Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 134


__ADS_3

"Mas..." panggil Yunda sambil berjalan mendekati Gandhi dan Nara.


Sontak Gandhi dan Nara menoleh ke arah Yunda.


"Kenalin Ra, ini istri aku." ucap Gandhi begitu Yunda didekatnya.


Nara menjulurkan tangannya.


"Nara."


"Yunda." Yunda menyambut uluran tangan Nara.


Mereka pun bersalaman beberapa detik.


"Kamu kapan nikahnya Gan, kok gak ngundang-ngundang?" tanya Nara.


"Udah setahun Ra. Memang gak ngundang siapa-siapa, cuma ngundang keluarga aja biar intimate." jawab Gandhi.


Selagi Nara dan Gandhi mengobrol, Yunda bergumam dalam hati, dia seperti pernah mendengar nama Nara. Sambil bergumam mengingat-ingat dimana dia pernah mendengar nama Nara, Yunda kembali melihat cara Gandhi berbicara dengan Nara.


"Nara..." tiba-tiba seorang pria memanggil Nara.


Sontak Gandhi, Nara dan Yunda menoleh kearah pintu masuk toko boneka.


Begitu pria itu melihat Gandhi, wajahnya yang sumringah langsung berubah menjadi sangar.


Ya, pria itu adalah Rangga.


Rangga berjalan dengan langkah panjang mendekati Gandhi, Nara dan Yunda.


"Hai Ga." sapa Gandhi. Dia tidak peduli dengan wajah Rangga yang sangar.


"Hemh." jawab Rangga.


"Kamu kok lama banget sih, Ra, nyari boneka aja udah kayak nyari jarum dalam sekam." omel Rangga.

__ADS_1


"Ketemu sama Mas Gandhi, Mas, jadi kita ngobrol bentar." jawab Nara.


"Oh iya Mas, ini istrinya Mas Gandhi." kata Nara lagi.


Rangga melihat Yunda.


Oh udah punya istri toh. Cantik juga. Tapi masih cantikan Nara sih. Gumam Rangga dalam hati


"Rangga." ucap Rangga sambil menyodorkan tangannya pada Yunda.


"Yunda." balas Yunda.


Tak lama menyusul lah si kembar empat dengan empat baby sitternya ke dalam toko.


"Mami..." teriak salah satu anak Nara.


Sontak Gandhi, Yunda, Nara dan Rangga menoleh ke arah pintu.


"Itu anak kamu, Ra?" tanya Gandhi.


"Iya." jawab Nara.


"Ini beneran kembar Ra?" tanya Gandhi masih tak menyangka.


"Iya Mas. Tiga laki-laki dan satu perempuan." jawab Nara.


"Kamu sendiri sudah punya anak?" tanya Nara.


"Sudah satu. Perempuan. Mungkin seumuran sama anak kamu." jawab Gandhi.


Nara mengernyirkan keningnya heran.


Bukannya tadi Mas Gandhi bilang baru nikah satu tahun, lah kok anaknya seumuran sama anak-anak aku? gumam Nara dalam hati.


Hanya dalam hati, karena Nara tidak enak menanyakan langsung pada Gandhi.

__ADS_1


"Udah yuk Sayang, anak-anak udah pada laper tuh." ucap Rangga.


Nara menganggukkan kepalanya.


"Aku duluan yah, Mas, Mbak, senang loh bisa ketemu kalian." pamit Nara.


Nara, Rangga dan keempat anaknya pun keluar dari toko boneka.


Mata Gandhi tak henti-hentinya melihat kepergian anak-anak Nara. Tapi di pikiran Yunda, Gandhi terus melihat Nara.


"Udah selesai?" tanya Gandhi.


"Udah." jawab Yunda ketus.


"Udah kamu bayar?" tanya Gandhi lagi.


"Belum. Nih bayar." jawab Yunda sambil menyerahkan boneka yang ada ditangannya ke Gandhi lalu cepat-cepat keluar dari dalam toko.


"Dia kenapa? Jangan bilang lagi datang bulan! Gagal dong staycation kalau dia dateng bulan!" gumam Gandhi bertanya-tanya atas sikap Yunda yang tiba-tiba jutek.


Gandhi pun membawa boneka yang ada ditangannya ke kasir. Setelah membayar, cepat-cepat Gandhi mengejar Yunda lalu menggenggam tangannya tapi Yunda menepisnya.


Karena ditepis, Gandhi pun merangkul pundak Yunda, tapi lagi-lagi langsung Yunda tepis.


Yunda ngambek.


"Kamu kenapa sih Yun?" tanya Gandhi.


"Pikir aja sendiri." jawab Yunda.


Gandhi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Kalau perempuan sudah mengeluarkan kalimat keramatnya, terserah dan pikir saja sendiri, itu artinya laki-laki diminta menjadi cenayang yang bisa membaca isi hati dan pikiran orang. Jangan harap bisa ngecas sebelum mendapat jawaban dari teka-teki misteri yang di buat para istri.


Alamat gak bisa ngecas nih Mas Gagah! gumam Gandhi dalam hati.

__ADS_1


💋💋💋


Bersambung...


__ADS_2