
"Loh, Mas Gandhi tinggal disini juga?" tanya Yunda.
"Gak lah. Tapi kalau kamu mau aku tinggal disini juga, aku bisa banget kok." jawab Gandhi.
"Hish, yah jangan lah Mas, nanti jadi fitnah." jawab Yunda.
Gandhi hanya terkekeh kecil.
"Ya udah, kamu sama Reesha istirahat aja disini, biar aku urus barang-barang kamu di kosan." ucap Gandhi.
"Langsung hari ini juga, Mas?" tanya Yunda.
"Iya. Kan lebih cepat kamu pindah lebih baik, biar mantan suami kamu gak sempet nyium keberadaan kamu." jawab Gandhi.
Oh... Yunda hanya membulatkan mulutnya.
Kemudian Gandhi menengadahkan tangannya.
"Apa?" tanya Yunda.
"Kunci kamar mu." pinta Gandhi.
Oh.. Yunda membulatkan mulutnya lalu mengeluarkan kunci kamar kos-nya lalu memberikannya pada Gandhi.
"Ya udah, aku pergi yah." Pamit Gandhi
"Oh iya, apartemen ini gak pernah aku tinggalin, jadi didapur gak ada apa-apa. Kalau kamu mau makan atau beli apapun, beli aja lewat online." ucap Gandhi.
"Baik Mas." jawab Yunda.
Gandhi mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan uang sebesar sepuluh juta untuk Yunda berbelanja kebutuhan dapur.
TRING. Bunyi notifikasi m-banking di ponsel Yunda.
__ADS_1
"Tuh aku udah transfer uang buat kamu belanja." ucap Gandhi.
Mata Yunda membulat lalu cepat-cepat mengambil ponselnya dan melihat pesan m-banking.
"Astaga Mas Gandhi, ini banyak banget. Harusnya Mas Gandhi gak usah kasih uang, aku kan punya uang." ucap Yunda.
"Kamu mau nurunin harga diri aku?" tanya Yunda dengan tatapan mengintimidasi.
"Udah pake aja uang itu, awas kalau gak di pake!" ucap Gandhi.
"Aku pergi yah." pamit Gandhi lalu keluar dari dalam apartemen.
Kini Gandhi sudah berada di dalam mobil.
Sebelum pergi ke kosan Yunda, Gandhi ingin pergi ke kantor pengacara langganannya yang biasa mengurus masalah di perusahaan.
Tapi sebelum pergi ke kantor pengacara itu, Gandhi menghubungi Derel dan Angga dan meminta dua sahabatnya itu datang ke kosan Yunda sambil membawa dua-tiga orang untuk membantu membereskan barang-barang Yunda.
Semakin banyak orang yang mengemas barang-barang Yunda, maka semakin cepat selesai.
💋💋💋
Kantor pengacara.
Sesampainya di kantor pengacara, ternyata pengacara Batara sedang tidak ada di kantor. Mau tidak mau Gandhi menunggu sampai pengacara Batara datang.
Gandhi ingin membicarakan masalah Yunda langsung dengan pengacara Batara, makanya dia rela menunggu sampai pengacara Batara datang.
Setelah menunggu hampir dua puluh menit, akhirnya pengacara Batara datang.
"Maaf Pak Gandu sudah menunggu lama." ucap pengacara Batara.
"Gak pa-pa Pak. Kan saya yang mau nunggu." Jawab Gandhi.
__ADS_1
"Apa ada masalah penting sampai Pak Gandhi datang langsung ke kantor saya?" tanya pengacara Batara.
"Jadi gini Pak..." Gandhi pun menceritakan masalah Yunda pada pengacara Batara.
"Apa Pak Batara bisa membantu saya?" tanya Gandhi.
"Bisa. Tapi karena mereka domisili di Solo, berarti saya harus pergi ke Solo menyelesaikan masalah ini." ucap pengacara Batara.
"Tenang saja Pak, biaya transport dan hotel akan saya bayar di luar jasa Pak Batara dan saya akan bayar tiga kali lipat kalau Pak Batara bisa menyelesaikan masalah ini dalam waktu tiga hari." ucap Gandhi.
"Tiga hari?" lirih pengacara Batara sambil mengernyitkan keningnya.
"Kalau bisa selesai dalam tiga hari saya tidak janji, tapi akan saya usahakan tidak lebih dari seminggu." jawab pengacara Batara.
"Pokoknya usahakan secepatnya Pak." balas Gandhi.
"Siap Pak." jawab pengacara Batara.
Setelah urusan dengan pengacara Batara selesai, Gandhi pun keluar dari kantor pengacara Batara.
KRIIING....
Baru juga Gandhi sampai di dalam mobil, tiba-tiba ponselnya berdering.
Angga. Itulah nama yang melakukan panggilan di ponsel Gandhi.
Gandhi pun memasang earphone bluetooth ke telinganya lalu menggeser tombol hijau di layar ponsel.
"Apa?" tanya Gandhi sambil menyalakan mesin mobil.
"Dimana? Kita udah di kosan Yunda nih!" ucap Angga.
"Lagi di jalan, sebentar lagi nyampe." jawab Gandhi lalu mengakhiri panggilan teleponnya setelah itu melajukan mobilnya keluar dari area parkiran kantor pengacara Batara menuju kos-an Yunda.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...