Di Batas Senja

Di Batas Senja
Eps. 47(kepergian Manda)


__ADS_3

"Nenek...Apa yang nenek lakukan di sana?" Raya memanggil neneknya yang sedang mencuci baju di sungai. Karena tak mendapat jawaban, Raya datang menghampiri.


"Nenek.." Raya menepuk bahu nenek Sari dari belakang. Nenek Sari pun berbalik dan tersenyum pada Raya.


"Argghhhh....."


Raya sungguh terkejut saat nenek Sari membalikkan badannya. Wajah pucat dengan banyak darah melumuri pipinya. Raya langsung berlari meninggalkan neneknya.


"Raya...kamu mau kemana sayang?" suara nenek Sari terngiang-ngiang di telinga Raya. Raya berlari sambil menutup kedua telinganya.


"Tidak .. Jangan dekati aku! Pergi!!" teriak Raya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Non..bangun non!" suara nenek Sari pun berubah menjadi suara orang yang dikenal Raya. Raya pun terbangun dari tidurnya.


"Bik Asih..aku dimana?" Raya memandang seisi kamarnya. Ternyata dia hanya mimpi buruk karena sudah magrib.


"Sholat magrib dulu non.." ucap bik Asih. Raya pun mengangguk.


Setelah melakukan kewajibannya, Raya memulai aktivitas belajarnya. Namun dia tidak bisa konsentrasi, bayangan neneknya memasuki pikirannya. Harusnya nenek Sari sudah tenang di alamnya, kenapa sekarang muncul lagi? Raya merasa aneh dengan pikirannya sendiri.


Belum begitu larut, tapi Raya mendengar suara mobil papanya memasuki halaman rumah.


"Kok papa sudah pulang, cepet amat?" Raya segera keluar kamar untuk menemui papanya. Raya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan mamanya. Namun Raya sangat kaget karena papa Sigit ternyata pulang hanya seorang diri.


Karena merasa sangat lelah, tak banyak kata papa Sigit langsung menuju kamarnya. Raya mengurungkan niatnya untuk bertanya. Raya memahami kondisi papanya saat ini. Mungkin besok semua akan baik-baik saja dan Raya bisa bercerita dengan papanya lagi.


Raya kembali ke kamarnya. Karena sudah tidak konsentrasi lagi dengan pelajaran, Raya memutuskan untuk tidur.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Keesokan paginya..


Saat Raya hendak berangkat sekolah, dia sudah tidak menjumpai papanya. Bik Asih bilang jika papa Sigit buru buru pergi di pagi hari. Raya menjadi curiga dengan papa Sigit. Tak biasanya papa Sigit bersikap seperti itu.

__ADS_1


"Bik Asih tau kenapa papa buru buru pergi?" tanya Raya memastikan, mungkin saja papa Sigit titip pesan pada bik Asih sebelum berangkat tadi.


"Tidak non, hanya saja tadi bapak bilang supaya non Raya tidak usah menunggu bapak pulang." ucap bik ya.


Raya semakin heran. Dia pun menyegerakan sarapan dan pergi ke sekolah.


Sampai di sekolah, Raya menjadi resah menunggu kedua sahabatnya yang tak kunjung datang. Raya sudah tidak sabar ingin berbagi cerita dengan mereka.


"Ray..Tyo sudah pulang!" Lily berlari menghampiri Raya dan mengejutkannya.


"Sudah tau!" Raya yang terkejut menghembuskan nafas panjangnya. Mendengar jawaban Raya, Lily menjadi heran. Darimana Raya tau? kalaupun tau kenapa tidak cerita padanya.


"Setelah mengantar kalian pulang, aku melihat Tyo di jalan. Dia tidak tau aku karena di seberang jalan." ucap Raya seakan menjawab pertanyaan Lily dalam hati.


" Bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita ke rumahnya?" ajak Lily kemudian. Raya pun mengangguk.


Sambil menunggu Manda, Raya pun menceritakan perihal mamanya yang diantar papanya kembali ke kampung halaman mereka. Lily ikut khawatir setelah mendengar cerita Raya.


"Bagaimana dengan orang orang yang tidak suka dengan keluarga kalian?" tanya Lily penasaran.


"Entahlah! papa memintaku untuk fokus sekolah. Dan masalah keluarga akan papa tangani sendiri, mungkin dibantu dokter Reno juga." jawab Raya.


