emosi. Beliau langsung menuju rumah Agus untuk membuat perhitungan.
__ADS_1
Karena khawatir terjadi sesuatu nantinya, kyai Arifin dan Ilham akhirnya mengikuti papa Sigit menuju rumah Agus.
Sesampainya di depan rumah Agus, papa Sigit berteriak memanggil nama Agus begitu pula nama istrinya. Papa Sigit sudah tidak bisa berbaik hati lagi pada Agus yang sudah terang terangan mengajaknya perang.
"Agus..keluar kamu! lebih baik kita selesaikan semua ini secara jantan. Jangan jadi pengecut kamu. Keluar!" teriak papa Sigit yang belum mendapati kemunculan Agus.
"Wah wah wah.... Sepertinya kita kedatangan tamu agung mas!" ucap Agus pada Bayu, kakaknya.
" Benar juga! tamu tak diundang sepertinya. " balas Bayu.
"Jangan bertele-tele kamu! cepat katakan di mana kamu sembunyikan Rossi?" bentak papa Sigit. Agus dan Bayu saling pandang menahan tawa.
"Kamu ngigau di pagi hari atau apa? yang punya Istri siapa? kenapa tanya sama saya?" Agus pun mengelak.
" Dengar ya Gus, kita tidak punya dendam apapun. Aku juga tidak pernah mengganggu kehidupan kamu. Lantas kenapa kamu selalu saja mengganggu kehidupan keluargaku!" teriak papa Sigit lagi.
"Apa? jadi.selama ini kamu pikir kita tidak ada dendam?justru kita ini adalah musuh bebuyutan dan kamu bilang kita tidak ada dendam Hah?" Agus pun mulai terpancing emosi.
"Asal kamu tahu ya..aku tidak akan pernah terima dengan perlakuan keluarga kamu yang telah melenyapkan kakek buyut kami. Selama kami masih hidup, kami akan tetap menghancurkan keluarga kamu sampai tak bersisa!" lanjutnya.
"Itu masa lalu! tak ada hubungannya denganku! lagipula pak Hambali itu meninggal karena ulahnya sendiri yang telah berbuat musyrik. Harusnya kamu sadar akan hal itu!" papa Sigit tidak mau kalah. Karena dia merasa tidak pernah berbuat jahat pada Agus ataupun keluarganya.
"Dengar ya Gus, baik kamu atau kakak kamu hanya dibutakan oleh ketakutan mu sendiri. Aku sama sekali tidak pernah menaruh dendam sedikitpun pada keluarga kalian. Namun jika seperti ini kenyataannya, aku tidak sungkan untuk melawan mu!" ancam papa Sigit.
"Oh ya? dan sebelum kamu melakukannya, aku sudah terlebih dahulu menghancurkan keluarga kamu!" Agus menyeringai. Dia tetap pada pendiriannya. Agus sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Baginya dendam keluarganya harus terbalaskan tuntas sampai akar-akarnya.
Kyai Arifin yang menyaksikan kejadian tersebut hanya diam. Beliau tidak ingin membela siapapun saat ini. Saudara kyai Arifin pun membisikkan sesuatu pada beliau. Tampak kyai Arifin mengangguk.
"Jadi , di mana kamu sembunyikan Rossy! cepat beritahu aku sekarang!" ucap papa Sigit semakin geram. Kyai Arifin mendekati papa Sigit dan membisikkan sesuatu. Papa Sigit pun terkejut.
Agus dan Bayu saling pandang. Mereka berdua tampak heran dengan raut wajah Sigit yang berubah datar, tidak se marah tadi.
__ADS_1
"Ingat ya kalian..jika sampai terjadi sesuatu pada keluargaku dan itu ada sangkut pautnya dengan kalian berdua. Aku pastikan kalian tidak akan bisa menikmati sisa hidup kalian dengan baik! Jangan pikir aku diam karena tidak mampu berbuat apapun! Aku pastikan kalian akan menyesal telah berbuat jahat pada keluargaku!" ancam papa Sigit sambil berlalu. Papa Sigit meninggalkan rumah Agus diikuti kyai Arifin, Ilham dan saudara kyai Arifin.
"Huuu....uuuu" sorak Sorai semua warga yang menyaksikan kejadian hari ini. Mereka pun membubarkan diri dari rumah Agus.