
Lima belas menit kemudian.
"Eugh..." Gandhi pura-pura melenguh.
Mendengar suara Gandhi, Yunda cepat-cepat melepaskan gunung syusyu-nya dari mulut Reesha dan menutupnya, padahal Reesha masih asyik menyusu.
Karena Reesha menangis, Yunda pun berdiri dari duduknya dan menimang-nimang untuk mendiamkan Reesha.
"Kenapa dia nangis?" tanya Gandhi pura-pura tidak tahu.
Padahal Gandhi sangat tau alasan kenapa bayi kecil itu menangis, orang besar saja menangis kalau sedang asyik-asyik menyusu lalu tiba-tiba dilepas dari sumber susu, apalagi anak bayi.
"Mungkin lapar." jawab Yunda lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan Reesha susu formula.
Gandhi langsung bangun dari tidurnya lalu menyusul Yunda ke dapur.
"Sini, biar aku saja yang buat." ucap Gandhi.
"Gak usah Mas, biar aku aja." tolak Yunda.
"Sudah, aku saja!" paksa Gandhi lalu mengambil botol susu Reesha.
Karena Gandhi ngotot ingin membuatkan susu, akhirnya Yunda mengalah dan pergi dari dapur dan menunggu Gandhi di ruang tidur.
__ADS_1
Tak lama Gandhi datang dengan sebotol susu untuk Reesha lalu memberikannya pada Yunda.
"Oh iya, tadi bukannya kamu bikin kopi buat aku? Kopinya mana?" tanya Gandhi.
"Itu." Sambil menunjuk kopi yang ada diatas meja sebelah ranjang.
"Tapi mungkin kopinya sudah dingin." kata Yunda.
"Gak pa-pa. Aku gak pernah menyalahkan kopi yang sudah dingin, karena dia pernah panas sebelum aku tinggalkan." jawab Gandhi. Kalimat itu begitu dalam untuk Gandhi karena kalimat itu adalah kalimat untuk menyindir dirinya sendiri atas masa lalunya bersama Nara.
Sedangkan Yunda, dia hanya tersenyum mendengar ucapan Gandhi.
Gandhi mengambil kopi itu dari atas meja lalu menyeruputnya.
"Ternyata rasanya juga tidak akan pernah sama lagi dengan rasa kopi saat masih panas." ucap Gandhi.
"Gak pa-pa, hanya sedikit mengenang masa lalu." jawab Gandhi.
"Oh." Yunda membulatkan mulutnya.
"Oh iya Yun, kamu udah denger gosip di kantor?" tanya Gandhi. Alasan Gandhi ke kos-an Yunda, yah karena ingin menanyakan itu.
Yunda menganggukkan kepalanya, raut wajahnya juga berubah menjadi sedih.
__ADS_1
"Gak usah di pikirin lagi, aku udah urus semuanya. Mulai besok gak akan ada lagi yang berani gosipin kamu dan anak kamu." ucap Gandhi.
"Maksudnya?" tanya Yunda.
"Ya aku udah urus semuanya. Besok tiga karyawan yang kedapatan gosipin kamu dan anak kamu tadi akan kirim surat permintaan maaf lewat email perusahaan, jadi semua karyawan bisa baca surat itu. Dengan begitu mulai besok gak akan ada yang berani bikin gosip yang gak-gak tentang kamu." jawab Gandhi.
"Kok Mas Gandhi ikut campur sih? Kalau Mas Gandhi ikut campur gini, semuanya malah makin curiga Mas. Curiga kalau kita punya hubungan apa-apa, curiga kalau aku bisa jadi sekretaris Mas karena-"
"Aku hanya melakukan tugas aku sebagai CEO di perusahaan aku. Kalau mereka jadi punya pikiran yang tidak-tidak, yah itu urusan mereka, selagi yang ada di pikiran mereka tidak mereka keluarkan lewat mulut dan menyebarkannya di perusahaan, aku rasa tidak ada yang perlu di permasalahkan." potong Gandhi.
"Jadi mulai besok bekerjalah seperti tidak terjadi apa-apa. Tutup telinga mu dari omongan orang-orang, dan tegakkan wajah mu, agar orang melihat aura positif mu." kata Gandhi lagi.
Yunda terdiam.
Gandhi menghabiskan kopi-nya lalu berdiri dari duduknya.
"Aku pulang dulu kalau begitu. Ingat pesan ku tadi, jangan pikirkan soal omongan orang-orang." pamit Gandhi.
Yunda menganggukkan kepalanya.
Sebelum keluar dari kamar, Gandhi mendekati Yunda untuk berpamitan dengan Reesha.
"Om pulang dulu yah cantik." pamit Gandhi sambil mengelus pipi Reesha. Setelah itu barulah Gandhi keluar dari kamar kos Yunda.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...