
Papa Sigit segera berlari kembali ke rumah kyai Arifin untuk mencari istrinya. Karena terburu- buru,papa Sigit tidak sadar jika banyak makhluk dunia lain yang sedang mengawasinya.
"Assalamu'alaikum kyai.." papa Sigit mengatur nafasnya yang memburu.
"Waalaikumsalam..kamu kenapa Sigit?" kyai Arifin merasa heran dengan kedatangan Sigit yang buru buru.
"Istri saya belum sampai rumah. Manda bilang tadi istri saya kembali ke sini saat masih di tengah jalan pulang."
"Jadi?" kyai Arifin semakin bingung.
" Istri saya menghilang!" papa Sigit merebahkan tubuhnya di bale yang ada di teras rumah kyai Arifin. Sejenak beliau memejamkan matanya. Baru saja Raya di temukan, sekarang malah ganti istrinya. Papa Sigit pun menarik nafas dalam-dalam.
Kyai Arifin kembali memanggil saudaranya dan mengajaknya diskusi. Sepertinya memang ada sesuatu yang aneh telah terjadi. Untung saja jin yang menyerupai Ali sudah ditangkap. Setidaknya mereka akan terhindar dari tipu daya jin yang dikirim seseorang. Namun sekarang apalagi yang terjadi?
"Tadinya sepulang dari sini kami akan langsung kembali ke kota. Namun saat sampai rumah dan berkemas, istri saya belum pulang sejak dari sini tadi!" papa Sigit mulai khawatir dengan keadaan istrinya yang tiba-tiba menghilang.
"Jadi apa yang akan kita lakukan mas?" tanya kyai Arifin pada saudaranya tersebut.
"Apalagi? kita coba seperti saat mencari putrinya yang hilang tadi!" jawab saudara kyai Arifin.
Kyai Arifin dan saudara saudaranya yang lain segera memanjatkan doa meminta petunjuk tentang keberadaan Mama Rossy. Sigit yang sudah bisa mengatur nafasnya, sudah merasa sedikit lebih tenang.
Kyai Arifin sangat terkejut setelah dengan mudahnya menemukan keberadaan Mama Rossy. Sesekali kyai Arifin memperhatikan papa Sigit. Beliau merasa khawatir dengan apa yang akan dilakukan papa Sigit setelah tau dimana keberadaan istrinya nanti.
" Git..kuatkan hatimu ya... Istri kamu sebenarnya ada di rumah Agus!" kata kyai Arifin.
"Apa?" papa Sigit sangat terpukul. Apa yang dilakukan istrinya di sana? Apa kejadian yang menimpa Raya tadi, kini terjadi pada istrinya?
Papa Sigit pun menjadi gelisah. Kali ini papa Sigit sudah tau jelas keberadaan istrinya, namun dia harus bertemu dengan Agus secara langsung untuk mendapatkan istrinya kembali. Papa Sigit kembali merebahkan tubuhnya di bale yang didudukinya.
"Bagaimana Git? apa yang akan kamu lakukan?" tanya kyai Arifin ingin tau keputusan papa Sigit selanjutnya.
" Jika saya kesana, apakah Agus dengan mudahnya akan melepaskan istri saya?" papa Sigit sangat khawatir. Apakah mungkin ini adalah awal terjadinya konflik yang selama ini papa Sigit coba untuk menghindarinya?
"Saya sebenarnya malas untuk bertikai kyai. Hidup damai itu sangat menyenangkan, kenapa harus berselisih?" papa Sigit pasrah. Jika memang harus bertikai, maka papa Sigit akan siap menghadapinya.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Sebelumnya..
Ali bergegas pulang karena ingin tau apa yang dilakukan kedua pamannya setelah jin yang dikirim mereka telah ditangkap oleh kyai Arifin.
"Kamu darimana saja Ali?" tanya paman Bayu.
"Saya dari hutan mencari kayu bakar paman. Kayu bakar di belakang sudah habis." jawab Ali menunduk.
" Jangan bohong! cepat katakan yang sebenarnya! kamu darimana?" bentak paman Agus yang sudah tidak sabar menghadapi Ali.
"Jangan gegabah Gus!" paman Bayu menenangkan paman Agus.
"Tapi anak ini sudah.."
"Tenanglah! ingatlah jika kita sudah mendapatkan gantinya!" ucap paman Bayu.
Paman Agus segera menghentikan aksinya yang ingin memukul Ali.
