Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 54


__ADS_3

"Aku kangen." jawab Gandhi sambil menatap dalam wajah Yunda.


Mendengar kata-kata Gandhi ditambah tatapan Gandhi yang dalam, jelas saja membuat Yunda salah tingkah.


"Kangen Reesha maksudnya." lanjut Gandhi.


"Oh..." Yunda membulatkan mulutnya sambil menghela nafasnya lega untuk menetralisir detak jantungnya yang berdetak sangat kencang.


"Baru kemaren ketemu masa udah kangen." ucap Yunda.


"Memangnya gak boleh? Kalau bisa Reesha dua puluh empat jam sama aku." balas Gandhi.


"Cih. Kalau gitu di bikin lah Mas anaknya Mas Gandhi." balas Yunda.


"Bikin sama siapa? Sama kamu mau?" tanya Gandhi.


Blush. Wajah Yunda langsung memerah mendengar kata-kata Gandhi.


"Ih Mas Gandhi apaan sih! Mas Gandhi kan punya istri." balas Yunda.


"Kamu kan tau istri aku gak suka sosis, dia sukanya apem. Lagian aku mau yang hasilnya kayak Reesha." jawab Gandhi.


Yunda tak membalas, dia hanya geleng-geleng kepala mendengar kata-kata Gandhi.


"Udah ah aku mau siap-siap dulu." ucap Yunda.

__ADS_1


"Ya udah sana, aku mau main sama Reesha aja." jawab Gandhi.


Yunda mematung ditempatnya.


"Katanya mau siap-siap, udah sana. Kamu takut aku bawa kabur Reesha?" tanya Gandhi saat melihat Yunda masih berdiri ditempatnya.


"Aku mau mandi Mas." ucap Yunda.


"Terus kenapa kalau kamu mau mandi? Mau aku mandiin?" tanya Gandhi.


"Hiiih Mas Gandhi apaan sih! Mas Gandhi keluar dulu sana." usir Yunda.


"Ya memangnya kenapa kalau aku disini? Kamu takut aku ngintip? Aku gak semesum itu Yun, udah sana pergi mandi." jawab Gandhi.


Yunda menghela nafasnya kasar. Walau sedikit ragu, mau tidak mau Yunda membiarkan Gandhi tetap di dalam kamar saat dirinya mandi, sebelum Yunda masuk kedalam kamar mandi, tak lupa Yunda mengambil pakaian yang ingin dia pakai dan membawanya kedalam kamar mandi.


Reesha nampak senang dan merespon celotehan Gandhi.


"Panggil Papa... Paaaaa.... Pa. Ayo panggil Paaaaa... Pa." Gandhi mengajari Reesha memanggil dirinya Papa.


Sayangnya Reesha hanya merespon dengan celotehan tak jelas.


"Pokoknya nanti kalau kamu udah bisa bicara, kamu harus panggil Papa duluan yah. Papa Gandhi, oke." ucap Gandhi.


💋💋💋

__ADS_1


Rumah sakit.


Sekarang Gandhi, Yunda dan Reesha sudah di poli anak untuk memberi imunisasi Reesha. Tak lupa Yunda juga membawa buku berwarna pink agar dokter bisa melihat riwayat imunisasi yang sudah diberikan ke Reesha.


"Usia anaknya sudah dua bulan kok belum di suntik BCG sih, Bu? Padahal suntik BCG itu fungsinya untuk mencegah penyakit TB, dan radang otak karena TB, karena anak usia segini sangat rentan terkena penyakit TB." ucap dokter.


"Maaf dok saya lalai." jawab Yunda.


"Ini semua salah saya dok, waktu itu setelah istri saya melahirkan dia terkena baby blues karena saya tidak menemani dia sejak usia kandungannya tujuh bulan sampai melahirkan dan saya juga gak peka kalau istri saya butuh pendamping yang membantunya mengurus anak kami. Saya juga kurang paham tentang imunisasi, makanya baru bisa membawa anak kami imunisasi sekarang." tak ingin dokter menyalahkan Yunda, Gandhi langsung pasang badan untuk Yunda, ya... walaupun harus berbohong. Daripada Yunda yang kenal omel dokter, lebih baik dirinya yang disalahkan.


Sedangkan Yunda, ia terkaget-kaget mendengar kata-kata Gandhi.


"Pelajaran itu yah Pak, cukup anak pertama kalian saja yang telat di imunisasi, anak kedua, ketiga, dan seterusnya, Bapak harus lebih perhatian istri dan anak Bapak." balas dokter.


"Baik dok." jawab Gandhi.


"Tapi anak kami masih bisa di BCG kan dok?" tanya Gandhi.


"Bisa. Untungnya belum lewat tiga bulan, kalau lewat tiga bulan harus uji tuberkulin dulu, kalau hasilnya positif jelas tidak bisa di berikan suntik BCG, harus di obati dulu tuberkulinnya." jawab dokter.


Gandhi dan Yunda sama-sama bernafas lega.


Dengan bantuan bidan, dokter pun memberikan suntik BCG ke lengan atas sebelah kanan Reesha.


💋💋💋

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2