
Tiga hari kemudian.
Dua baby sitter yang mengasuh Reesha sudah resmi bekerja dari dua hari yang lalu. Jadi Reesha tak lagi dibawa ke kantor oleh Yunda. Setiap pagi Gandhi juga menjemput Yunda dengan modus ingin bertemu Reesha terlebih dulu sebelum berangkat bekerja.
Pukul 11.00
Sesuai dengan keinginan Gandhi, surat cerai sudah berhasil pengacara Batara dapatkan.
Pengacara Batara pun pergi ke perusahaan Gandhi untuk mengantarkan langsung surat cerai itu pada Gandhi.
Dan disini lah pengacara Batara sekarang, di ruang kerja Gandhi.
"Silahkan diminum Pak." ucap Yunda sembari meletakkan teh diatas meja.
Yunda sama sekali tidak tau kalau tamu Gandhi itu adalah pengacara yang mengurus perceraiannya dengan Rio.
"Terimakasih." jawab pengacara Batara.
"Yun, duduk." perintah Gandhi.
Yunda pun duduk di sofa panjang yang berhadapan dengan pengacara Batara.
"Perkenalkan ini pengacara Batara." ucap Gandhi pada Yunda.
"Pak Batara, ini Yunda." ucap Gandhi pada pengacara Batara.
Yunda pun berdiri dari duduknya lalu menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pengacara Batara.
"Oh ini yang namanya Yunda." ucap pengacara Batara sambil menyambut uluran tangan Yunda.
__ADS_1
Sambil berjabat tangan, Yunda sambil melempar senyum pada pengacara Batara, setelah itu kembali duduk di sofa.
"Jadi Yun, Pak Batara ini yang mengurus perceraian kamu dengan mantan suami mu yang modelan oplet Mandra itu." ucap Gandhi memperkenalkan pengacara Batara.
Pengacara Batara tersenyum tipis mendengar ejekan Gandhi untuk mantan suami Yunda, sedangkan Yunda wajahnya terlihat biasa saja.
"Silahkan diberikan Pak." ucap Gandhi.
Pengacara Batara pun mengeluarkan surat cerai Yunda dan Rio dari dalam tasnya.
"Ini Mbak." ucap pengacara Batara sambil memberikan amplop coklat yang berisi surat cerai pada Yunda.
"Ini apa Pak?" tanya Yunda sambil mengambil amplop coklat itu.
"Buka saja." jawab pengacara Batara.
Yunda pun membuka amplop itu dan mengeluarkan akta cerai dari dalam amplop.
"Sekarang kamu sudah resmi bercerai dengan mantan suami mu itu, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi." ucap Gandhi.
"Kok bisa?" tanya Yunda.
"Kan sudah aku bilang, semua masalah ditangan ku beres, jadi tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi. Jadi sekarang kamu bisa melanjutkan hidup mu." jawab Gandhi.
Wajah Yunda nampak berseri-seri sambil membaca tulisan yang ada di akta cerai.
"Apa pihak laki-laki sudah mendapatkan akta cerainya?" tanya Gandhi.
"Harusnya sih sudah, Pak." jawab pengacara Batara.
__ADS_1
"Jadi semua sudah bereskan?" tanya Gandhi memastikan.
"Sudah Pak. Saya tidak membuat tuntutan apa-apa seperti nafkah anak, harta gono-gini dan sebagainya sesuai keinginan Pak Gandhi. Yang saya ajukan disitu pihak perempuan hanya ingin bercerai secara negara." jawab pengacara Batara.
"Bagus. Untuk apa juga menuntut nafkah untuk anak, ujung-ujungnya nanti ribut." balas Gandhi.
"Sepertinya saya harus pulang sekarang Pak Gandhi karena masih ada pertemuan dengan klien." ucap pengacara Batara sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Baik Pak, terimakasih atas bantuannya." jawab Gandhi.
"Harusnya saya yang berterimakasih pada Pak Gandhi." balas pengacara Batara.
Sebelum pengacara Batara keluar dari ruang kerja Gandhi, dia menghabiskan dulu teh yang Yunda suguhkan.
"Apa kamu sudah senang sekarang?" tanya Gandhi pada Yunda setelah pengacara Batara keluar.
Yunda menganggukkan kepalanya.
"Tapi akta cerai ini asli kan? Kalau palsu sama aja bohong." tanya Yunda ragu.
"Hish, kamu masih meragukan ku, hah? Aku sudah mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk mengeluarkan selembar akta itu, baru kamu bilang itu akta palsu. Kalau itu palsu tidak ada gambar garudanya saat diterawang. Coba kamu terawang, pasti ada." jawab Gandhi.
Yunda pun menerawang akta cerai dan benar saja ada gambar garudanya.
Melihat itu Yunda menghela nafasnya lega.
"Akhirnya..."
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...