
Hasrat yang semakin membara, membuat Gandhi dan Yunda tidak sabaran ingin melakukan penyatuan mereka.
Entah siapa yang lebih dulu melepas pakaian siapa, tapi yang jelas kini keduanya sudah sama-sama polos.
Mata Yunda membulat lebar saat melihat Mas Gagah yang benar-benar gagah dan bukan hanya sekedar nama.
Astaga, itunya Mas Gandhi kok gede banget? Dua kali lipatnya dari punya Mas Rio. Gumam Yunda dalam hati.
"Kamu kok lihatnya gitu banget? Kayak baru pertama kali liat batangan plontos aja." tanya Gandhi.
"Gak pa-pa Mas. Udah lama gak liat yang begitu, jadi agak syok aja." jawab Yunda.
Gandhi mendekatkan wajahnya ke wajah Yunda dan meneruskan memberi sengatan-sengatan kenikmatan di tubuh Yunda. Mulai dari mencium bibir lalu turun ke bawah sambil memainkan pabrik susu Yunda.
Yunda begitu menikmati sentuhan Gandhi, des.ahan-des.ahan manja tak henti-hentinya keluar dari mulut Yunda.
Puas menciumi leher Yunda, ciuman Gandhi turun ke dada Yunda, Gandhi sudah tidak sabaran menyusu seperti Reesha waktu Gandhi tak sengaja melihat penampakan pabrik susu Yunda.
Ternyata air susu Yunda belum sepenuhnya kering, masih ada sedikit-sedikit yang keluar saat Gandhi menyedotnya.
Gandhi berhenti sejenak.
"Kenapa Mas?" tanya Yunda dengan nafas yang terengah-engah seperti orang yang baru lari maraton.
"Masih ada airnya Yun." jawab Gandhi.
__ADS_1
"Yang bener Mas? Aku pikir udah gak keluar lagi." tanya Yunda tak percaya.
"Mungkin karena sedotan aku kenceng kali yah Yun makanya jadi keluar lagi." jawab Gandhi.
"Ya udah jangan disentuh bagian itu kalau gitu." ucap Yunda.
"Enak aja! Bagian ini juga paling enak tau!" tolak Gandhi lalu melanjutkan menyusu di pabrik susu Yunda.
Yunda kembali mende.sah sambil menggeliat-geliat seperti ular yang mau ganti kulit.
Puas menyusu, Gandhi menurunkan cumbuannya ke perut Yunda. Dengan jelas Gandhi melihat bekas jahitan sesar Yunda.
"Yun, beneran udah bisa kan? Gak gak bakalan kenapa-kenapa kan jahitan kamu kalau kita bercinta?" tanya Gandhi. Dia jadi takut jahitan Yunda terbuka kalau Mas Gagah menggagahi Yunda.
"Gak pa-pa Mas, kan udah dua bulan lebih juga." jawab Yunda.
Ciuman Gandhi semakin turun kebawah, ke paha kanan dan kiri Yunda secara bergantian. Walau sebenarnya Gandhi ingin langsung memberi sengatan di tempat ngecat Mas Gagah, sebisa mungkin Gandhi tahan dulu, ia ingin membuat malam pertamanya dengan Yunda berkesan. Padahal di bawah sana Mas Gagah sudah tidak sabar ingin di cas. Begitu juga dengan tempat ngecas Mas Gagah yang sudah kembang kempis minta segera di colok oleh Mas Gagah.
Puas menciumi paha kanan dan kiri, barulah Gandhi bersilahturahmi bibir dengan bibir bawah Yunda.
Yunda makin menggila, dia tidak bisa mengontrol lagi racauannya dan gerakan tubuhnya.
"Sssh... Ah... Mas Gandhi... Enak Mas!!!" racau Yunda sambil menekan kepala Gandhi agar memperdalam permainan lidahnya di liang lubang cas Mas Gagah.
Mendengar racauan Yunda, Gandhi pun semakin bersemangat memainkan bibir dan lidahnya dengan bibir bawah Yunda.
__ADS_1
"Mas... oh Mas... ah Mas Gandhi..." Yunda meracau dengan nafas yang makin memburu serta jari-jari kuku kakinya sudah bertekukan, tanda kalau dia sudah mau sampai di puncak klimakstationnya.
Gandhi yang tahu kalau Yunda sudah mau sampai di puncak klimakstationnya, cepat-cepat berhenti memainkan bibir bawah Yunda dan menggantinya dengan Mas Gagah.
Mas Gagah mana terima kalau Yunda sampai di puncak kenikmatan karena lidah Gandhi, apalagi ini puncak kenikmatan pertama Yunda.
"Aaargh..." Yunda menge.rang sambil membusurkan punggungnya saat Mas Gagah yang luar biasa gagah mencolok lubang cas-annya.
"Aaargh Yun enak banget!!!" teriak Gandhi yang juga merasakan kenikmatan tiada tanding saat Mas Gagah masuk di lubang cas-an yang sempit dan menggigit seperti masih perawan.
Sebelum menggerakkan pinggulnya, Gandhi mencium bibir Yunda terlebih dulu sambil mere.mas pabrik susu Yunda.
"Aku goyang yah." izin Gandhi saat Mas Gagah sudah berdenyut minta Gandhi menggerakkan pinggulnya. Jelas langsung di jawab dengan anggukkan kepala oleh Yunda.
"Ingetin aku kalau aku mainnya kasar, oke." kata Gandhi lagi dan kembali di jawab dengan anggukkan kepala oleh Yunda.
Gandhi pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan.
Baru di goyang perlahan saja Yunda sudah seperti dibawa terbang ke nirwana, apalagi kalau Gandhi menggoyangnya dengan gerakan cepat dan kasar, entah sudah berapa kali Yunda terlempar ke langit ke tujuh.
💋💋💋
Bersambung...
Ini kan yang kalian semua mau? Hehehehe ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Aku udah up 3 bab hari ini, gak mau tau pokoknya kasih aku vote, kopi, bunga, kursi pijat, silet atau nonton iklan sebanyak-banyaknya. Hehehehe ðŸ¤ðŸ¤