
Sambil berjalan menuju parkiran, Gandhi terus memikirkan jawaban teka-teki yang Yunda berikan.
Sampailah mereka di dalam mobil.
"Aku nyerah Yun, aku gak tau salah aku apa sama kamu." ucap Gandhi.
Yunda memberi tatapan tajam pada Gandhi.
"Nara itu siapa? Kenapa kamu natap Nara beda banget, gak kayak kamu natap perempuan-perempuan lain? Natap aku aja kamu gak sampe segitunya." tanya Yunda.
Oh... gara-gara Nara. gumam Gandhi dalam hati.
"Nara itu temen aku Yun." jawab Gandhi.
"Kalau temen kenapa tatapan kamu kayak gitu banget ke dia?"
"Gitu banget gimana? Perasaan biasa aja deh."
"Udah deh Mas, jujur aja! Kamu sama Nara pasti pernah punya hubungan spesial kan? Buktinya suaminya Nara juga tadi ketus banget ngeliat kamu." desak Yunda.
Gandhi menghela nafasnya kasar. Sebenarnya Gandhi tidak mau jujur dengan Yunda tentang hubungannya dengan Nara untuk menjaga perasaan Yunda, tapi karena dalam rumah tangga kejujuran dan keterbukaan adalah kunci agar rumah tangga harmonis, mau tidak mau Gandhi pun jujur pada Yunda.
"Janji dulu kalau aku jujur jangan marah." ucap Gandhi.
Yunda menganggukkan kepalanya.
"Nara itu mantan aku." ucap Gandhi.
"Tuh kan bener!!" kesal Yunda sambil mengalihkan pandangannya dari Gandhi.
__ADS_1
"Kok marah! Kan udah janji gak marah kalau aku jujur."
"Aku bukannya marah Nara mantan kamu! Aku marah sama cara kamu ngeliatin mantan kamu! Dari cara ngeliatin kamu tadi, kayaknya kamu masih sayang sama mantan kamu." balas Yunda.
"Astaga!!! Gak lah Yun! Aku cinta-nya sama kamu aja. Masa kamu gak percaya sih! Lagian aku ngerasa biasa aja kok ngeliatin dia." jawab Gandhi.
"Bohong! Buktinya waktu mereka keluar dari toko tadi mata kamu gak berkedip ngeliatin dia."
"Siapa yang ngeliatin dia! Orang aku ngeliatin anak-anaknya kok."
"Kenapa kamu ngeliatin anak-anaknya? Kamu pasti berkhayal kan kalau anak-anak kembar tadi anak kamu sama dia?"
Kalau istri sedang ngambek, apapun jawaban suami semuanya salah. Jujur salah, bohong tambah salah.
"Astaga Yunda!!! Kok pikiran kamu kayak gitu sih! Kamu lagi datang bulan?" tebak Gandhi, biasanya perempuan kalau lagi sensitif gak jelas gini, apalagi penyebabnya kalau bukan karena lagi datang bulan.
Gandhi menghela nafasnya lega.
Syukurlah, aku pikir lagi datang bulan. Berarti Mas Gagah masih bisa ngecas. gumam Gandhi dalam hati.
Tanpa drama bujuk membujuk, Gandhi yang suka sat set sat set langsung mengunci pintu dan memakai sabuk pengamannya kemudian menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya keluar dari parkiran mall. Tujuan Gandhi sekarang adalah hotel.
Karena tidak di bujuk, Yunda semakin kesal.
"Aku mau pulang! Gak jadi ke hotel!" ucap Yunda.
Gandhi tak menjawab, untuk saat ini dia harus melipat gandakan kesabarannya dan pura-pura menulikan telinganya sampai di hotel nanti.
Melihat perjalanan bukan ke arah apartemen, sepanjang jalan Yunda pun mengomel.
__ADS_1
Tak sampai setengah jam, mobil Gandhi pun sampai di parkiran hotel.
Gandhi keluar lebih dulu dari mobil lalu berjalan menuju pintu mobil sebelah kirinya untuk membukakan Yunda pintu.
Setelah pintu terbuka, ternyata Yunda belum melepas sabuk pengamannya.
"Ayo keluar." titah Gandhi.
"Gak mau, aku mau pulang." rajuk Yunda.
"Mau keluar sendiri atau atau gendong?"
Yunda menatap tajam Gandhi.
"Aku serius, mau keluar sendiri atau aku gendong?"
"Kan aku bilang mau pulang!"
"Lihat dulu kamar kita, habis itu kita pulang. Aku udah bayar mahal loh buat ngedekor kamar kita, masa kamu gak mau lihat dulu." jawab Gandhi.
Pikir Gandhi, yang penting Yunda masuk dulu ke dalam kamar, sesampainya nanti di kamar sudah pasti Yunda tidak akan bisa keluar lagi dari dalam kamar.
Mau tidak mau Yunda melepas sabuk pengamannya lalu keluar sendiri dari dalam mobil.
Gandhi pun bersorak sorai dalam hati.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1