Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BonChap 2


__ADS_3

Setengah jam kemudian.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun pulang.


Melihat mobil Gandhi memasuki halaman rumah, Yunda langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri mobil Gandhi.


Setelah mobil berhenti sempurna, Gandhi pun keluar dari pintu kemudi.


"Kamu darimana aja sih Mas! Kok lama banget pulangnya!" protes Yunda.


"Kangen yah?" Gandhi malah becanda sambil membuka pintu mobil bagian belakang dimana keempat anaknya sedang tertidur.


"Apaan sih! Orang aku kangen sama anak-anak aku!" balas Yunda sambil memukul lengan Gandhi.


"Cih kalau tau gitu, aku suruh supir jemput anak-anak, biar aku tinggal cuci mata disana." balas Gandhi memanas-manasi Yunda. Siapa suruh tidak mau mengakui kalau Yunda juga kangen Mas Gagah, eh... Mas Gandhi maksudnya.


"Ya udah, sana pergi aja lagi, cuci mata sampai bola mata kamu semuanya putih!" dumel Yunda.


Gandhi tertawa ngakak mendengar kata-kata Yunda.


"Mbak... Mbak Reesha, ayo bangun Mbak, udah sampe." Yunda membangunkan anak pertamanya yang sedang memangku Amirah Putri Gandhi, si bungsu.


Sedangkan si nomor dua, Ghaylan Putra Gandhi dan si nomor tiga Gamil Putra Gandhi tidur di kursi paling belakang.


"Eugh." Reesha melenguh.


"Udah sampe? Kok cepet banget sih?" tanya Reesha.


"Ya cepet lah orang kamu tidur." balas Yunda.

__ADS_1


Kemudian Gandhi mengambil alih Mirah yang tidur di pangkuan Reesha.


Setelah menggendong Mirah, Gandhi meminta satpam untuk mengeluarkan barang belanjaan mereka hari ini dengan di bantu Sus Indah, Sus Nur dan Sus Sari.


Sedangkan Yunda membangunkan dua anak laki-lakinya dan Gandhi bersama Mirah dan Reesha langsung berjalan memasuki rumah. Setelah Ghaylan dan Gamil bangun, mata Yunda membulat selebar-lebarnya saat melihat belanjaan yang di bawa satpam dan tiga suster anak-anaknya. Curiga kalau masih ada lagi di bagasi, Yunda pun mengecek bagasi.


"Astaga Mas Gandhi!!! Kok banyak banget dia belanja-nya!" pekik Yunda. Entah berapa puluh juta pengeluaran Gandhi untuk quality time dengan anak-anaknya hari ini.


Dengan nafas yang memburu Yunda cepat-cepat berjalan memasuki rumah, bahkan dia melewati Ghaylan dan Gamil begitu saja.


"Mas!!! Mas Gandhi!" teriak Yunda memanggil Gandhi yang sedang berjalan menuju ruang keluarga.


Gandhi menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Yunda.


"Apa sih Yun teriak-teriak? Suara kamu menggema kemana-mana tau. Kamu ngomong pelan aja aku denger kok." tanya Gandhi dengan nada santai. Nampaknya Gandhi sudah tau kalau istrinya itu berubah menjadi penyanyi rap karena melihat belanjaannya.


"Mbak Reesha, bawa adik mu naik." perintah Yunda begitu di dekat Gandhi.


"Ibu jangan galak-galak sama Papa yah, gak bagus tau, nanti Ibu cepet tua loh." ucap Mirah.


"Papa, kalau nanti Ibu marah-marahin Papa, Papa gak usah tidur sama Ibu yah, tidur sama Mirah aja biar aja Ibu ditemenin sama guling." kata Mirah lagi.


Bocah lima tahun itu memang sangat ceriwis.


Yunda hanya menaikkan sudut bibirnya mendengar putri bungsunya begitu membela Papa-nya, namanya juga anak perempuan sudah pasti bucin dengan Papa-nya apalagi mereka puas di belanja hari ini, sudah pasti keempat anak itu akan menjadi garda terdepan membela Papa-nya.


"Iya sayang." jawab Gandhi sambil mengelus rambut putri bungsunya.


"Mas Galan, Mas Gamil kalian langsung naik ke atas juga yah, ganti baju, cuci kaki, cuci tangan, sikat gigi terus tidur." ucap Yunda pada kedua anak laki-lakinya yang baru saja masuk ke ruang keluarga.

__ADS_1


Tanpa jawaban, kedua anak laki-laki itu pun meneruskan langkah mereka menuju lift lalu di susul Reesha dan Mirah.


"Apa sih Sayang? Udah malem masih aja ngomel." tanya Gandhi sambil berjalan menuju sofa lalu duduk di salah satu sofa panjang.


"Mas, udah berapa kali sih aku bilang jangan manjain anak-anak dengan membelikan semua yang mereka mau! Kalau kamu kayak gini terus mereka nanti jadi kebiasaan Mas. Mereka jadi gak tau berusaha." omel Yunda.


"Sini duduk." Gandhi menarik tangan Yunda hingga Yunda duduk di pangkuannya.


"Aku kerja kan buat kamu dan buat anak-anak. Ya gak pa-pa juga lah sesekali aku nurutin apa mau mereka. Lagian pengeluaran untuk belanja hari ini gak sampai lima persen dari keuntungan perusahaan. Anggap aja uang yang aku keluarkan untuk belanja mereka itu untuk menebus rasa bersalah aku karena gak bisa menemani mereka setiap hari, bahkan setiap weekend aku belum tentu bisa menemani mereka." ucap Gandhi.


"Iya Mas aku tau, tapi gak perlu sebanyak itu juga dong Mas! Kan bisa kamu sortir mana yang penting dan memang mereka butuhkan. Kalau kayak gini mah, sekalian aja kamu pindahin mall-nya kesini! Atau buat mall sendiri sekalian!" balas Yunda mendumel.


"Kok kamu tau Yun aku memang punya rencana bikin mall sendiri?"


"Jangan becanda kamu Mas! Aku serius!" balas Yunda.


"Serius! Ngeliat belanjaan sebanyak itu tadi aku juga kepikiran buat mall sendiri. Terus aku langsung hubungi Bayu buat cari tanah yang cocok untuk bangun mall." jawab Gandhi dengan santainya.


"Astaga Mas Gandhi!!!" geram Yunda.


"Ya gak pa-pa juga dong Yun, kan itu aset masa depan buat anak-anak juga. Jadi masa depan anak-anak kita terjamin." jawab Gandhi.


Yunda menghela nafasnya kasar.


"Terserah kamu aja deh Mas, aku capek debat sama kamu. Semakin aku ajak debat, semakin kamu lariin ke bisnis." balas Yunda.


Yunda yang tak tau mau bicara apa lagi pun langsung berdiri dari duduknya dari pangkuan Gandhi namun dengan cepat Gandhi menahan pinggang Yunda dan memeluk Yunda dengan sangat erat lalu meletakkan dagunya di bahu Yunda.


💋💋💋

__ADS_1


Bonchap 3 harap bersabar yah...


__ADS_2