Masih menunduk Ali tetap mendengarkan ocehan kedua pamannya yang sudah tau apa perbuatan Ali pada hari itu.
"Apa kamu tau Ali, jika tiba waktunya nanti kita masih belum bisa memusnahkan keluarga Bisri yang masih tersisa, maka kitalah yang akan dimusnahkan oleh mereka. Bahkan kamu pun termasuk di dalamnya." Ucap paman Bayu. Ali masih menunduk.
"Kamu dengar kan Ali?" lanjut paman Agus.
"Iya paman!" Ali tidak berani melawan kedua pamannya tersebut. Dia hanya diam menunduk.
"Pergilah! dan ingat, jangan sampai kami melihat kamu membantu mereka lagi!" paman Agus mengingatkan.
Ali masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Dia masih penasaran dengan apa yang dikatakan kedua pamannya tentang pengganti itu.
Malam pun tiba, Ali tidak bisa memejamkan matanya. Dia hanya bolak balik duduk dan rebahan. Entah kenapa dia merasa tidak tenang. Karena gelisah, Ali pun keluar rumah untuk menghirup udara malam. Malam telah larut, suasana sangat sepi di saat ini. Ali duduk di atas pagar teras memandangi sekeliling.
"Kenapa aku jadi kepikiran Raya? apa dia dan keluarganya sudah sampai kota? kapan aku bisa bertemu lagi dengannya?" batin Ali. Ali tampak senyum senyum sendiri.
__ADS_1
Samar samar Ali mendengar ada orang berbicara di belakang rumahnya. Karena penasaran, Ali menghampirinya melalui samping rumahnya. Ketika sudah sampai belakang rumahnya, Ali sungguh terkejut melihat paman Agus bersama seorang wanita yang diikat kedua tangannya. Wanita itu terlihat menangis.
Ali mengedarkan pandangannya, di sana hanya ada paman Agus dan wanita itu. Dimana paman Bayu?
Ali semakin penasaran dengan wanita yang menunduk itu. Wanita itu tidak berkata, hanya paman Agus yang mengoceh sendiri dan sesekali menyesali perbuatannya pada wanita itu.
Menyesal?
Ali menajamkan penglihatannya. Karena gelap, Ali tidak bisa mengenali wanita itu.
"Kamu ngapain Gus? sudah malam cepat bawa wanita itu masuk!" paman Bayu datang dan meminta paman Agus agar membawa wanita itu ke dalam. Agar tidak ketahuan, Ali kembali ke depan rumah.
Ali kembali duduk di pagar teras. Dia terus membayangkan siapa wanita yang bersama pamannya tersebut. Apakah dia tumbal selanjutnya? itu tidak mungkin. Pamannya selalu sopan pada wanita yang akan dijadikan tumbal. Karena itu adalah cara pamannya merayu dan bisa membawa wanita ke tempat persembahan. Tapi wanita tadi?
Ali tak bisa berpikir, dia pun kembali ke kamarnya setelah tidak mendengar suara gaduh kedua pamannya. Dengan perlahan Ali membuka pintu dan menutupnya kembali. Aku segera masuk kamar dan merebahkan tubuhnya.
Keesokan harinya..
Ali ingin ke sungai untuk memancing. Hari ini dia ingin makan ikan setelah lama tidak pernah memancing ikan. Saat di sungai, Ali mendengar obrolan ibu ibu yang sedang mencuci. Ali sangat terkejut dibuatnya.
" Jadi setelah anaknya menghilang karena diculik jin, kini ganti ibunya?" tanya ibu A.
" Iya.. Sepertinya malapetaka di kampung ini akan benar benar terjadi seperti apa yang dikatakan Agus dulu!" jawab ibu B.
"Kenapa mereka tidak kembali ke kota saja? bikin repot warga di sini saja!" kata ibu A.
"Kalau Rossy menghilang, bagaimana mereka bisa kembali ke kota? apa Rossy ditinggal?" tanya ibu B.
"Kali aja sama Sigit dikorbankan untuk dijadikan tumbal keluarga Hambali. Kan dulu Rossy meninggalkan Agus karena takut dijadikan tumbal!"
"Huusst...jaga bicaramu!"
Ali tak sanggup mendengar lagi obrolan ibu ibu itu. Dia bergegas menuju rumah nenek Sari, memastikan apa benar Raya dan keluarganya belum kembali ke kota?
Saat tiba di rumah nenek Sari, Ali melihat mobil Raya dan papanya masih terparkir di sana. Ali pun tersenyum.
__ADS_1
"Bang Ali?"