
Setelah Yunda tidak nampak lagi, barulah Rio menghubungi Ratna.
"Halo Yo." jawab Mbak Ratna.
"Halo Mbak, sekarang Mbak dimana?" tanya Rio.
"Dirumah. Kenapa?"
"Mbak, apa ada surat atau apapun untuk Rio ke rumah Ibu?" tanya Rio.
"Gak ada." jawab Mbak Ratna.
"Coba Mbak kerumah Rio, mungkin di rumah Rio ada surat untuk Rio." pinta Rio.
"Surat apa sih Yo? Surat cinta? Kamu punya pacar baru?" tanya Mbak Ratna.
"Bukan Mbak, surat dari pengadilan agama. Yunda bilang katanya surat cerai kami mungkin sudah sampai di rumah Ibu atau rumah Rio sekarang. Coba Mbak periksa yah." jawab Rio.
"Ya udah, ya udah, Mbak periksa dulu." balas Mbak Ratna.
Panggilan pun berakhir.
Sambil menunggu Mbak Ratna menghubunginya lagi, Rio pun kembali ke kamar rawat Ibu-nya.
Di dalam kamar rawat sang Ibu, Rio nampak mondar-mandir gelisah menunggu telepon dari kakaknya.
"Duuuuh Mbak Ratna mana sih kok gak nelpon-nelpon." gelisah Rio padahal baru juga sepuluh menit dari Rio menghubungi Mbak Ratna.
Bu Marni yang melihat anaknya mondar-mandir ingin bertanya tapi mulutnya susah digerakkan.
"Yo..." setelah berusaha keras, akhirnya Bu Marni bisa memanggil Rio walau dengan mulut yang miring-miring.
Rio langsung menoleh kearah Bu Marni.
"Apa Bu?" tanya Rio.
"Yi-yi-ni (sini)." jawab Bu Marni.
"Apa sih Bu? Ibu haus?" tanya Rio kesal. Otaknya sudah mumet sekarang.
"Yi-ni." jawab Bu Marni lagi.
Rio pun berjalan mendekati ranjang Bu Marni.
"Apa?" tanya Rio.
"Pu-pen, ke-tas." jawab Bu Marni meminta pulpen dan kertas.
Rio pun mengambilkan note kecil dan pena dan memberikannya pada Bu Marni.
Dengan susah payah Bu Marni menuliskan dua kata untuk berkomunikasi dengan Rio.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Bu Marni.
"Rio lagi pusing mikirin biaya rumah sakit Ibu." Jawab Rio.
"Ibu sih pake sok-sok'an ikut-ikutan investasi, harusnya Ibu tanya-tanya dulu sama Rio biar Rio cek itu investasi bodong atau legal! Kalau udah begini Rio juga yang repot!" dumel Rio.
Bu Marni pun diam.
Lima belas menit kemudian.
KRIIING... Telepon yang ditunggu-tunggu Rio pun menelpon juga, cepat-cepat Rio menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo Mbak. Gimana ada gak?" tanya Rio.
"Iya Yo, ada." jawab Mbak Ratna.
"Aaargh!!!!" kesal Rio sambil menunju udara.
"Kenapa sih Yo kok kedengarannya kamu kesel gitu? Bukannya kamu harusnya senang karena kamu sudah resmi bercerai dengan Yunda? Kamu gak perlu ngeluarin duit lagi buat ngurus surat-surat ini." tanya Mbak Ratna.
"Ini bukan masalah surat cerai Mbak." jawab Rio.
"Kalau bukan karena masalah surat cerai, lalu karena apa?" tanya Mbak Ratna.
"Udahlah, ngomong sama Mbak Ratna juga gak ada gunanya, Mbak Ratna gak bakalan ngerti. Udah yah." jawab Rio lalu menutup teleponnya.
Setelah panggilan telepon dengan Mbak Ratna berakhir, Rio kembali mondar-mandir memikirkan cara membayar biaya rumah sakit.
