Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 121


__ADS_3

Tak sampai lima belas menit setelah Yunda berada di apartemennya, tiba-tiba bel pintu berbunyi.


"Pasti Mas Gandhi deh itu tapi sok-sok'an mencet bel." dumel Yunda.


"Biar saya aja Mbak yang buka pintu." ucap Yunda saat Sus Nur hendak membuka pintu.


Yunda beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu. Sebelum membuka pintu, Yunda terlebih dulu melihat dari monitor untuk melihat siapa yang datang.


Ternyata bukan Gandhi yang datang.


"Sepertinya aku pernah melihat perempuan ini, tapi dimana?" gumam Yunda.


Ting Tong Ting Tong. Bel pintu kembali berbunyi.


Tapi Yunda enggan membuka pintu. Dia hanya menekan tombol suara untuk berbicara dengan perempuan yang ada didepan pintu.


"Siapa yah?" tanya Yunda.


"Saya Silvia, asisten Nyonya Zara." jawab perempuan itu.


Yunda menelan salivanya susah payah.


"Nyonya Zara ingin bertemu dengan Yunda." Ucap Silvia. Silvia tidak tahu kalau yang sedang berbicara itu adalah Yunda.


"Maaf, Bu Yunda sedang keluar." jawab Yunda.


"Jangan bohong! Saya melihat tadi Yunda sudah naik kesini." balas Silvia.


Berarti sejak tadi Mama-nya Mas Gandhi mengikuti kami. gumam Yunda dalam hati.


"Suruh saja Yunda turun ke kafetaria segera." ucap Silvia, setelah itu Silvia pun pergi dari depan pintu apartemen Yunda.


Dada Yunda terasa sesak sekali.

__ADS_1


"Aduh gimana ini? Aku harus gimana?" gumam Yunda.


"Apa aku telepon Mas Gandhi aja yah?" gumam Yunda lagi.


"Gak, gak, gak! Aku gak boleh kasih tau Mas Gandhi, aku gak mau bikin Mas Gandhi makin pusing. Aku harus hadapi Mama-nya Mas Gandhi sendiri." gumam Yunda lagi.


Yunda pun memutuskan untuk menemui Mama Zara di kafetaria apartemen itu sendirian.


💋💋💋


Kafetaria.


Baru juga sampai didepan pintu kafetaria, Yunda langsung di hampiri Silvia.


"Yunda kan?" tanga Silvia dan dijawab dengan anggukkan kepala oleh Yunda.


"Mari ikut saya." ucap Silvia lalu berjalan lebih dulu dan diikuti Yunda dari belakang sambil matanya celingak-celinguk melihat kanan-kiri.


Suasana dalam kafetaria cukup sepi, maklum saja masih siang dan kebanyakan penghuni apartemen masih bekerja. Biasanya kafetaria baru akan ramai di jam-jam makan malam.


Yunda melihat Mama Zara yang sama sekali tidak melirik padanya dan malah memasang ekspresi dingin padanya.


"Silahkan duduk." ucap Silvia mempersilahkan Yunda duduk.


Yunda pun duduk dikursi yang berhadapan dengan Mama Zara.


Setelah Yunda duduk, Silvia pun pergi meninggalkan Mama Zara dan Yunda berdua.


"Langsung saja. Ini ada cek tiga miliar, tinggalkan anak saya." ucap Mama Zara sambil menyodorkan selembar cek kehadapan Yunda.


Yunda melirik cek yang Mama Zara sodorkan. Seandainya Yunda perempuan matre, sudah pasti Yunda akan menerima cek itu dengan senang hati. Tapi sayangnya Yunda bukan perempuan matre, apalagi dia dan Gandhi sudah berjuang sampai sejauh ini, masa dia harus luluh dengan uang tiga miliar.


"Maaf Nyonya, cinta saya untuk Mas Gandhi tak bisa dibeli dengan uang." jawab Yunda.

__ADS_1


"Cih!!!" Mama Zara berdecih.


"Cinta! Memangnya bisa makan dengan cinta? Makan perlu uang bukan cinta!" ucap Mama Zara.


"Bukannya kamu punya anak? Saya akan memberi tunjangan pendidikan untuk anak mu sampai kuliah. Bagaimana?" Mama Zara masih berusaha bernegosiasi.


Melihat Mama Zara yang begitu gigih, bahkan sudah membawa-bawa Reesha, Yunda tersenyum kecut.


"Saya tidak akan pernah meninggalkan Mas Gandhi, Nyonya, kecuali..." Yunda menggantung kata-katanya untuk membuat Mama Zara penasaran.


"Kecuali apa? Cepat katakan!" desak Mama Zara.


"Kecuali Anda memberikan saya saham Pradana Utama sebesar tiga puluh persen." jawab Yunda.


BRAAAK. Sontak Mama Zara menggebrak meja.


"Apa kamu bilang? Saham Pradana Utama tiga puluh persen! Kamu gila, hah! Memangnya sepenting apa kamu sampai-sampai meminta sebanyak itu dari saya! Dasar perempuan tidak tau diri!" bentak Mama Zara dengan mata yang melotot.


"Ya sudah terserah Anda, kalau Anda tidak mau juga saya tidak memaksa. Kan ada yang ingin saya pergi dari kehidupan anak Anda, berarti Anda tau sendiri dong seberapa penting saya untuk anak Anda." balas Yunda percaya diri.


Rahang Mama Zara mengeras, nafasnya juga sudah memburu.


"Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, jadi saya permisi dulu." ucap Yunda lalu berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Mama Zara.


"Brengsek!!! Tinggi juga kalkulator-nya perempuan itu!" geram Mama Zara.


Sementara di dalam lift.


Yunda langsung berjongkok lemas begitu masuk ke dalam lift.


Pura-pura kuat dan tegas didepan Mama Zara padahal sekujur tubuhnya sudah bergetar hebat.


💋💋💋

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2