Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 119


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hari ini Gandhi, Yunda dan Bayu mulai bekerja sesuai dengan yang mereka rencanakan semalam.


Bayu mencari para pengrajin sedangkan Gandhi dan Yunda menemui dinas terkait untuk meminta izin mengelola limbah plastik dari TPA dan menemui investor yang mau bekerja sama dengan usaha baru Gandhi.


Pukul 19.00


Setelah seharian kesana-kemari, akhirnya Gandhi dan Yunda kembali ke apartemen. Saat mereka sampai di apartemen sudah ada Bayu disana.


Bayu sudah disana karena untuk sementara kantor mereka ada di ruang kerja di apartemen itu.


Begitu masuk ke ruang tengah, ingin sekali Gandhi menggendong Reesha, tapi karena Gandhi belum mandi, Yunda langsung melarang Gandhi menggendong Reesha.


"Jangan gendong Reesha dulu, kamu kan belum mandi Mas!" tegur Yunda.


Gandhi menghela nafasnya kasar, padahal obat lelahnya hanya dengan menggendong anak batinnya itu.


"Ya udah deh, aku ngobrol sama Bayu dulu. Kamu buatin aku kopi yah." jawab Gandhi.


Yunda menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju dapur sedangkan Gandhi berjalan menuju ruang kerja menemui Bayu yang kata Sus Indah sudah datang dari satu jam yang lalu.


Ruang kerja.


"Gimana Bay, kamu sudah dapat pengrajin yang mau bekerja sama dengan kita?" tanya Gandhi sambil mendaratkan bokongnya disofa.


"Sudah Pak. Mereka komunitas pengrajin yang ada di Bandung. Mereka bilang, siap untuk membantu kita, mereka juga tidak sabar perusahaan kita segera berjalan." jawab Bayu.

__ADS_1


"Pak Gandhi sendiri gimana?" tanya Bayu balik.


"Izinnya sih sudah dapat, tapi investor..." Gandhi menggantung kata-katanya sambil menggelengkan kepalanya.


Ceklek. Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka. Obrolan Gandhi dan Bayu pun terjeda.


Yunda masuk ke ruang kerja sambil membawa dua cangkir kopi beserta cemilannya.


Setelah meletakkan dua cangkir kopi untuk Gandhi dan Bayu serta cemilan diatas meja, Yunda pun ikut duduk disamping Gandhi.


"Jadi Bapak belum dapat investor?" tanya Bayu melanjutkan obrolannya dengan Gandhi yang terjeda.


Gandhi menganggukkan kepalanya.


"Bank juga gak ada yang mau ngasih pinjaman." kata Gandhi.


Bayu menghela nafas. Keningnya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.


Sejak tadi itulah pertanyaan yang ada dalam benak Yunda. Karena Yunda tau berapa nominal uang Gandhi di rekening yang tersimpan di bank swiss, ditambah lagi uang yang ada di rekening Yunda yang masih terpakai sedikit.


"Kita ini pebisnis Sayang, bukan pengusaha." jawab Gandhi.


"Apa bedanya pebisnis sama pengusaha?" tanya Yunda yang masih terlalu awam dengan dunia bisnis.


"Bedanya, kalau pengusaha mereka mengeluarkan uang pribadi mereka untuk modal. Kalau gak punya modal yah gak punya usaha. Sedangkan kita, modal kita bukan uang tapi ini (sambil menunjuk kepala Gandhi), modal kita itu ide untuk usaha dan uang untuk membuka usaha itu kita cari dari investor." jawab Gandhi.


"Coba aja kamu perhatikan para pebisnis yang sukses itu, mereka cuma lempar ide mereka ke para investor dan mengembangkan ide mereka dengan uang yang diberikan para investor. Bukan karena mereka gak mampu memodali usaha mereka, tapi itu juga termasuk trik dalam berbisnis. Karena kalau kita punya investor, secara otomatis investor yang menanamkan modalnya ke perusahaan kita akan membantu kita membuat promosi usaha kita. Dan itu jauh lebih menguntungkan ketimbang kita menggunakan modal pribadi kita." kata Gandhi lagi.

__ADS_1


Ooooh... Yunda membulatkan mulutnya.


"Bay, apa kamu tau investor selain para investor yang bekerjasama dengan Pradana Utama? Aku yakin para investor yang aku datangi tadi pasti sudah di hasut oleh orangtua ku agar tidak membantu ku. Jadi kita harus mencari investor yang belum pernah bekerja sama dengan Pradana Utama." tanya Gandhi.


"Kalau investor besar saya tidak tahu Pak, yang saya tahu yah cuma investor yang sering bekerjasama dengan Pradana Group." jawab Bayu.


"Tapi kita bisa mencari investor-investor kecil, kalau banyak investor kecil yang mau bekerjasama dengan kita kan hasilnya kan besar juga." kata Bayu lagi memberi ide.


"Bener juga kamu Bay. Tapi mau dimana kita mencari investor kecil?" tanya Gandhi.


"Ibu-ibu rumah tangga yang mau punya penghasilan tambahan, bagaimana menurut Pak Gandhi?" jawab Bayu.


"Memang mereka mau? Nanti mereka pikir kita ini penipu lagi." tanya Gandhi.


"Tenang Pak, kan ada mulut saya nanti yang akan meyakinkan para ibu-ibu. Mereka juga gak di haruskan menginvestasikan uang mereka banyak-banyak, yah minimal satu juta dan maksimal sepuluh juta. Dengan keuntungan yang kita janjikan tiga bulan setelah perusahaan berjalan, pasti mereka tertarik menginvestasikan uang mereka." jawab Bayu.


Gandhi diam sebentar untuk menimbang-nimbang ide Bayu.


"Oke, kita coba ide kamu kalau gitu." jawab Gandhi.


"Kamu siapin aja proposal untuk ibu-ibu itu, ingat bahasanya di permudah, agar ibu-ibu itu paham dengan jenis usaha kita." kata Gandhi lagi.


"Siap Pak." balas Bayu.


"Ya udah, saya tinggal dulu yah, saya mau mandi." pamit Gandhi lalu menyeruput kopi-nya.


Gandhi sudah tidak tahan ingin memeluk anak batinnya yang seharian ini dia tinggal.

__ADS_1


💋💋💋


Bersambung...


__ADS_2