Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 50


__ADS_3

Kosan Yunda.


Kini Yunda sudah sampai di kosannya.


Gandhi singgah sebentar di kosan Yunda, karena ingin membicarakan tentang perasaannya pada Yunda.


"Silahkan diminum, Mas." ucap Yunda sembari meletakkan kopi panas di atas meja.


"Makasih." jawab Gandhi.


"Mas Gandhi mau ngomong apa?" tanya Yunda.


"Um... gini Yun..."


Ah... Ssssh... Ah... Ouh... Ah...


Kalimat Gandhi menggantung kala samar-samar mendengar suara-suara aneh dari sebelah kamar Yunda.


Bukan hanya Gandhi, Yunda juga mendengar suara itu. Mereka dua tidak bodoh, mereka berdua tahu suara apa itu.


Gara-gara suara itu, Gandhi dan Yunda jadi salah tingkah.


"Tadi Mas Gandhi mau bicara apa?" tanya Yunda mencoba menetralisir kecanggungan.


"Um... itu..."


Ah... Ouh... Beb aku mau keluar Beb, Ssh... Ah...


Tunggu aku Beb, kita keluarin bareng-bareng.


Suara laknat dan suara daging yang bertepuk pun semakin kencang.


Lagi dan lagi suara laknat itu membuat Gandhi menggantung kalimatnya.

__ADS_1


Makin salah tingkah saja Gandhi dan Yunda mendengar suara itu.


"Sebelah kamar kamu itu sering begituan yah?" tanya Gandhi kesal.


"Ekhem..." Yunda berdehem sambil menganggukkan kepalanya.


"Terus kamu gak pernah negur gitu?" tanya Gandhi.


Yunda menggeleng.


"Kok gak pernah? Harusnya kamu tegur dong Yun, suara mereka tuh ganggu banget tau gak! Apalagi disini kamu punya anak bayi, gak baik kalau anak kamu denger suara kayak begituan dari bayi." omel Gandhi.


"Ya aku mana berani lah Mas, aku kan penghuni baru di kosan ini, sedangkan penghuni lama aja gak pernah ada yang tegur, kenapa aku yang penghuni baru jadi mau negur? Nanti kalau aku tegur, mereka jadi negur aku balik karena suara Reesha yang sering nangis tengah malam. Jadi saling bodo amat aja lah disini." jawab Yunda.


"Ya gak bisa gitu lah Yun, Reesha itu masih bayi, yah wajar lah kalau Reesha nangis tengah malem, nah ini, ini suara yang mencemarkan telinga orang lain tau gak!" balas Gandhi.


"Bikin orang yang denger suara ini jadi kepengen." lanjut Gandhi lagi dengan suara pelan dan untungnta Yunda tidak mendengar.


Tak tahan mendengar suara laknat yang tak selesai-selesai itu, Gandhi pun berdiri dari duduknya.


"Mas Gandhi mau ngapain?" tanya Yunda.


"Ya mau negur lah!" jawab Gandhi.


"Jangan Mas, please jangan buat gaduh, ini udah malem juga Mas." mohon Yunda.


"Gak bisa! Pokoknya aku-"


Aaaaargh...


Erangan panjang pun terdengar.


"Kayaknya mereka juga udah selesai deh Mas, jadi gak usah ribut yah." ucap Yunda yang juga mendengar suara erangan panjang itu.

__ADS_1


Gandhi menghela nafasnya kasar, mau tidak mau Gandhi mengurungkan niatnya menegur penghuni sebelah kamar Yunda dan duduk kembali di tempatnya.


"Jadi sebenarnya Mas Gandhi mau ngomongin apa?" tanya Yunda.


Mood Gandhi sudah hilang. Momen sakral pernyataan cintanya sudah dirusak oleh suara-suara laknat.


"Gak jadi. Udah lupa aku mau ngomongin apa tadi. Nanti lah kalau aku inget." jawab Gandhi sambil menyeruput kopi yang tadi dibuatkan Yunda.


Kemudian Gandhi menoleh kearah Reesha.


"Ngomong-ngomong Reesha udah pernah ke posyandu belum?" tanya Gandhi.


Yunda menggelengkan kepalanya.


"Kok belum? Jadi Reesha belum pernah dapet vaksin apa-apa setelah dia lahir sampe sekarang?" tanya Gandhi.


"Udah sih Mas waktu baru lahir, tapi setelah itu aku belum pernah lagi bawa dia ke dokter untuk check up atau posyandu." jawab Yunda.


Gandhi menghela nafasnya kasar.


"Besok kosongin jadwal aku, kita bawa anak kamu ke dokter anak untuk vaksin." Perintah Gandhi.


Yunda menganga. Hanya untuk mengantar Reesha vaksin saja Gandhi sampai mengosongkan jadwal, padahal bisa saja Gandhi hanya memberinya izin cuti satu hari tak perlu sampai mengosongkan jadwal.


"Gak usah Mas, nanti aja weekend aku yang bawa Reesha kedokter anak atau puskesmas terdekat. Mas Gandhi gak usah sampe ngosongin jadwal." tolak Yunda.


"Lakuin aja yang aku perintahkan Yunda." balas Gandhi dengan nada penuh penekanan.


"Ba-ba-baik Mas." jawab Yunda.


"Ya udah lah, aku pulang dulu kalau gitu." pamit Gandhi dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Yunda.


Sebelum Gandhi berdiri dari duduknya, Gandhi menghabiskan terlebih dulu kopi-nya setelah itu barulah Gandhi keluar dari kamar kos Yunda dan diantar Yunda sampai ke perkiraan, Yunda harus memastikan Gandhi tidak menegur penghuni kamar sebelah. Setelah mobil Gandhi pergi baru Yunda kembali ke kamarnya.

__ADS_1


💋💋💋


Bersambung...


__ADS_2