Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BonChap 3


__ADS_3

"Jangan ngambek dong Sayang. Aku cuma mau membayar keinginan masa kecil aku pada anak-anak kita. Psikolog bilang itu namanya inner child. Dulu waktu kecil aku gak di bolehin ini-itu sama orangtua aku, kalau pun aku ingin memiliki mainan atau barang kesukaan aku, aku harus melakukan kemauan orangtua aku dulu, kalau hasilnya memuaskan baru mereka memberikan barang yang ku mau. Setelah aku punya anak, aku gak mau anak aku harus merasakan apa yang aku rasakan waktu kecil. Aku ingin memberikan semua yang anak-anak aku inginkan. Menurut aku, kalau mereka ingin itu berarti mereka butuh. Sama seperti yang aku rasakan dulu, aku menginginkan sesuatu karena aku butuh." ucap Gandhi.


"Jadi kamu harap kamu bisa ngertiin aku yah." kata Gandhi lagi.


Yunda menghela nafasnya kasar.


"Aku bisa ngerti Mas, tapi jangan terlalu berlebihan juga seperti hari ini. Kamu kan bisa suruh mereka nulis tiga atau lima barang setiap kamu pergi sama mereka, bukan langsung semua keinginan mereka kamu penuhi dalam satu kali jalan. Kan masih ada minggu depan, minggu depannya lagi dan minggu-minggu selanjutnya." balas Yunda.


"Memangnya kamu tau umur ku sampai dimana? Bisa aja kan dua hari lagi aku gak ada. Jadi selagi aku hidup, aku mau memberikan apa yang mereka mau, takutnya gak punya kesempatan lagi." balas Gandhi.


"Iiih Mas Gandhi ngomong gitu sih! Gak boleh ngomong gitu ah! Anak-anak masih kecil Mas! Mirah aja masih lima tahun, masa Mas Gandhi udah ngomong gitu!" omel Yunda.


"Kan umur gak ada yang tau Yun. Aku cuma ngomong sesuai kenyataannya aja kok. Kita gak tau siapa diantara kita berdua yang di panggil duluan. Bisa aku bisa kamu, atau bahkan bisa salah satu anak kita, iya kan?!" balas Gandhi.


"Udah ah Mas, gak usah ngomong soal beginian! Aku males!" balas Yunda.


"Iya, iya, iya." balas Gandhi sambil mengelus rambut Yunda.


"Ya udah yuk ke atas lihat anak-anak." ajak Gandhi.


Gandhi dan Yunda pun beranjak dari duduk mereka lalu keluar dari ruang keluarga.


💋💋💋


Kini mereka sudah sampai di lantai dua.


Kamar pertama yang Gandhi dan Yunda datangi adalah kamar Reesha.


Tok... Tok... Tok...


Yunda mengetuk pintu kamar Reesha.


"Mbak Reesha, Ibu masuk yah." tanya Yunda.

__ADS_1


"Masuk aja Bu." jawab Reesha dari dalam kamar.


Yunda pun membuka pintu kamar.


Begitu Gandhi dan Yunda memasuki kamar Reesha, terlihat Reesha sedang memakai cream malam di wajahnya. Yang pastinya cream malam untuk remaja bukan untuk orang dewasa.


"Kamu pake apa itu Mbak?" tanya Yunda karena baru ini Yunda melihat putri sulungnya memakai skincare.


"Pake skincare Bu." jawab Reesha.


"Pake skincare? Kok pake skincare kamu kan masih kecil Mbak!" protes Yunda. Yunda tidak sadar kalau Reesha sudah bertransformasi menjadi anak gadis. Bahkan tahun depan Reesha sudah masuk SMA.


"Iiih Ibu, Reesha udah lima belas tahun yah bukan anak kecil lagi." balas Reesha.


"Tau kamu Yun, orang Reesha udah jadi anak gadis sekarang. Lagian, skincare itu bukan cuma untuk orang dewasa aja, anak satu tahun juga ada skincare khusus buat kulit mereka. Apalagi yang remaja kayak Reesha." timpal Gandhi.


"Kamu nih! Pasti kamu kan Mas yang beliin itu buat Reesha." balas Yunda.


Yunda hanya memutar bola matanya malas.


"Kamu tenang aja Sayang, skincare nya itu khusus untuk anak seumuran Reesha kok." kata Gandhi lagi.


"Selain skincare apa lagi yang kamu beliin buat Reesha? Jangan bilang kamu beliin Reesha baju yang udel nya kelihatan deh Mas." tanya Yunda dengan tatapan mengintimidasi.


Reesha dan Gandhi saling tatap-tatapan.


Melihat gelagat anak dan suaminya tanpa perlu Gandhi jawab, Yunda sudah bisa menebak kalau jawabannya iya.


"Tuh kan bener! Mana Ibu lihat baju kurang bahan yang kamu beli?" pinta Yunda pada Reesha.


Reesha melirik Gandhi. Melihat lirikan Reesha, Gandhi menganggukkan kepalanya tanda agar Reesha menunjukkan saja baju yang tadi Reesha beli pada Yunda.


Reesha pun berjalan menuju lemari dan mengambil papper bag yang berisi pakaian-pakaian yang tadi dia beli lalu memberikannya pada Yunda.

__ADS_1


Dengan cepat dan tidak sabaran tangan Yunda langsung menyambar lima papper bag yang Reesha berikan lalu menumpahkan isi papper bag itu ke atas tempat tidur.


"Astaga Mbak Reesha, baju model apa begini! Kamu jualan udel pake baju model kayak gini! Ini mah cocoknya buat Mirah, Mbak Reesha!" omel Yunda.


"Itu namanya model crop, Bu. Model jaman sekarang." balas Reesha.


"Terus baju-baju kayak gini mau kamu pake kemana?" tanya Yunda.


"Yah jalan sama temen-temen Reesha lah Bu." jawab Reesha.


"Gak! Gak! Gak! Ibu larang keras kamu keluar pake baju kayak gini! Baju ini boleh kamu pake tapi cuma di kamar doang!" larang Yunda tegas.


"Iiih Ibu! Kok di pake di kamar doang!" protes Reesha.


"Papa..." rengek Reesha minta bantuan Gandhi.


"Udah lah Yun, biarin aja Reesha pakai itu, itu kan model anak jaman sekarang." bela Gandhi.


"Tapi ini kan mempertontonkan aurat Mas! Apalagi tubuh Reesha sudah berbentuk, kalau pakai baju ini bentuk tubuh Reesha kelihatan lah Mas! Mas mau kalau mata laki-laki memandang Reesha dengan tatapan mesum?" balas Yunda.


"Ku colok matanya nanti berani natap Reesha kayak gitu!" balas Gandhi.


"Ya kita kan gak tau Mas! Memangnya kamu mau ngikutin Reesha kalau Reesha jalan sama teman-temannya?" balas Yunda.


"Kenapa gak! Kalau pun aku gak bisa, aku bisa sewa bodyguard untuk jaga Reesha mulai sekarang." balas Gandhi.


"Papa..." rengek Reesha.


Dia pikir Gandhi akan merayu Yunda agar mengizinkannya memakai baju model crop itu, tapi ternyata Papa-nya itu malah punya ide yang tambah bikin sakit kepala.


💋💋💋


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2