Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 73


__ADS_3

Rumah Sakit.


Sudah tiga jam Bu Marni berada di ruang operasi tapi belum ada tanda-tanda operasi selesai.


Yunda yang sejak tadi nampak cemas. Dan raut wajah cemas Yunda terlihat jelas dimata Gandhi.


"Yun..." panggil Gandhi pada Yunda yang sejak tadi mondar-mandir didepan pintu ruang operasi.


Yunda menoleh dan berjalan mendekati Gandhi.


"Kenapa Mas?" tanya Yunda.


"Sini duduk." Perintah Gandhi sambil menepuk kursi sebelahnya.


Yunda pun duduk.


"Kenapa Mas?" tanya Yunda sekali lagi.


"Gak pa-pa. Aku capek ngeliatin kamu mondar-mandir kayak setrikaan." jawab Gandhi.


Yunda tidak membalas perkataan Gandhi dan malah menghela nafas kasar seperti orang yang frustasi lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Melihat kegelisahan Yunda, ada sesuatu yang mengganjal di hati Gandhi.


"Yun, apa kamu masih mencintai mantan suami kamu?" tanya Gandhi.

__ADS_1


Sontak Yunda menoleh kearah Gandhi.


"Kok Mas Gandhi nanya gitu?" tanya Yunda.


"Ngeliat kamu yang khawatir banget sama mantan mertua kamu kayak gini, aku ngerasa kalau kamu masih cinta sama mantan suami kamu dan masih menganggap mantan mertua kamu itu ibu mertua kamu." jawab Gandhi.


"Kamu salah Mas. Aku udah punya perasaan apa-apa lagi sama Mas Rio. Perasaan aku ke dia sudah hilang saat dia menghina anak ku. Dan kalaupun aku khawatir dengan Bu Marni, yah karena aku mau dia tetap hidup untuk menebus dosa-dosanya. Kasihan kalau dia meninggal disaat dia belum bertobat. Bukan kah sesama manusia kita harus tetap mendoakan kebaikan untuk orang lain? " jawab Yunda.


"Yakin hanya karena itu?" tanya Gandhi.


"Iya Mas." jawab Yunda.


"Jadi kalau mantan suami kamu aku jebloskan ke penjara, gak masalah kan buat kamu?" tanya Gandhi.


Mata Yunda membulat lebar.


"Pertama karena dia sudah menelantarkan Ibunya. Kedua karena dia sudah melakukan penipuan, dia sudah memberikan data-data kamu ke pihak rumah sakit tanpa seizin kamu." jawab Gandhi.


"Gak perlu sampe segitunya lah Mas. Kan kita sudah buat surat pernyataan." balas Yunda.


Rahang Gandhi mengeras mendengar jawaban Yunda, dia kesal, marah, cemburu karena Yunda selalu membela mantan suaminya itu.


"Kamu bilang gak punya perasaan apa-apa lagi sama mantan suami kamu, tapi kenapa kamu masih bela mantan suami kamu sih Yun?!" geram Gandhi.


"Apa kamu sengaja berbuat baik seperti ini agar mantan suami kamu dan keluarganya bisa luluh sama kamu?" tanya Gandhi.

__ADS_1


"Bukan gitu Mas."


"Terus apa! Kalau memang kamu gak punya perasaan apa-apa lagi sama mantan suami kamu itu, harusnya kamu dukung aku jeblosin dia ke penjara! Kasih pelajaran ke dia kalau sekarang kamu bukan perempuan yang bisa diinjek-injek lagi! Jangan terlalu baik sama orang Yun! Orang gak akan pernah luluh sama kamu hanya karena kebaikan kamu! Justru semakin kamu baik sama orang, orang malah akan menganggap kamu itu orang lemah! Jahat sedikit kenapa jadi orang! Toh yang kamu baikin itu bukan saudara kandung kamu! Yang kamu baikin itu manusia berhati iblis Yun!" ucap Gandhi meluapkan emosinya.


Yunda diam.


"Kebaikan kamu cukup sampai membantu Bu Marni, jangan kelewat batas dengan membantu menyembunyikan kejahatan penjahat, paham kamu!" kata Gandhi lagi dengan nada tinggi.


Yunda masih diam sambil menundukkan wajahnya.


Melihat Yunda hanya diam, Gandhi jadi merasa bersalah karena sudah bernada tinggi bicara dengan Yunda.


Gandhi menghela nafas kasar membuang emosi yang menggebu-gebu dalam dada-nya lalu menarik pundak Yunda dan membawanya dalam pelukannya.


"Maafin aku Yun, aku bukannya mau bentak kamu, aku cuma kesal aja ngeliat kamu yang lemah gini. Gak salah memang menjadi orang baik tapi gak semua tipe manusia pantas menerima kebaikan dari kita. Dalam hal ini mantan suami kamu dan keluarganya gak pantas buat dapetin kebaikan dari kamu." ucap Gandhi.


"Jangan mengejar ketika sudah dibuang, jangan mencari ketika sudah diabaikan, dan jangan pernah mengemis perhatian ketika sudah tidak di perlukan. Hargai dirimu Yun, jangan kuras tenaga mu untuk orang yang sudah tidak peduli padamu, jangan sisakan ruang kosong dalam hatimu untuk orang yang sudah menyakitimu." kata Gandhi lagi.


"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu Mas, karena aku gak pernah mau denger omongan kamu dan selalu nyusahin kamu. Aku makasih banyak sama kamu karena sudah mengingatkan ku." balas Yunda.


Perlahan Yunda menjauhkan tubuhnya.dari pelukan Gandhi.


"Lakukan apa yang ingin Mas lakukan, kalaupun Mas Rio memang harus di penjara, penjara saja." kata Yunda lagi.


Gandhi menganggukkan kepalanya sambil mengelus kepala Yunda.

__ADS_1


💋💋💋


Bersambung...


__ADS_2