💋💋💋
Setelah meeting dengan Tuan Maliq, Gandhi pun memutuskan kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan.
Saat dalam perjalanan menuju kantor, Gandhi yang penasaran dengan kondisi Yunda pun menghubungi Yunda, tapi sayangnya ponsel Yunda tidak aktif. Karena ponsel Yunda tidak aktif, Gandhi pun menghubungi Pak Qodir, supir perusahaan yang dia suruh mengantar Yunda.
"Bay, coba hubungi Pak Qodir dulu, sudah dimana dia?" perintah Gandhi pada Bayu yang sedang mengemudi.
Bayu mengeluarkan ponselnya dari saku jas-nya lalu dengan satu tangannya dia mencari nomor Pak Qodir dan menekan tombol hijau lalu cepat-cepat dia berikan pada Gandhi yang duduk di belakang.
"Ini Pak." ucap Bayu.
Gandhi pun mengambil ponsel Bayu. Baru juga ponsel di tangan Gandhi, Pak Qodir sudah menjawab telepon Bayu.
"Halo Pak Bayu." jawab Pak Qodir.
"Ini saya, Pak." jawab Gandhi.
"Oh Pak Gandhi, maaf Pak." balas Pak Qodir.
"Pak Qodir sudah antar Yunda sampai apartemen?" tanya Gandhi.
"Sudah Pak, ini saya baru sampai di kantor." jawab Pak Qodir.
__ADS_1
"Oh. Selama di perjalanan dia gak menunjukkan gejala-gejala yang aneh kan Pak?" tanya Gandhi.
"Gejala gimana nih Pak maksudnya?" tanya Pak Qodir.
"Yah seperti wajahnya pucat, keringat dingin, gelisah atau menggigil atau apalah gitu." jawab Gandhi.
"Oh ada sih Pak tadi saya lihat, setelah Bu Yunda keluar dari rumah sakit, saya lihat-"
"Stop, stop, stop. Pak Qodir bilang apa? Rumah sakit? Jadi tadi Pak Qodir nganter Yunda ke rumah sakit dulu?" tanya Gandhi.
"Iya Pak. Bu Yunda yang suruh." jawab Pak Qodir.
"Terus?" Gandhi meminta Pak Qodir melanjutkan ceritanya.
"Tapi saya gak ikut nganter ke dalam Pak, soalnya Bu Yunda nyuruh saya tunggu di parkiran aja. Gak lama Bu Yunda dateng terus saya lihat sepanjang jalan wajahnya pucat, terus mainin tangannya gitu kayak orang takut, gelisah gitu lah Pak." jawab Pak Qodir.
Gandhi mengernyitkan keningnya berpikir.
Apa Yunda sakit parah makanya dia sampai ketakutan gitu yah? Gumam Gandhi dalam hati.
"Rumah sakit mana yah Pak?" tanya Gandhi
"Rumah sakit Permata Medical Center, Pak." jawab Pak Qodir.
Gandhi memperdalam kernyitan di keningnya.
Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan mantan suaminya yah? gumam Gandhi bertanya-tanya dalam hati.
Aku harus tanya Yunda. gumam Gandhi lagi.
"Ya udah Pak, makasih yah atas info-nya." ucap Gandhi.
"Sama-sama Pak." jawab Pak Qodir.
Panggilan berakhir.
"Bay, kita ke Ritz Residence." perintah Gandhi.
"Gak jadi ke kantor, Pak?" tanya Bayu.
"Kamu aja. Nanti pulang kerja kamu antar semua kerjaan aku ke Ritz Residence." jawab Gandhi.
"Siap Pak." jawab Bayu.
Bayu pun memutar arah kemudinya menuju Ritz Residence.
💋💋💋
Bersambung...
Hari ini up satu dulu yah, tekanan darah aku lagi terjun bebas, dan si lambung juga lagi keasaman, jadi butuh istirahat. Mudah-mudahan besok udah sehat lagi 🙏🙏🙏
__ADS_1