
"Pak! Bapak apaan sih! Nikah siri, nikah siri, Yunda gak mau ah." protes Yunda.
"Ini demi kebaikan mu juga Yun. Daripada kamu berduaan terus sama Nak Gandhi dengan status gak jelas, nanti kalau setan lewat, kalian khilaf, gimana? Kalau kalian terikat dalam hubungan pernikahan kan udah halal mau ngapain aja. Jadi kalau terjadi apa-apa sama kamu, kamu bisa punya pegangan, bisa nuntut tanggung jawab kalau sampai Nak Gandhi nipu kamu." jawab Pak Yoto.
"Bener yang dibilang Bapak kamu Yun." timpal Bu Ambar.
"Tapi Bu-"
"Apalagi sih Yun yang buat kamu ragu sama aku? Kamu takut aku gak bisa sayang sama Reesha? Kamu lihat sendiri kan betapa sayangnya sama Reesha. Atau kamu takut aku sama seperti mantan suami kamu yang manis di awal, pahit di belakang? Kalau itu yang kamu takutkan, aku akan memberikan apartemen yang kamu tempati, mobil alphard dan uang tabungan satu miliar untuk mas kawin, jadi kalau aku melalaikan tanggung jawab aku seperti mantan suami kamu, kamu gak akan susah seperti saat kamu bersama mantan suami kamu." ucap Gandhi.
"Jadi kalian sudah tinggal bersama?" tanya Pak Yoto salah paham saat mendengar Gandhi mengatakan Yunda tinggal diapartemen Gandhi.
"Bukan Pak, bukan be-"
"Sudah gak bener kalau begitu ini! Kalau kalian di grebek gimana? Bisa di arak ke jalanan kalian!" marah Pak Yoto. Yang di pikiran Pak Yoto penghuni gedung apartemen tempat tinggal Yunda sama seperti orang-orang di kampung yang suka kepo urusan orang lain. Padahal penghuni di gedung apartemen tidak pernah peduli satu sama lain, jangankan kepo, siapa yang tinggal disebelah mereka saja mereka tidak tahu.
"Sudah, Bapak gak mau tau, kamu dan Gandhi harus nikah siri!" kata Pak Yoto lagi.
__ADS_1
"Pak-"
"Demi kebaikan kamu Yunda!" potong Pak Yoto keras.
Gandhi diam saja, padahal dalam hatinya bersorak sorai kesenangan.
Nikah, nikah, nikah, nikah. Sorak sorai Gandhi dalam hati.
"Mas, ngomong dong Mas!" desak Yunda meminta Gandhi menjelaskan situasi yang sebenarnya pada Bapak dan Ibunya.
Untuk kali ini Gandhi tidak mau membantu Yunda saat orangtuanya salah paham. Semakin orangtua Yunda salah paham dengan hubungannya dan Yunda malah semakin bagus.
"Yun... Yun... tunggu Yun." Gandhi langsung menangkap tangan Yunda lalu membalikkan tubuh Yunda agar berhadapan dengannya.
"Kamu kenapa sih Yun?" tanya Gandhi.
"Masih nanya kamu Mas aku kenapa! Aku kesel sama kamu karena membiarkan Bapak dan Ibu salah paham sama aku!" jawab Yunda.
__ADS_1
"Tapi kan yang di bilang Bapak kamu ada benernya, memang kita gak tinggal bersama, tapi kan setiap hari aku kesana, tiap hari kita selalu bersama, jujur, aku takut khilaf Yun, aku takut gak bisa menahan gejolak dalam diri aku. Dan aku rasa kamu juga merasakan hal yang sama kan kayak aku? Jadi daripada kita saling menahan perasaan kita, yah lebih baik kita menikah siri dulu, nanti kalau surat cerai ku dan Salsa sudah keluar, aku janji pasti langsung mendaftarkan pernikahan kita secara negara. Dan kita bisa buat resepsi yang sederhana. Gak lama kok itu Yun, paling seminggu." balas Gandhi.
"Bukan masalah itu-nya Mas!"
"Terus masalahnya apa? Kamu juga suka kan sama aku?"
"Masalahnya, aku masih ingin sendiri, aku masih ingin fokus dengan Reesha dulu. Kalau aku punya pasangan baru, aku harus adaptasi dulu, aku harus melayani pasangan aku dan sudah pasti perhatian ke Reesha juga berkurang." jawab Yunda.
"Kamu gak usah khawatir tentang itu Yun, pertama, aku bukan laki-laki yang banyak menuntut, kamu gak siapin baju kerja aku, aku gak masalah, aku bisa siapin baju kerja aku sendiri, kamu gak buatin aku sarapan, makan siang atau makan malam juga aku gak masalah, aku bisa masak mie instan dan goreng telur, aku juga jago bikin nasi goreng kok, kalaupun aku males masak, yah tinggal pesen aja kan? Kalau kamu capek yah istirahat aja, kamu mau seharian tidur juga gak masalah, aku gak bakal marah. Kamu mau me time ke salon, shopping dan nitip Reesha sama aku juga aku gak akan nelponin kamu suruh kamu cepet-cepet pulang. Kalau Reesha nangis tengah malam minta susu atau pup, kamu gak perlu bangun, biar aku aja yang bangun untuk bikini susu dan ganti popok Reesha. Pokoknya aku akan memperlakukan kamu seperti ratu dalam istana kecil kita." balas Gandhi meyakinkan Yunda.
"Kamu mau yah Yun?" tanya Gandhi dengan tatapan penuh kesungguhan.
Melihat tatapan Gandhi, entah kenapa Yunda merasa sangat yakin kalau Gandhi bisa memegang kata-katanya, tidak seperti Rio, yang manis hanya saat pacaran, tiba sudah menikah dia lupa akan janji manisnya pada Yunda sebelum menikah.
Yunda pun menganggukkan kepalanya.
"Iya Mas, aku mau." jawab Yunda.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...