
Reesha sudah mendapat imunisasi BCG, hari ini hanya satu suntikan saja, bulan depan mereka disuruh datang lagi untuk memberi suntikan DPT pada Reesha.
Yunda dan Gandhi pun keluar dari ruang dokter.
"Kok tadi Mas Gandhi bilang gitu sih?" omel Yunda.
"Bilang gitu gimana?" tanya Gandhi yang sedang menggendong Reesha.
"Ya bilang kalau Mas Gandhi gak pernah nemenin aku dari kandungan tujuh bulan sampe melahirkan. Pasti dokter mikirnya Mas Gandu ini suami aku." jawab Yunda.
"Terus kamu mau jawab apa? Kamu mau jual cerita sedih kamu ke dokter? Memangnya dengan kamu menjual cerita sedih ke dokter, terus dokter peduli gitu? Ya gak lah! Dokter tadi itu dokter anak, yang dia peduliin yah cuma kesehatan anak-anak. Jadi apapun permasalahan kamu, pasti dokter akan tetap nasehatin kamu panjang lebar. Jadi daripada denger dokter nasehatin kamu panjang lebar yah mending aku ngaku salah aja, biar cepet." jawab Gandhi berbohong, padahal dia hanya tidak mau Yunda merasa bersalah karena tidak memperhatikan suntikan wajib Reesha.
"Udah gak usah dibahas lagi soal itu, sekarang aku mau ngajak kamu ke suatu tempat." ucap Gandhi.
"Kemana?" tanya Yunda.
"Ada deh, pokok ya kamu ikut aja." jawab Gandhi lalu menggandeng tangan Yunda dan terus berjalan menuju pintu keluar.
Saat Gandhi dan Yunda sudah hampir sampai di pintu keluar, di kejauhan seseorang yang sangat mengenal Yunda memicingkan matanya mempertajam pandangannya ke arah Yunda.
"Itu bukannya Yunda?" gumam orang itu.
Merasa penasaran, orang itu pun berjalan dengan langkah panjang mendekati Yunda dan Gandhi.
"Yunda." panggil orang itu setelah berjarak beberapa meter dari Yunda dan Gandhi.
Sontak Yunda dan Gandhi menoleh kearah orang itu.
__ADS_1
Mata Yunda membulat lebar saat melihat orang yang memanggil dirinya.
"Mas Rio." lirih Yunda.
Ya, orang itu adalah Rio, mantan suami Yunda.
"Jadi bener kamu Yunda, aku pikir cuma mirip aja." ucap Rio.
"Dia siapa Yun?" tanya Gandhi.
Yunda diam.
Rio melirik Gandhi dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Hebat kamu yah, baru beberapa bulan cerai udah punya yang baru?" sindir Rio.
"Mas, udah Mas gak usah di ladenin, ayo kita pergi." ucap Yunda menahan emosi Gandhi.
"Lucu kamu yah nanya siapa saya! Kamu gak liat anak yang kamu gendong itu mukanya mirip sama saya, hah?" jawab Rio.
Gandhi mengeraskan rahangnya.
"Oh jadi ini laki-laki yang udah menelantarkan anak dan istrinya, bahkan menalak istrinya saat istrinya sakit?" sindir Gandhi.
Rio tersenyum kecut.
"Tau apa kamu, hah! Kamu kenal sama dia baru aja, jadi kamu masih lihat yang manis-manisnya! Aslinya perempuan ini pemalas dan gak guna, pembawa sial lagi!" balas Rio.
__ADS_1
Rahang Gandhi makin mengeras, tangannya juga sudah mengepal siap menonjok Rio. Untungnya Gandhi sedang menggendong Reesha jadi dia masih bisa mengontrol emosinya.
"Hanya laki-laki pengecut, pecundang dan munafik yang ngejelekin mantan istrinya setelah bercerai!" jawab Gandhi.
"Udah Mas, udah, gak usah di ladenin! Kita pergi aja." ucap Yunda lalu membalikkan badan Gandhi.
"Oh iya Yun, aku mau kasih tau ke kamu, kita itu belum resmi bercerai secara negara." ucap Rio.
Mendengar itu, sontak Yunda membalikkan badannya lagi menghadap Rio.
"Maksud kamu?" tanya Yunda.
"Surat yang kamu tanda tangani waktu itu belum aku masukin ke pengadilan agama, dengan kata lain, kita belum resmi bercerai secara negara. Jadi jangan harap kamu bisa nikah lagi! Kamu harus membayar kesialan yang sudah kamu berikan di keluarga ku!" jawab Rio.
Kemudian Rio melirik Gandhi lalu Reesha.
"Siap-siap aku akan menggugat kalian berdua dengan tuduhan perselingkuhan! Dan aku akan mengambil anak aku!" ucap Rio.
Mendengar itu, bukan hanya Yunda yang emosi, Gandhi juga makin emosi mendengar itu. Tangan Gandhi sudah gatal ingin memberikan bogem mentah ke wajah Rio.
Gandhi memberikan Reesha pada Yunda lalu...
Bugh...
Satu bogem mentah pun mendarat mulus di wajah Rio hingga membuat Rio terhuyung ke belakang.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...