
Begitu semua para algojo keluar, Gandhi langsung menarik tangan Yunda dan berdiri di depan Yunda.
"Mama mau ngapain kesini?" tanya Gandhi.
"Mama mau jemput kamu secara baik-baik. Ayo pulang." jawab Mama Zara.
"Rumah Gandhi ada disini. Jadi untuk apa Gandhi ikut pulang dengan Mama." jawab Gandhi.
Rahang Mama Zara semakin mengeras sambil matanya melirik tajam Yunda yang berdiri di belakang Gandhi.
"Jadi kamu lebih memilih perempuan itu ketimbang Mama yang sudah melahirkan kamu?" tanya Mama Zara.
"Gandhi juga gak minta di lahirkan dari rahim Mama. Seandainya Gandhi tau kalau perempuan yang melahirkan Gandhi sangat egois, Gandhi gak sudi hidup di rahim Mama saat itu." jawab Gandhi.
Jawaban Gandhi sangat menohok, membuat hati Mama Zara semakin tersulit emosi.
"Kamu baru kenal perempuan itu beberapa bulan tapi kamu udah berani kurang ajar sama Mama! Dulu waktu kamu sama Nara, kamu gak sekurang ajar ini sama Mama." balas Mama Zara.
"Hei perempuan sialan! Kamu sudah kasih makan apa anak ku sampai-sampai anak ku berani kurang ajar seperti ini, hah!!! Pasti kamu sudah guna-guna anakku kan!!!!" teriak Mama Zara.
__ADS_1
"Jangan teriakin istri Gandhi, Ma!! Dan satu lagi, Gandhi begini bukan karena Yunda, tapi karena Gandhi udah capek nurutin semua kemauan Mama! Gandhi gak mau mengulang kesalahan Gandhi yang dulu yang gak bisa mempertahankan cinta Gandhi!! Kalau Mama memang Mama Gandhi, harusnya Mama bisa ngertiin Gandhi! Udah cukup dua anak laki-laki Mama yang lain yang Mama setir hidupnya, jangan setir hidup Gandhi lagi!!" teriak Gandhi tak kalah keras dengan Mama Zara.
Mama Zara menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar.
"Oke kalau kamu tetap bersikeras gak mau nurut sama Mama dan lebih memilih perempuan itu, mulai hari ini kamu bukan lagi anak Mama, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Pradana!!! Kamu gak akan pernah dapat uang sepeserpun dari harta Mama dan Papa!!! Dan satu lagi, jangan pernah datang ke perusahaan, kamu bukan lagi CEO di perusahaan Pradana Utama!!" teriak Mama Zara.
Setelah mengatakan itu, Mama Zara pun keluar dari dalam kamar.
Setelah Mama Zara keluar, cepat-cepat Gandhi mengunci pintu kamar. Bukan hanya mengunci dari handle pintu tapi juga mengunci dengan selot agar Mama Zara tidak bisa masuk sesuka hati seperti tadi.
Setelah mengunci pintu, Gandhi kembali menghampiri Yunda.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu Mas, kamu gak pa-pa?" Yunda malah balik bertanya.
"Gak usah khawatirin aku. Aku baik-baik saja." jawab Gandhi.
"Tapi kamu di keluarin dari perusahaan Mas?" tanya Yunda.
"Kenapa? Kamu gak mau lagi sama aku kalau aku miskin, hah?" tanya Gandhi.
__ADS_1
"Bukan gitu, tapi kan-"
"Gak usah banyak mikir Yun, tenang aja, walaupun aku di keluarin dari perusahaan, walaupun aku di keluarin dari daftar warisan, aku masih punya badan yang sehat dan otak yang cerdas, jadi aku pasti bisa membangun perusahaan aku sendiri." jawab Gandhi sambil mengelus kepala Yunda.
"Bangun perusahaan kan butuh uang banyak Mas." balas Yunda.
"Ya jangan langsung gede lah Yun, kecil-kecilan aja. Udah gak usah terlalu di pikirin, kamu cukup percaya sama aku kalau aku bisa nafkahin kamu dan Reesha. Oke." balas Gandhi.
Yunda menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau kan kita merintis dari bawah?" tanya Gandhi.
Yunda kembali menganggukkan kepalanya.
"Asal sama kamu dan sikap kamu gak pernah berubah sama aku dan Reesha, aku akan terus disamping kamu, Mas, berjuang sama-sama dengan kamu." ucap Yunda sambil memeluk Gandhi.
(Jangan lama-lama peluk Gandhi-nya Yun, nanti Mas Gagah minta di peluk juga loh ðŸ¤)
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...