
Keesokan harinya.
Pukul 10.00
Gandhi, Yunda dan Bayu sudah bersiap pergi menemui calon investor dimana calon investor mereka ini berprofesi sebagai IRT.
Calon investor pertama mereka adalah Tante dari Bayu. Semalam, Bayu sudah menghubungi sang Tante dan mengajak sang Tante menanam modal di perusahaan yang sedang Gandhi rintis.
Karena tidak di haruskan menanamkan modal yang banyak, maka si Tante pun mau. Bukan hanya itu saja, Bayu juga meminta sang Tante membantu mencarikan calon investor untuk bergabung di perusahaan Gandhi. Berhubung Tante-nya Bayu ini orang yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi, hanya dalam waktu dua jam saja sudah ada dua puluh IRT yang mau bergabung dengan mereka.
Senang? Jelas. Tapi Gandhi juga merasa memiliki tanggung jawab yang lebih. Karena yang memberi kepercayaan pada perusahaan yang baru mau dirintisnya adalah para IRT dimana mereka semua berharap bisa memiliki penghasilan tambahan untuk membantu suami mereka.
Maka dari itu, untuk memenuhi ekspektasi para IRT, Gandhi harus bekerja dua kali lipat agar para IRT yang sudah menaruh kepercayaannya pada perusahaan Gandhi tidak kecewa.
"Aku bisa nanam modal juga gak?" tanya Yunda.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Tante-nya Bayu, dimana para IRT ingin bertemu dan mendengar penjelasan langsung dari mulut Gandhi.
"Gak usah lah." jawab Gandhi.
"Kenapa? Aku kan juga mau dapet penghasilan tambahan." balas Yunda.
"Penghasilan tambahan untuk apa? Memangnya uang yang aku kasih gak cukup buat kebutuhan kamu dan Reesha?" tanya Gandhi.
"Bukan gitu Mas, daripada uangnya tinggal di rekening, yah mending di putar kan?" jawab Yunda.
"Kamu gak takut uang kamu nanti gak kembali?" tanya Gandhi.
"Kenapa harus takut. Ibu-ibu itu aja gak takut nanam modal di perusahaan yang baru mau kamu rintis ini, masa aku istri kamu harus takut!" jawab Yunda.
"Ya udah terserah kamu." balas Gandhi.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau inves berapa?" tanya Gandhi.
"Sepuluh juta." jawab Yunda.
"Banyak banget? Ibu-ibu yang lain aja cuma satu juta." tanya Gandhi.
"Biar ibu-ibu itu makin yakin Mas kalau perusahaan Mas Gandhi punya masa depan yang cerah." jawab Yunda.
"Makasih yah Sayang." balas Gandhi sambil menarik Yunda kedalam pelukannya lalu mencium puncak kepala Yunda.
Bayu yang sedang menyetir dan sesekali melihat Gandhi dan Yunda dari kaca spion langsung berdehem melihat kemesraan Gandhi dan Yunda.
"Tolong bos hargai yang jomblo." tegur Bayu.
Gandhi dan Yunda terkekeh kecil mendengar teguran Bayu.
💋💋💋
Pertemuan dengan para ibu-ibu pun sudah selesai, kini status kedua puluh ibu-ibu bukan lagi calon investor melainkan sudah menjadi investor.
Bukan sekedar menjadi investor, bahkan para ibu-ibu juga memberi masukan untuk nama perusahaan Gandhi. Dari banyaknya nama perusahaan yang disarankan, akhirnya disepakati satu nama perusahaan yakni PT. GY Plast National.
Gandhi tidak lagi menggunakan nama Pradana, dia ingin berdiri sendiri membangun perusahaannya dengan menggunakan namanya dengan nama Yunda.
Kini Gandhi, Yunda dan Bayu sedang dalam perjalanan menuju apartemen untuk mengantar Yunda pulang, setelah itu Gandhi dan Bayu lanjut bertemu dengan Derel dan Angga.
"Kok aku gak boleh ikut sih Mas?" protes Yunda karena Gandhi melarangnya ikut.
"Reesha lebih butuh kamu Yun. Kalau kamu ikut, nanti pulang kemalaman terus Reesha gimana?" jawab Gandhi.
"Nanti kalau perusahaan udah berjalan, pasti kamu aku bawa kemana-mana, kalau sekarang, biar aku dan Bayu yang capek-capek di lapangan dulu, oke. Nyonya besar tinggal nikmatin hasilnya aja nanti." kata Gandhi lagi merayu Yunda.
__ADS_1
Yunda pun luluh.
The Ritz Apartemen.
Kini mobil yang di kendarai Bayu sudah sampai di depan lobi apartemen.
Yunda dan Gandhi pun keluar dari dalam mobil. Gandhi mengantar Yunda sampai didepan lift.
"Aku gak ikut naik yah, kalau aku ikut naik, takut gak bisa lepas lagi dari Reesha." ucap Gandhi.
"Iya Mas gak pa-pa." jawab Yunda.
"Jangan malam-malam yah pulangnya." ucap Yunda.
"Kenapa? Kamu mau servis aku lagi?" goda Gandhi.
"Ih... Mas, jangan dibahas lagi deh, aku kan malu." balas Yunda dengan wajah yang memerah.
"Ngapain malu kan itu pahala Yun, servis suami sampe dengkul suami gemeter." bukannya berhenti menggoda, Gandhi malah terus menggoda Yunda.
"Iiih... Mas Gandhi. Udah akh aku naik dulu. Inget jangan pulang kemaleman." balas Yunda lalu cepat-cepat masuk ke dalam lift, dia sudah sangat malu.
Gandhi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Yunda.
Dia yang agresif, dia juga yang malu. Dasar istri! gumam Gandhi dalam hati.
Setelah pintu lift tertutup barulah Gandhi pergi dari depan lift dan berjalan menuju mobil-nya di depan lobi.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1