
Keesokan harinya.
Pukul 07.30
Pagi ini Yunda, Gandhi dan tiga anak mereka sudah berada di ruang makan, hanya Reesha yang belum ada di ruang makan.
"Aku panggil Reesha dulu." ucap Yunda.
Dengan cepat Gandhi menahan tangan Yunda.
"Gak usah, nanti dia juga turun sendiri kok." ucap Gandhi.
"Tapi Mas-"
"Percaya sama aku." potong Gandhi.
Yunda menghela nafasnya kasar, mau tidak mau dia duduk di kursi makan dan lanjut melayani suami dan anak-anaknya.
Saat mereka sudah memulai sarapan mereka, tak lama Reesha muncul di ruang makan.
"Pagi semua." sapa Reesha sambil berjalan mendekati meja makan.
Sontak Gandhi, Yunda dan ketiga adik Reesha menoleh ke arah Reesha.
"Pagi sayang." balas Gandhi.
Sedangkan Yunda hanya melihat wajah Reesha yang sangat jelas terlihat murung.
Sesampainya di meja makan, Reesha langsung menarik kursi makan yang ada di sebelah kanan Gandhi dan berhadapan dengan Yunda lalu duduk di kursi itu.
"Mbak mau makan apa? Sini biar Ibu ambil." tawar Yunda.
"Gak usah Bu, Reesha bisa sendiri." tolak Reesha tanpa menatap wajah Yunda kemudian mengambil sendiri makanannya.
__ADS_1
Yunda dan Gandhi saling lirik, kemudian Gandhi menggelengkan kepalanya untuk memberi kode pada Yunda agar tidak banyak bicara dengan Reesha dulu. Yunda pun menurut dan membiarkan Reesha mengambil makanannya sendiri.
Sepanjang sarapan, hanya suara Ghaylan, Gamil dan si bontot Mirah saja yang terdengar, tidak ada suara Reesha.
Selesai sarapan, Ghaylan, Gamil dan Mirah langsung pergi dari ruang makan meninggalkan Gandhi, Yunda dan Reesha. Makanan yang ada di piring mereka sudah habis, tapi mereka enggan beranjak dari tempat duduk mereka karena ada hal yang ingin mereka sampaikan masing-masing.
"Pa..."
"Sha..."
Setelah lima menit saling diam, Gandhi dan Reesha kompak membuka suara mereka.
"Kamu dulu." ucap Gandhi.
Reesha menggeleng.
"Papa dulu." ucap Reesha.
"Bagaimana suasana hati mu pagi ini, sudah lebih baik dari semalam?" tanya Gandhi.
Reesha melirik Yunda, saat melihat Yunda ternyata sedang memperhatikannya, cepat-cepat Reesha menunduk lalu menganggukkan kepalanya.
"Sekarang giliran kamu, apa yang mau kamu sampaikan pada Papa dan Ibu?" tanya Gandhi.
Reesha diam sejenak sambil memainkan jarinya dan sesekali melirik Yunda. Dia takut apa yang ingin dia sampaikan melukai hati Yunda.
Reesha ingat kata-kata terakhir Gandhi semalam "cerita usang ini bukan hanya tentang ayah dan anak tapi ada cerita seorang wanita yang rela di cerai suami dan di buang keluarganya demi mempertahankan harga diri anaknya."
"Ngomong aja Mbak apa yang ingin Mbak Reesha sampaikan." ucap Yunda.
Reesha menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Sebelumnya Reesha minta maaf sama Ibu kalau apa yang ingin Reesha sampaikan ini melukai hati Ibu. Reesha tau Ibu sudah banyak berkorban untuk Reesha dan Reesha juga tau apa yang Ibu dan Papa lakukan demi kebaikan Reesha. Tapi..." Reesha menjeda sejenak kata-katanya.
__ADS_1
"Tapi Reesha juga ingin tau siapa ayah kandung Reesha." lanjut Reesha.
Gandhi dan Yunda saling lirik.
Hati Yunda menjerit mendengar Reesha ingin mengenal ayah kandungnya. Tidak salah sih kalau seorang anak ingin mengenal anak kandungnya, justru yang salah itu jika mereka tidak mengenalkan Reesha pada ayah kandungnya tapi tetap saja hati kecil Yunda tidak rela. Mungkin karena sudah terlalu lama mereka menutupi masalah ini dari Reesha jadi disaat Reesha memilih untuk mengenal ayah kandungnya, mereka jadi kecewa.
Walau begitu, mereka tetap menghargai keputusan Reesha. Toh sebelumnya Gandhi sudah memberi dua pilihan pada Reesha. Kalau memang Reesha ingin bertemu dengan ayah kandungnya, Reesha harus menceritakan tentang kehidupannya dan Yunda yang sangat bahagia agar Rio tertampar dengan cerita Reesha.
"Baik kalau memang kamu ingin mengenal ayah kandung mu, Papa akan mengatur jadwal untuk mengantar mu pada ayah kandung mu." ucap Gandhi.
"Makasih Pa." balas Reesha.
Kemudian Reesha melihat Yunda yang diam tapi sorot matanya mengisyaratkan kekecewaan.
"Bu maafin Reesha kalau Reesha mau bertemu dengan ayah kandung Reesha." ucap Reesha.
"Gak pa-pa Mbak, Ibu ngerti kok. Wajar kalau seorang anak ingin mengenal ayah kandungnya. Yang harusnya minta maaf disini Ibu karena Ibu egois tidak memikirkan perasaan kamu." balas Yunda.
"Pergi lah, temui bapak mu." kata Yunda lagi. Setelah mengatakan itu, Yunda berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan Reesha dan Gandhi di ruang makan, dia sudah tidak tahan ingin menumpahkan air matanya.
Selain kecewa, ada rasa takut dalam hati Yunda, takut kalau setelah bertemu dengan Rio, hati Reesha lebih condong ke Rio dan akhirnya memilih untuk tinggal bersama Rio.
"Pa, Ibu pasti marah yah sama Reesha?" tanya Reesha.
"Gak lah, mana mungkin Ibu marah sama kamu." jawab Gandhi.
"Jadi kamu serius ingin bertemu dengan ayah kandung mu?" tanya Gandhi memastikan.
"Iya Pa." jawab Reesha.
"Oke, Papa akan urus semuanya. Kalau semuanya sudah siap, kita berangkat ke tempat ayah kandung mu." balas Gandhi lalu berdiri dari duduknya kemudian mengelus kepala Reesha sebelum akhirnya meninggalkan Reesha dan menyusul Yunda. Gandhi tau pasti sekarang Yunda sedang menangis karena kecewa.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...