
Lima tahun kemudian.
Lima belas tahun sudah Gandhi dan Yunda menikah, anak bungsu mereka juga sudah menginjak usia lima tahun. Kedua anak laki-laki mereka sangat mirip dengan Gandhi bukan hanya wajah tapi kelakuannya juga, tingkat ke PD-annya sangat tinggi.
Sedangkan Reesha dan adik bungsunya, wajahnya mirip Yunda, hanya bedanya wajah Reesha memiliki sedikit wajah Rio.
Ya jelas lah ada sedikit wajah Rio yang menempel di wajah Reesha karena Rio adalah ayah kandung Reesha.
Meski ada sedikit wajah Rio yang menempel di wajah Reesha, tapi untungnya Reesha tidak menuruni sifat Rio. Reesha tumbuh menjadi gadis remaja yang baik hati, polos, pintar dan multitalenta. Pintar dan multitalentanya berkat asuhan Gandhi, sedangkan baik hati dan polosnya sudah jelas menurun dari Yunda.
Sedangkan adik bungsu Reesha, meski wajahnya mirip dengan Yunda tapi sifatnya plek ketiplek dengan Gandhi dan kedua kakak laki-lakinya.
Bocah lima tahun itu sangat cerewet, aktif dan kreatif. Selalu ada saja tingkahnya yang membuat kedua orangtuanya tertawa. Bahkan kalau tidak ada bocah lima tahun itu di rumah, rumah terasa sepi angker seperti kuburan.
__ADS_1
Karena anak-anak sudah beranjak remaja, Gandhi pun memutuskan untuk memindahkan keluarga kecilnya ke rumah yang lebih besar. Rumah yang di bangun di atas tanah berukuran lima ratus meter dengan luas bangunan 25x35 meter yang dibangun tiga lantai.
Lantai dasar khusus untuk ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur dan kamar ART, lantai dua khusus untuk kamar anak-anak serta ruang bermain, tiga orang pengasuh juga tidur di lantai ini. Tiga pengasuh itulah yang bertanggung jawab mengurus keperluan anak-anak Gandhi dan Yunda. Sedangkan lantai tiga khusus untuk area privasi Gandhi dan Yunda. Di lantai tiga ini juga ada fasilitas dapur dan ruang makan mini, ruang gym, ruang kerja dan bioskop mini. Karena ini area privasi Gandhi-Yunda, jadi tidak seorang pun bisa naik ke lantai tiga ini jika tidak mendapat perintah dari Gandhi dan Yunda.
💋💋💋
Pukul 21.00
Malam ini malam minggu, setelah lima belas tahun menikah, sudah sulit bagi Yunda dan Gandhi untuk jalan berdua saja. Selalu ada bocil yang minta ikut.
Seperti malam ini, Yunda di boykot anak-anaknya sendiri agar tidak ikut jalan-jalan bersama Gandhi. Karena sudah di boykot, mau tidak mau Yunda hanya bisa menunggu kepulangan mereka di rumah.
Tidak selalu Yunda yang di boykot, Gandhi juga sering di boykot anak-anaknya jika keempat anaknya ingin quality time dengan ibu mereka.
__ADS_1
"Udah jam sembilan, kok mereka belum pulang yah?!" gumam Yunda sambil mondar-mandir di teras rumah menunggu kepulangan suami dan keempat anaknya. Hanya mereka berlima yang pergi, ketiga pengasuh tidak ada yang ikut. Karena para pengasuh tidak ikut, itulah yang membuat Yunda resah, pasalnya Gandhi tidak bisa di hubungi dan ponsel Reesha juga tidak aktif. Sedangkan ketiga adik Reesha belum punya ponsel.
"Tenang Bu, Pak Gandhi kan pergi sama anak-anak, jadi gak akan ada lah yang berani ngelirik Pak Gandhi." celetuk Sus Indah.
Sus Indah dan Sus Nur masih bekerja dengan Gandhi dan Yunda.
"Yang takut Mas Gandhi di lirik perempuan lain siapa, Sus. Orang aku khawatirin anak-anak kok." jawab Yunda.
"Sus kan tau sendiri kalau anak-anak pergi sama bapaknya, semua diminta. Dan bapaknya gak pernah bilang gak boleh sama anaknya. Alamat anak-anak makan sembarangan kalau sama bapaknya." kata Yunda lagi.
Yah, namanya juga bapak-bapak, paling gak bisa nolak permintaan anak-anaknya. Apalagi Gandhi punya slogan "Gak usah hitung-hitungan! Uang ku banyak!"
💋💋💋
__ADS_1
Mau lanjut bonchap? Kasih kopi sama bunga dulu dong ðŸ¤