Siang harinya, sekolah dipulangkan lebih awal karena ada rapat dewan guru. Sampai saat itu pun Raya dan Lily tidak bertemu Manda yang memang tidak masuk sekolah. Raya juga sudah mengirim pesan pada Manda, tapi tak ada jawaban.


" Manda kemana? tak ada kabar?" tanya Raya.


"Kita ke rumahnya saja! Setelah itu ke rumah Tyo!" kata Lily. Raya pun mengiyakan.


Raya dan Lily langsung ke rumah Manda sepulang sekolah. Mereka harus tau kenapa Manda tidak masuk sekolah hari ini.


Raya melajukan mobilnya perlahan menuju rumah Manda yang tak jauh dari sekolahan. Saat di jalan Raya menghentikan mobilnya di pinggir jalan karena melihat seseorang yang dia kenal.


"Kenapa Ray?" tanya Lily penasaran.


"Lihat itu deh! Itu bukannya Tyo?" tunjuk Raya pada lelaki di seberang jalan yang sedang memilih buah-buahan bersama mamanya. Lily ikut melihat ke arah yang ditunjuk Raya. Lily membenarkan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


"Kita samperin?" ajak Lily.


"Ayo!" Raya membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya, begitu juga dengan Lily.


Mereka berdua pun menyeberang jalan menghampiri lelaki yang dianggapnya mirip dengan Tyo. Raya dan Tyo sangat kecewa karena setelah dekat dengannya, Tyo tidak mengenali mereka. Padahal Tyo juga melihat ke arah Raya dan Lily.


"Tyo.." sapa Raya.


Tyo memandang Raya, tapi tidak mengucapkan apa apa. Mama Tyo yang melihat kedatangan Raya dan Lily segera membayar belanjaan dan mengajak Tyo pergi.


"Tunggu Tante! Apa yang terjadi? kenapa Tyo tidak mengenali kami?" tanya Raya mengikuti kepergian Tyo dan mamanya. Tyo yang tidak tahu menahu hanya bengong mengikuti tarikan mamanya.


"Mereka siapa ma?" Tanya Tyo pada mamanya dengan tidak mengerti.


"Bukan siapa-siapa! mereka orang jahat! jangan pernah dekat dengan mereka!" jawab mama Tyo.


Tyo lebih percaya ucapan mamanya. Dia pun melajukan mobilnya pulang. Raya dan Lily hanya memandangi kepergian Tyo dan mamanya dari trotoar.


"Apa ada sesuatu dengan Tyo? apa mungkin dia hilang ingatan karena kecelakaan itu?" Lily mengingatkan Raya akan kejadian yang menimpa Tyo sebelumnya.


"Apapun itu semoga Tyo baik baik saja dan segera sembuh! Sebaiknya kita ke rumah Manda saja!" kata Raya kemudian.


Meskipun Raya juga bingung dengan sikap mama Tyo yang masih acuh terhadapnya, Raya masih belum bisa berpikir dengan jernih. Raya harus menyelesaikan semua masalahnya satu persatu. Jika tidak, maka Raya tidak akan tau bahaya apa yang akan di alaminya nanti.


Raya dan Lily kembali ke mobil dan menuju rumah Manda. Tak lama mereka pun sampai. Namun rumah Manda kelihatan sepi dan sepertinya tidak ada orang. Melihat ada dua orang perempuan celingukan di depan rumah Manda, seorang perempuan yang tinggal persis di sebelah rumah Manda langsung menghampiri.


"Maaf..nona berdua ini siapa ya? kenapa dari tadi kelihatan celingukan di depan rumah ini?" tanya ibu itu.


"Maafkan kami, kami berdua sahabat Manda. Kami mencarinya karena tadi Manda tidak masuk sekolah. Kami sudah biasa kesini kok ."jawab Lily.


" Kenapa rumahnya kelihatan sepi ya Bu? kemana penghuninya?" tanya Raya memberanikan diri.


"Oh..Mbak Manda dan ibunya keluar kota kemarin sore. Katanya sih ada saudaranya yang meninggal!" jawab ibu itu. Raya dan Lily pun mengangguk dan pamitan pulang.


"Kenapa Manda tidak chat kita?" Raya melihat ponselnya dan mengecek pesan yang masih tidak ada jawabannya dari Manda.

__ADS_1


"Kita ke rumah Tyo?" ajak Lily.


"Ayo!"


__ADS_2