
Sepuluh menit kemudian.
Yunda keluar dari kamar mandi. Tanpa melihat Gandhi yang sudah memberi kode, Yunda berjalan begitu saja untuk memakai cream malam-nya. Setelah memakai cream malam, barulah Yunda berjalan menuju ranjang.
Setiba-nya diranjang, barulah Yunda melihat Gandhi yang tidak memakai selimut. Sampai disini, Yunda masih belum ngeh kalau Gandhi hanya memakai boxer dan Mas Gagah sudah tidak terkurung dalam jetuji kainnya.
Namun, saat Yunda hendak memakaikan selimut ke Gandhi, disitu barulah Yunda menyadari kalau Mas Gagah ternyata sedang demo di balik boxer.
Penampakan Mas Gagah yang menjulang tinggi seperti menara sutet dibalik boxer terlihat jelas di mata Yunda.
"Ekhem..." Yunda berdehem, melihat Mas Gagah yang sudah bertegangan tinggi membuat Yunda salah tingkah dan hasrat bira.hi-nya meronta-ronta.
Jika biasanya sesuatu yang lowbet itu sudah tidak berdaya, beda hal-nya dengan Mas Gagah, makin lowbet makin keras dan menjulang tinggi dan sangat berdaya untuk tantrum.
Yunda menaikkan pandangannya ke wajah Gandhi.
Kok bisa sih, juniornya bangun tapi Mas Gandhi malah tidur pules banget. Gumam Yunda dalam hati.
Kemudian Yunda menurunkan lagi pandangannya ke Mas Gagah.
Punya ku nyut-nyutan juga lagi. Gimana ini? Apa aku bangunin Mas Gandhi aja yah? gumam Yunda lagi dalam hati.
Gak, gak, gak! Kasihan Mas Gandhi, pasti capek. Biarin aja Mas Gandhi istirahat dulu, besok pagi baru aku ajak ngecas. Gumam Yunda dalam hati.
Saat Yunda sedang bergumam, Gandhi sesekali membuka sedikit matanya.
Mikir apa sih dia?! Tinggal pegang aja kok banyak mikir! Ayo Yun, pegang! Pegang Yun! Mas Gagah udah tantrum tuh Yun. Gumam Gandhi dalam hati.
__ADS_1
Tapi semuanya buyar, ketika tiba-tiba ponsel Yunda berdering. Mendengar ponselnya berdering, Yunda cepat-cepat mengambil ponselnya yang ada di meja rias.
Breng.sek! Siapa sih yang nelpon jam segini! Pasti itu Bayu! Awas loe yah Bay! maki Gandhi dalam hati yang menyangka kalau yang menelpon Yunda itu Bayu, karena Gandhi sengaja menonaktifkan ponselnya demi kelancaran misi-nya malam ini.
Tapi Gandhi lupa kalau Bayu punya nomor telepon Yunda dan Gandhi tidak memperhitungkan kalau bisa saja Bayu menghubungi Yunda.
Sayangnya perkiraan Gandhi salah, itu bukan telepon dari Bayu, melainkan dari Rosa, adik bungsu Rio.
"Oca?" lirih Yunda pelan saat melihat nama mantan adik iparnya.
"Mau ngapain Oca nelepon jam segini? Apa terjadi sesuatu dengan Bu Marni?" cicit Yunda lagi.
Yunda melirik ke arah tempat tidur. Melihat Gandhi masih tidur, Yunda pun memutuskan untuk menjawab telepon mantan adik iparnya itu. Sambil menggeser tombol hijau, Yunda berjalan menuju balkon.
Sedangkan di tempat tidur, melihat Yunda ke balkon, Gandhi yakin kalau si penelpon bukan Bayu.
"Halo." jawab Yunda.
"Mbak Yunda, ini Oca." balas Rosa.
"Iya Ca, kenapa?" tanya Yunda.
"Mbak Yunda sehat?" tanya Rosa basa-basi.
"Sehat Ca. Kamu gimana?" tanya Yunda balik.
"Sehat Mbak." jawab Rosa.
__ADS_1
"Kalau Ibu?" tanya Yunda lagi.
"Masih begitulah Mbak, belum ada kemajuan." jawab Rosa.
"Sekarang kamu di Solo atau masih di Jakarta?" tanya Yunda.
"Masih di Jakarta, Mbak. Di Solo, kita udah gak punya apa-apa lagi. Mas Arya mengambil sertifikat dan membalik namakannya atas nama dia, terus rumah Ibu di jual sama dia. Bukan cuma rumah Ibu, toko dan rumah Mas Rio juga di jual sama Mas Arya." jawab Rosa.
"Apa??!!!! Kapan itu?" tanya Yunda.
"Waktu Mbak Ratna masuk penjara, Mbak." jawab Rosa.
Kalau kejadiannya pas Mbak Ratna masuk penjara, pasti Mas Gandhi tahu soal ini. Kalau Mas Gandhi tau, kenapa dia gak ngasih tau aku? gumam Yunda dalam hati.
"Mbak, Oca nelepon Mbak Yunda bukan minta Mbak Yunda maafin Mas Rio atau Mbak Ratna atau bahkan membantu biaya pengobatan Ibu, Oca sadar Mbak, kalau perbuatan keluarga kami ke Mbak dulu memang sangat keterlaluan dan kami pantas menerima semua ini. Tapi Oca nelepon Mbak Yunda untuk minta tolong sama Mbak Yunda, tolong bawa anaknya Mbak Yunda ketemu sama Ibu, Ibu pengen banget ketemu sama cucu-nya. Dari kemaren Ibu pengen banget ketemu sama cucu-nya, dia sampe mogok makan sebelum ketemu sama cucu-nya. Oca mohon Mbak, tolong pertemukan Ibu dengan cucu-nya." mohon Rosa.
"Um... Kalau itu Mbak gak bisa kasih jawabannya sekarang, Mbak harus bicarakan ini dengan suami Mbak dulu, walau suami Mbak bukan bapak kandung Reesha, tapi suami Mbak lah orang pertama selain Mbak yang menyanyangi Reesha." jawab Yunda.
"Oca mohon Mbak, sekali ini aja." mohon Rosa.
"Um. Ya udah yah, Mbak tutup teleponnya." balas Yunda lalu menutup teleponnya.
Melihat panggilan telepon berakhir, Gandhi pun berjalan menuju sofa depan ranjang dan duduk disana menunggu Yunda masuk ke ruang tidur.
Walau Gandhi tidak mendengar apa yang di katakan si penelpon, tapi dari kata-kata Yunda yang Gandhi dengar, Gandhi bisa menyimpulkan kalau si penelpon minta di pertemukan dengan Reesha. Gandhi pun yakin kalau si penelpon pasti keluarga mantan suami Yunda.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...