
"Oh." Rio hanya membulatkan mulutnya.
Melihat wajah Rio seperti ingin menyampaikan sesuatu, Gandhi pun memberi ruang untuk Rio dan Reesha mengobrol.
"Aduh Papa laper banget nih Sha, kamu disini dulu yah sama Om Rio, Papa cari makanan dulu." izin Gandhi.
Mata Reesha melongo saat Gandhi ingin meninggalkannya bersama Rio. Tapi dengan cepat Gandhi memberi kode dengan senyuman pada Reesha seolah-olah ingin mengatakan kalau dirinya tidak akan benar-benar pergi.
Wajah Reesha yang sempat tegang kembali mengendur.
"Kamu mau makan apa biar sekalian aku beliin?" Gandhi bertanya pada Rio.
"Terserah, samain aja sama makanan yang kamu beli." jawab Rio.
"Gak tau diri! Harusnya kamu bilang gak usah, biar aku aja yang beli! Lah ini malah mau mesen makanan yang aku pesen! Bener-bener tuan rumah yang gak ramah!" sindir Gandhi sambil keluar dari ruang tengah.
"Cih!" decih Rio sambil memutar bola matanya malas.
Benar-benar mau bikin image aku jelek dk depan Reesha yah di depan Reesha. Gerutu Rio dalam hati.
"Di minum Sha." ucap Rio pada Reesha setelah Gandhi pergi.
"Iya Om." jawab Reesha.
"Um... kamu kelas berapa sekarang?" tanya Rio basa-basi.
"Kelas tiga SMP, Om." jawab Reesha.
"Berarti tahun depan kamu udah masuk SMA dong?" tanya Rio lagi dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Reesha.
"Cepet juga yah ternyata waktu berlalu." cicit Rio.
"Ibu kamu apa kabar?" tanya Rio.
"Baik Om." jawab Reesha.
__ADS_1
"Kenapa gak di ajak kesini juga?" tanya Rio.
"Papa gak bolehin, kalau Ibu ikut kesini nanti gak ada yang jaga adik-adik di rumah." jawab Reesha.
"Oh." balas Rio. Padahal dalam hatinya ngedumel karena tau itu hanya alasan Gandhi saja, alasan yang sebenarnya pasti karena Gandhi cemburu kalau Yunda bertemu dengan dirinya.
"Adik kamu berapa?" tanya Rio.
"Tiga, Om." jawab Reesha.
"Oh." balas Rio.
"Papa kamu baik gak?" tanya Rio.
"Baik banget lah Om. Papa adalah sosok ayah dan suami yang sangat baik dan bertanggung jawab untuk kami anak-anaknya dan Ibu, Papa gak pernah kasar sama Ibu dan anak-anaknya, apa yang Ibu dan kami anak-anaknya minta pasti Papa berikan, pokoknya Papa sosok laki-laki panutan banget lah. Saat Reesha dewasa nanti, Reesha mau punya suami yang seperti Papa. Penyayang, bertanggung jawab, gak pelit dan gak kasar." jawab Reesha.
Rio menghela nafasnya kasar. Mendengar kata-kata Reesha dia merasa tersindir. Semua yang ada pada diri Gandhi sangat bertolak belakang dengan dirinya saat menjadi suami Yunda.
"Jadi kamu dan Ibu kamu hidup bahagia?" tanya Rio.
"Oh, syukurlah." balas Rio.
Rio pun diam dan tak lagi banyak bertanya. Makin banyak bertanya, dadanya semakin sesak karena membayangkan hidup Yunda yang sangat bahagia setelah berpisah dengannya.
Padahal dulu, dia menyepelekan Yunda, Rio pikir Yunda tidak bisa membesarkan Reesha dengan baik dan tidak akan ada laki-laki yang mau menikahi Yunda dan hanya ingin bermain-main dengan Yunda. Rio pikir, Yunda hanya akan menjadi simpanan pengusaha yang suatu saat nanti terkena azab. Tapi nyatanya, dia yang terkena azab, usahanya bangkrut, ibu nya meninggal dan keluarganya hancur.
Seandainya Gandhi bukan orang baik, sudah pasti sekarang dia, Mbak Ratna dan Rosa akan hidup menjadi gembel di jalanan.
"Om..." panggil Reesha.
"Ya." jawab Rio.
"Om, ayah kandungnya Reesha kan?" tanya Reesha.
Mata Rio membulat lebar.
__ADS_1
"K-k-kok ka-ka-kamu tau?" tanya Rio terbata-bata.
"Papa udah cerita sama Reesha tentang Om." jawab Reesha.
"Pa-pa-papa ka-ka-kamu cerita apa aja tentang Om?" tanya Rio.
"Gak banyak, Papa cuma bilang kalau saat Reesha masih bayi Papa menceraikan Ibu." jawab Reesha.
"Apa benar itu, Om?" tanya Reesha.
Rio diam sejenak.
Jaga image pun sudah tidak ada artinya lagi.
Mungkin ini saatnya aku mengakui dosa-dosa ku pada Reesha dan meminta maaf pada Reesha agar dia bisa menerima ku sebagai ayahnya. gumam Rio dalam hati.
Rio menganggukkan kepalanya.
"Maafkan Om, saat itu pikiran Om terlalu pendek, Om menyalahkan Ibu mu atas sepi nya toko Om, bahkan dengan tidak berperasaannya Om menghina kamu dan Ibu mu pembawa sial, padahal sepi nya toko Om karena Om tidak menafkahi Ibu mu dengan baik. Maafkan Om, Sha." jawan Rio.
"Reesha gak tau apa-apa saat itu, jadi Reesha sama sekali gak merasakan sakit hati. Kalau Om memang mau minta maaf, harusnya Om minta maaf ke Ibu, karena Ibu yang merasakan semuanya." jawab Reesha.
Rio terdiam.
"Makasih yah Om." ucap Reesha.
"Untuk?" tanya Rio.
"Karena sudah menceraikan Ibu dan menelantarkan aku dan Ibu. Seandainya Om gak menceraikan Ibu, mungkin sekarang Reesha gak akan bisa menikmati hidup enak seperti sekarang ini. Bisa memakai pakaian mahal, apa yang Reesha mau tinggal tunjuk, bersekolah di sekolah internasional, bisa makan makanan enak setiap hari, diperlakukan layaknya anak kandung oleh ayah sambung Reesha dan yang paling penting Reesha gak perlu melihat Ibu menangis." jawab Reesha.
Nyes. Makin sesak saja dada Rio mendengarnya.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1