
"Besok kamu gak usah bawa Reesha, kasihan dia kalau kita membawa-nya ke lingkungan orang toxic." ucap Gandhi.
"Tapi aku gak tenang Mas kalau Reesha ditinggal." balas Yunda.
"Anggap aja kita lagi perjalanan ke luar kota. Nanti aku suruh Salsa untuk menjaga Reesha kalau memang kamu gak tenang meninggalkan Reesha dengan dua pengasuhnya." jawab Gandhi.
"Tapi Mas-"
"Jangan banyak tapi-tapi Yun, ikutin aja kata-kata aku. Kamu tenang aja, Salsa orang yang bisa dipercaya kok." potong Gandhi meyakinkan Yunda.
"Ya udah, terserah Mas Gandhi aja." jawab Yunda.
Gandhi pun menghubungi pengacara Batara dan menceritakan masalah Yunda, lalu menghubungi Bayu untuk mengajak Bayu ke Solo, kemudian menghubungi Salsa untuk meminta tolong pada Salsa menjaga Reesha besok dan untungnya Salsa mau.
💋💋💋
__ADS_1
Solo.
Saat ini Mbak Ratna sedang mengemas pakaiannya, dia hendak berangkat ke Jakarta besok pagi untuk melihat keadaan Ibu-nya dan Rio, sekalian mencari pengacara untuk Rio. Sebagai pegangannya ke Jakarta, Ratna menjual senua perhiasan Ibu-nya.
"Berapa lama nanti kamu di Jakarta?" tanya Arya, suami Ratna.
"Yah gak tau Mas. Kalau Ibu udah diizinin pulang dan masalahnya Rio selesai yah aku langsung pulang." jawab Ratna.
"Oh." Arya hanya membulatkan mulutnya.
Ratna dan Arya memiliki seorang anak laki-laki yang berumur delapan tahun, saat ini anak laki-laki Ratna dan Arya tinggal di rumah orangtua Arya di Malang karena orangtua Arya di malang hanya tinggal berdua sedangkan Ratna tidak mau tinggal di Malang bersama mertuanya. Pekerjaan Arya adalah manager di salah satu perusahaan tekstil terbesar di kota Solo.
Pukul 08.00
Ratna sudah pergi ke bandara dengan menggunakan taksi online.
__ADS_1
Arya tidak mengantar Ratna ke bandara, dengan alasan tidak mendapatkan izin. Ratna tidak mempermasalahkan itu, dia tetap pergi ke bandara.
Setelah Ratna pergi, Arya cepat-cepat masuk ke kamar Bu Marni. Ia mencari surat rumah milik Ibu mertuanya itu. Niat hati hanya ingin mencari surat rumah Ibu mertuanya, Arya malah menemukan surat rumah Rio dan surat toko-toko Rio.
"Woah, ini sih namanya rejeki nomplok." gumam Arya.
Tanpa perlu di pikir-pikir lagi, Arya pun membawa semua surat-surat itu lalu keluar dari rumah Bu Marni. Kalau mau jadi maling, jadi maling yang besar sekalian jangan cuma jadi maling kecil doang, begitulah pikir Arya.
Arya pun pergi ke rumah mafia sertifikat untuk membantunya membalik nama semua surat-surat berharga milik mertua dan iparnya.
Arya tega melakukan itu karena Arya sakit hati dengan Bu Marni dan Ratna karena Bu Marni selalu membandingkannya dengan Rio karena Rio sudah punya rumah sendiri, mobil dan beberapa toko, sedangkan Arya belum punya rumah dan masih tinggal dirumah mertua.
Ratna juga sering melarangnya mengirim uang pada orangtua Arya di Malang, padahal uang yang di kirim Arya ke Malang juga untuk anaknya, tapi Ratna selalu mengatakan kalau anak mereka sekarang sudah menjadi tanggung jawab orangtua Arya karena orangtua Arya lah yang meminta anak mereka tinggal disana. Bukan hanya saja, Ratna juga tidak mau melakukan kewajibannya melayani Arya di ranjang kalau Arya tidak menuruti kemauan Ratna. Misalnya, saat Ratna ingin belanja-belanja tapi Arya tidak memberinya uang, jangan harap Ratna mau melayani Arya diranjang, kalau Arya memberikannya uang untuk belanja barulah Ratna mau melayani Arya.
Arya benar-benar tertekan batin hidup bersama Ratna, ia merasa harga dirinya diinjak-injak istri dan ibu mertuanya. Atas dasar itulah, Arya nekat membalaskan rasa sakit hatinya dengan menjual rumah mertuanya. Niat ini sudah lama Arya rencanakan, tapi baru ini Arya mendapat kesempatan. Bahkan sekalinya mendapat kesempatan, bukan hanya rumah mertuannya saja yang bisa ia jual tapi rumah dan toko-toko milik iparnya juga bisa ia jual.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...