
"Sekarang kamu ngaku, kamu udah bucin kan sama aku?" tanya Gandhi sambil mendekatkan wajahnya ke Yunda.
"Iih Mas Gandhi apaan sih! Gak kok, gak bucin! Biasa aja." jawab Yunda sambil mendorong tubuh Gandhi lalu cepat-cepat berdiri dari duduknya. Dia sudah malu karena Gandhi selalu menggodanya.
Baru juga Yunda berdiri, Gandhi langsung menarik tangan Yunda dan mendudukkan Yunda diatas pangkuannya.
"Kalau biasa aja, kenapa kamu takut banget ninggalin aku?" tanya Gandhi.
"Ya, karena... karena... karena Reesha udah sayang banget sama kamu lah, Mas." jawab Yunda. Dia gengsi untuk bicara jujur.
"Heleh, alasan Reesha padahal mah, memang kamu yang udah sayang banget sama aku." goda Gandhi.
"Iya aku sayang, tapi biasa aja sayangnya." balas Yunda.
"Masa sih? Kalau biasa aja sayangnya kenapa malam itu kamu ikut-ikutan minum obat perangsang? Kamu bilang biar kamu juga merasakan apa yang aku rasakan. Udah deh ngaku aja, kamu udah sayang banget kan sama aku?" tanya Gandhi lagi sambil tangannya mendaki ke pabrik susu Yunda.
"Mas..." cicit Yunda sambil berusaha menahan tangan Gandhi. Sayangnya tidak bisa, tangan Gandhi sudah berhasil bermain di pabrik susu nan kenyal milik Yunda.
"Mas jangan gini ah..." ucap Yunda. Tapi Gandhi tetap tidak peduli, ia terus memainkan gundukan kenyal itu.
"Bilang dulu kalau kamu cinta dan sayang banget sama aku." desak Gandhi.
"Untuk apa kamu tanya lagi sih Mas! Harusnya kamu udah tau jawabannya dong." balas Yunda.
"Aku mau kamu ngomong langsung." jawab Gandhi. Kali ini bukan hanya tangan yang bermain, bibir Gandhi juga ikutan bermain memberi kecupan-kecupan basah di tengkuk dan telinga Yunda.
__ADS_1
Jelas saja itu membuat Yunda menggeliat.
"Sssh... ah... iya... sssh... ah... Mas... ahh... aku cinta... ssh... ah... aku... ssh... sayang kamu... sssh... ah... Mas." jawab Yunda susah payah karena Gandhi sambil mencumbu-nya.
Mendengar Yunda menjawab sambil mendes.ah, Mas Gagah merasa terpanggil, dia pun terbangun dari bobok gantengnya.
Merasakan sesuatu yang keras menendang-nendang bokongnya, sontak Yunda menyadari sesuatu, ada hal yang harus dia rem.
"Mas, stop Mas jangan diterusin." ucap Yunda memberi peringatan pertama sambil berusaha melepaskan tangan Gandhi.
Gandhi yang sudah sudah diselimuti hasrat mana peduli dengan peringatan Yunda, dia makin asyik memainkan gundukan kenyal Yunda.
"Mas, berhenti Mas! Berhenti aku bilang! Mas Gandhi sadar!" Yunda kembali memberi peringatan kedua, kali ini sambil memukul lengan Gandhi.
"Jangan suruh aku berhenti Yun, aku udah horny! Mas Gagah mau ngecas." jawab Gandhi.
Sontak Gandhi berhenti memainkan gundukan kenyal Yunda. Otaknya langsung mudeng.
Begitu Gandhi berhenti, cepat-cepat Yunda berdiri dari pangkuan Gandhi dan berjalan menuju tempat tidur.
"Serius kamu?" tanya Gandhi.
"Serius Mas! Baru tadi sore lampu merah." jawab Yunda sambil duduk di tepi ranjang yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Gandhi.
Gandhi menghela nafasnya kecewa.
__ADS_1
"Kenapa, kok Mas Gandhi hela nafas? Mas Gandhi kecewa yah karena benihnya Mas Gandhi gak jadi?" tanya Yunda.
"Gak lah! Malahan bagus kalau benih aku belum jadi, kalau sampe jadi kasihan Reesha, masih bayi udah punya adik lagi. Dan aku juga kasihan sama kamu, kamu kan lahirin Reesha sesar, kalau sampe kamu hamil lagi, itu sama aja aku membahayakan kamu." jawab Gandhi.
Sudah tahu bahaya tapi tidak pakai pengaman saat Mas Gagah ngecas! Yah, namanya juga sudah kebelet, mana ingat pakein Mas Gagah popok biar gak ngompol sembarangan.
"Terus kenapa Mas Gandhi hela nafas?" tanya Yunda.
"Itu bukan helaan nafas aku, tapi helaan nafasnya dia nih." jawab Gandhi sambil menunjuk Mas Gagah yang sudah tantrum di dalam jeruji kain.
Yunda tersenyum tipis.
"Sampein permintaan maaf ku sama dia Mas, bilang sama dia puasa dulu seminggu." ucap Yunda.
"Ya udah lah, mau gimana lagi. Dari tiga puluh hari dalam sebulan, cuma tujuh hari doang puasa, kemaren-kemaren aja berbulan-bulan dia puasa bisa kok, apalagi ini cuma tujuh hari." balas Gandhi sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Mas Gandhi mau ngapain?" tanya Yunda.
"Ya mau ngapain lagi Yun! Mau tenangin dia lah!" jawab Gandhi lalu masuk kedalam kamar mandi.
Yunda tersenyum tipis.
"Aku pikir kamu mau maksa aku nenangin hasrat kamu, Mas, seperti yang di lakukan Mas Rio dulu waktu aku masih nifas." cicit Yunda.
Yunda bangga dengan Gandhi yang masih berpikir waras sekalipun dirinya sedang horny, tidak seperti mantan suaminya yang lebih mengedepankan hasrat-nya ketimbang akal sehatnya.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...