
"Maafin aku Mas, tapi bukan gitu maksud aku, Mas, aku sama sekali gak ada maksud nyembunyiin ini sama kamu, aku hanya gak mau terus-terusan ngerepotin kamu. Kamu udah ngeluarin uang banyak buat urus perceraian aku dan Mas Rio, jadi aku malu kalau kamu bantu aku lagi." jawab Yunda sambil menundukkan wajahnya merasa bersalah.
Gandhi mengernyitkan keningnya dalam-dalam, dia sedang mencerna ucapan Yunda.
"Dia minta uang sama kamu?" tebak Gandhi
Sontak Yunda mendongakkan wajahnya melihat Gandhi.
"Kok Mas Gandhi tau?" kaget Yunda karena tebakan Gandhi benar.
Gandhi tersenyum sinis.
"Laki-laki model kayak mantan suami kamu itu, pasti akan melakukan segala cara untuk keuntungan dirinya sendiri. Jadi aku bisa tebak kalau dia pasti minta uang sama kamu dengan sebuah ancaman, iyakan?"
Yunda menganggukkan kepalanya.
Gandhi menghela nafasnya kasar lalu duduk di tepi ranjang sebelah Yunda.
"Sekarang bilang sama aku, dia ngancam kamu apa?" tanya Gandhi.
"Mas Rio ngancem mau ngirim foto kita ke kampung, Mas." jawab Yunda.
"Foto kita? Foto yang mana?" tanya Gandhi.
Yunda pun mengambil ponselnya.lalu menunjukkan pesan Gandhi padanya.
__ADS_1
"Yang ini Mas." lalu menunjukkan pesan Rio padanya.
Bukannya kesal, Gandhi malah senyam-senyum.
"Kok senyum, Mas?" tanya Yunda.
"Seneng aja. Aku mau ngucapin terimakasih sama mantan suami kamu yang bloon itu karena udah fotoin kita candid kayak gini." jawab Gandhi.
"Terus dia minta uang berapa sama kamu?" tanya Gandhi.
"Lima puluh juta." jawab Yunda.
"Untuk apa dia minta uang segitu?" tanya Gandhi.
"Untuk bayar uang rumah sakitnya Bu Marni, Ibu-nya Mas Rio, Mas." jawab Gandhi.
Yunda menundukkan kepalanya.
"Sini." tiba-tiba Gandhi menarik tangan Yunda hingga Yunda berada dalam pelukannya.
"Mas..." Yunda berusaha lepas dari pelukan Gandhi.
"Diem." ucap Gandhi lalu membuka kamera depan ponsel Yunda.
"Kamu mau apa, Mas?" tanya Yunda.
__ADS_1
"Mau foto lah. Jadi nanti kalau dia ngancem lagi, kamu kirim aja foto ini, bilang sama dia, sekalian kirim foto kita ini ke kampung mu. Pokoknya kamu gak boleh takut dengan ancaman-ancaman dia. Ingat, di samping kamu sekarang ada aku, gak akan aku biarin satu orang pun berani merendahkan kamu!" jawab Gandhi.
Cekrek.
Tanpa aba-aba Gandhi langsung memotret dirinya dan Yunda.
Bukan hanya satu dua kali Gandhi mengambil gambar, tapi beberapa kali dengan pose yang berbeda-beda. Yunda hanya diam saja, karena saat ini jantung Yunda berdebat sangat kencang saat dalam pelukan Gandhi.
"Lihat aku." pinta Gandhi.
Yunda pun menurut dan menatap wajah Gandhi.
Begitu juga dengan Gandhi yang menatap wajah Yunda. Kemudian Gandhi mengambil gambar mereka dengan pose saling menatap.
Foto sudah diambil, tapi mata Gandhi dan Yunda masih saling menatap. Tak lama mata Gandhi turun melihat bibir Yunda, begitu juga dengan Yunda yang menurunkan pandangannya ke bibir Gandhi.
Seperti sedang terhipnotis, perlahan Gandhi dan Yunda mendekatkan wajah mereka hendak menempelkan bibir mereka satu sama lain.
Tapi sayangnya, tinggal dua senti lagi bibir mereka menyatu, tiba-tiba ponsel Yunda berdering sangat keras.
Sontak Gandhi dan Yunda langsung memalingkan wajah mereka dan Yunda merampas ponselnya yang ada ditangan Gandhi.
Yunda mengernyitkan keningnya saat melihat nomor tak dikenal yang menghubunginya.
"Siapa ini?" lirih Yunda pelan tapi masih bisa didengar Gandhi.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...