
"Kita? Maksud Papa?" tanya Salsa.
"Iya kita. Apa kamu mau menikah dengan pasangan mu ini tanpa Papa?" jawab Papa Alan.
"Ma-maksud Papa? Papa mengizinkan Salsa menikah dengan Zola?" tanya Salsa.
"Hemh. Tapi dengan satu syarat." jawab Papa Alan.
"Kau, ubah dulu penampilan mu menjadi laki-laki, jadi saat di foto kalian seperti pasangan normal." ucap Papa Alan sambil menunjuk Zola.
"Dan, pernikahan di lakukan secara tertutup, hanya ada kalian, Papa, pemuka agama, catatan sipil, dan tiga orang teman kalian, sudah itu saja!" ucap Papa Alan lagi.
Salsa dan Zola saling pandang.
"Apa Papa tidak sedang membohongi kami?" tanya Salsa.
"Apa kamu melihat Papa seperti sedang berbohong?" tanya Papa Alan balik.
"Tapi kenapa Papa tiba-tiba-"
__ADS_1
"Karena Papa sudah lelah. Sekarang Papa akan mengikuti mau mu. Tapi, jika di tengah jalan kamu tidak bahagia dengan pilihan mu dan ingin kembali ke Papa, disaat itu terjadi, jangan coba-coba untuk meninggalkan Papa lagi dan kamu harus menuruti semua kemauan Papa!" potong Papa Alan.
"Sekarang kalian keluar. Persiapkan diri kalian seperti yang Papa katakan tadi." kata Papa Alan lagi.
Salsa dan Zola pun keluar dari ruang kerja Papa Alan. Tanpa perlu pikir panjang lagi, mereka langsung ke salon untuk mengubah penampilan Zola menjadi seperti laki-laki.
💋💋💋
Satu minggu kemudian.
Surat cerai Gandhi-Salsa sudah keluar satu hari setelah Gandhi lanjut mengurusnya.
Sudah satu minggu ini Gandhi, Bayu dan Yunda bekerja keras untuk membuat rincian perintisan usaha baru mereka.
Setelah memikirkan mesin-mesin apa saja yang harus dibeli, berapa sumber daya manusia yang di butuhkan, lokasi penampungan sampah plastik dan tempat pengolahan sampah plastik, sekaligus menghitung budget yang di butuhkan, mereka lanjut memikirkan kira-kira benda apa saja yang bisa mereka produksi dari sampah plastik yang sudah di daur ulang.
"Bagaimana kalau kita produksi pot tanaman, hiasan dinding, tas belanja atau pouch." Ide Yunda.
Gandhi dan Bayu menganggukkan kepalanya, mereka nampak setuju dengan ide Yunda.
__ADS_1
"Kalau begitu kita juga harus mencari para pengrajin untuk memproduksi benda-benda itu." ucap Gandhi.
"Kalau itu serahkan saja pada saya, saya akan mencari di kota yang terkenal dengan para pengrajinnya." sahut Bayu.
"Oke, ku serahkan tugas itu padamu. Biar besok, aku dan Yunda pergi ke dinas terkait untuk meminta izin mengambil limbah plastik, sekalian mencari investor untuk membantu kita merintis usaha kita." ucap Gandhi.
Walau mempunyai niat baik ingin mengurangi masalah sampah, tapi Gandhi tetap harus meminta izin pada dinas terkait.
Setelah rapat selesai, Bayu pun pamit pulang, sedangkan Gandhi dan Yunda masih tetap berada di ruang kerja.
"Kamu istirahat aja Yun, ini kan udah jam sembilan." ucap Gandhi.
"Masa kamu belum istirahat sedangkan kamu masih kerja." jawab Yunda.
"Sebentar lagi juga selesai kok ini. Tinggal meriksa beberapa berkas aja yang harus dibawa besok. Jadi sekarang kamu tidur duluan aja, setengah jam lagi aku nyusul." jawab Gandhi.
"Ya udah, aku ke kamar duluan yah." balas Yunda dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Gandhi.
Yunda berdiri dari duduknya, sebelum keluar dari ruang kerja tak lupa Yunda menyemangati suaminya dengan mengecup basah pipi Gandhi.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...