Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 122


__ADS_3

Pukul 19.00


Kamar utama.


Ceklek. Gandhi membuka pintu kamar mandi, dia baru saja selesai mandi.


Dengan menggunakan bathrobe abu-abu dan rambut yang masih basah, Gandhi keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya.


Melihat Gandhi hendak mengeringkan rambutnya, cepat-cepat Yunda mendekati Gandhi.


"Sini Mas, biar aku keringin rambut kamu." ucap Yunda.


Gandhi tidak menolak, dia pun memberikan pengering rambut pada Yunda kemudian duduk manis di kursi meja rias.


"Mas..." panggil Yunda sambil mengeringkan rambut Gandhi.


"Hemh..." balas Gandhi sambil melihat Yunda dari pantulan cermin.


"Um... ada yang mau aku omongin." ucap Yunda ragu-ragu sambil menggigit bibir bawahnya.


Melihat Yunda menggigit bibir bawahnya, otak Gandhi jadi mikir ke hal yang lain-lain. Gandhi pikir Yunda mau ngajak Mas Gagah ngecas lagi.


"Ngomongin apa?" tanya Gandhi sambil perlahan menarik tali bathrobe-nya.


"Tadi aku ketemuan sama Mama Zara." jawab Yunda.


Sontak Gandhi berhenti menarik tali bathrobe-nya yang tinggal sedikit lagi terlepas lalu membalikkan badannya menghadap Yunda.


"Kapan? Kok kamu gak bilang sama aku ketemuan sama Mama? Mama gak ngapa-ngapain kamu kan? Kamu gak ditampar Mama kan?" tanya Gandhi. Terlihat sekali kepanikan di wajah Gandhi. Bagaimana dia tidak panik, dia takut Mama-nya mempermalukan Yunda di muka umum seperti dulu Nara di permalukan Mama-nya. Dan Gandhi tidak mau hal itu terjadi pada Yunda.


"Maaf Mas, tadinya aku mau bilang sama kamu saat asistennya Mama Zara dateng kesini dan minta aku nemuin Mama Zara, tapi setelah aku pikir-pikir, udah banyak hal yang kamu lakukan untuk memperjuangkan aku, jadi udah saatnya aku menperjuangkan kamu di depan Mama kamu." jawab Yunda.

__ADS_1


"Mama Zara gak ngapa-ngapain aku kok, dia cuma ngajak ngobrol aku di kafetaria dibawah." kata Yunda lagi.


Merasa obrolan ini sangat serius, Gandhi pun berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Yunda menuju sofa dan mereka pun duduk disana.


"Kalian ngobrol apa?" tanya Gandhi.


"Seperti yang ada di pikiran mu lah Mas." jawab Yunda.


"Mama minta kamu ninggalin aku? Dia sogok kamu pake uang, iya?" tebak Gandhi. Karena itu cara klise Mama-nya dan mama-mama sosialita menjauhkan anak-anak mereka dari perempuan yang mereka tidak restui.


Yunda menganggukkan kepalanya.


"Terus kamu bilang apa?" tanya Gandhi.


"Ya aku tolak lah Mas." jawab Yunda.


"Memangnya Mama aku nyogok kamu berapa?" tanya Gandhi.


"Wow! Terus kenapa kamu gak terima?" tanya Gandhi.


"Aku mau terima kalau Mama kamu kaish aku saham Pradana Utama tiga puluh persen." jawab Yunda.


Gandhi langsung tertawa terbahak-bahak, dia pikir Yunda sedang bercanda.


"Kok ketawa Mas? Aku serius! Aku ngomong gitu tadi sama Mama kamu." ucap Yunda.


Sontak Gandhi langsung berhenti tertawa.


"Jadi kamu mau ninggalin aku kalau Mama aku ngasih saham tiga puluh persen ke kamu?" tanya Gandhi dengan tatapan menyalang.


"Itulah yang mau aku omongin sama kamu, Mas." jawab Yunda.

__ADS_1


"Tadi aku bicara gitu cuma sekedar nantangin Mama kamu aja, karena aku pikir gak mungkin lah Mama kamu mau ngasih saham sebanyak itu untuk aku, tapi setelah aku pikir-pikir, kok aku jadi takut sendiri yah Mas, aku takut Mama kamu bener-bener mau ngasih saham sebanyak itu untuk aku. Kalau itu sampai terjadi, itu artinya aku harus ninggalin kamu. Aku jadi nyesel udah ngomong gitu ke Mama kamu, Mas." kata Yunda lagi.


Bwakakakakakak...


Bukannya marah, Gandhi malah tertawa ngakak.


"Kok malah ketawa sih Mas! Aku serius! Kalau Mama kamu beneran ngasih saham sebanyak itu ke aku gimana?" tanya Yunda cemas.


"Sebucin itu kamu sama aku sekarang, sampe-sampe kamu ketakutan buat ninggalin aku, hah?" goda Gandhi sambil menoel dagu Yunda.


"Hish Mas Gandhi orang aku lagi serius!" omel Yunda sambil memukul dada Gandhi pelan.


"Yun, Yun, kalau sampai benar Mama ngasih saham sebanyak itu ke kamu, itu berarti kamu udah masuk jajaran dewan komisaris di Pradana Utama. Kalau kamu udah jadi dewan komisaris, apa lagi yang harus kamu takutin? Kamu tuh udah punya kuasa Yun dengan saham segitu." jawab Gandhi.


"Asal kamu tau yah, Mama sama Papa itu hanya punya saham empat puluh persen, sisanya dibagi tiga ke aku, ke Kak Ghazan dan ke Kak Galang. Ya, taro lah saham yang untuk aku diberikan untuk kamu terus ditambah lagi sepuluh persen dari saham mereka, itu berarti posisi kamu dengan orangtua aku kan sama." kata Gandhi lagi.


"Serius begitu?" tanya Yunda tak percaya.


"Iya Sayang. Kan itu perusahaan keluarga, bukan milik publik, jadi pemegang sahamnya yah cuma anggota keluarga aja." jawab Gandhi.


"Jadi rasanya gak akan mungkin lah kalau Mama aku sampe ngasih saham segitu banyak ke kamu secara cuma-cuma." kata Gandhi lagi.


Mendengar penjelasan Gandhi barulah Yunda bernafas lega.


"Syukurlah kalau begitu. Aku pikir ada kemungkinan Mama kamu akan memberikan saham segitu banyak untuk aku." ucap Yunda.


"Sekarang kamu ngaku, kamu udah bucin kan sama aku?" tanya Gandhi sambil mendekatkan wajahnya ke Yunda.


💋💋💋


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2