Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 115


__ADS_3

Salsa, Zola dan kedua teman mereka sudah pulang. Tinggal lah sekarang Gandhi, Yunda, Reesha dan kedua pengasuh Reesha.


Kini Yunda dan Gandhi sudah berada di kamar utama di lantai atas. Gandhi sedang fokus dengan layar ponsel Yunda. Bukan untuk menyidak ponsel Yunda, melainkan untuk membuka emailnya dari ponsel Yunda. Maklum saja dia tidak punya ponsel, untungnya semua data-data penting Gandhi sudah di simpan di email-nya.


"Mas, gimana kalau Sus Indah dan Sus Nur kita berhentikan?" saran Yunda.


Gandhi langsung menoleh pada Yunda.


"Kenapa kok diberhentikan?" tanya Gandhi.


"Bayar baby sitter kan mahal Mas, sedangkan kita-"


"Yun, kan udah aku bilang, kamu tenang aja, aku masih sanggup menghidupi kalian. Jadi gak ada deh berhenti-berhentiin pengasuh Reesha. Kalau pengasuh Reesha diberhentiin, terus yang ngurus Reesha siapa?" potong Gandhi.


"Ya aku lah, Mas." jawab Yunda.


"Kalau kamu ngurus Reesha, terus yang bantu aku merintis usaha siapa?" tanya Gandhi lagi.


"Aku butuh kamu disamping aku, Sayang. Aku gak mau kamu kecapean karena harus double job, ngurus anak dan bantu aku merintis usaha." kata Gandhi lagi.


"Udah yah gak usah di bahas soal ini. Aku mau hubungi Bayu dulu. Pertama, aku mau urus surat cerai dengan Salsa. Yang kedua, aku mau kerumah lama aku, mau ambil laptop dan mobil-mobil aku. Rumah yang aku tempatin itu rumah pemberian orangtua aku, jadi aku gak sudi tinggal di rumah itu." kata Gandhi lagi lalu menghubungi Bayu.


Kebetulan sekali, saat Gandhi menghubungi Bayu melalui ponsel Yunda, posisi Bayu sedang dalam perjalanan menuju apartemen Yunda.

__ADS_1


Tak sampai dua puluh menit, Bayu pun datang. Gandhi dan Bayu pun masuk ke ruang kerja dan membicarakan langkah-langkah yang akan mereka lakukan.


Setelah kurang lebih satu jam berada di ruang kerja, Gandhi dan Bayu pun turun. Berhubung Sus Indah dan Sus Nur belum tahu status Gandhi dan Yunda yang sebenarnya, sebelum Gandhi, Bayu dan Yunda keluar dari apartemen untuk mengurus segala urusan yang harus segera di urus.


Ternyata, tanpa Gandhi beritahu pun, Sus Indah dan Sus Nur sudah tahu kalau hubungan Gandhi dan Yunda bukan kakak-adik. Bagaimana mereka mau percaya kalau Gandhi dan Yunda kakak-adik kalau mereka sering mendengar Gandhi memintq Reesha memanggilnya dengan sebutan Papa. Apalagi perhatian Gandhi ke Yunda yang tidak seperti seorang Kakak ke adiknya dan lebih pantas seperti suami ke istrinya.


💋💋💋


Keesokan harinya.


Pukul 17.00


Singapura.


Sesampainya mereka disana, mereka tidak disambut ramah oleh keluarga Salsa. Karena tidak mendapat sambutan ramah, ya sudah pasti Zola and the genk beraksi. Kerusuhan pun terjadi beberapa saat, karena tak lama Papa Alan keluar dari dalam rumah.


Dengan terpaksa dan berat hati, Papa Alan pun menyuruh Salsa, Zola dan teman-temannya masuk kedalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, Papa Alan mengajak Salsa dan Zola masuk ke ruang kerja Papa Alan, sedangkan teman-teman Zola menunggu di luar.


"Ada apa kamu datang kesini? Bukannya kamu ingin hidup sesuka hatimu? Kalau memang ingin hidup sesuka hatimu, harusnya kamu tidak lagi menginjakkan kaki mu di rumah ini!" tanya Papa Alan ketus.


"Justru karena Salsa ingin hidup sesuka hati Salsa, makanya Salsa harus menemui Papa. Salsa mau Papa jangan lagi mengusik hidup Salsa!" balas Salsa.


"Papa gak pernah ngusik hidup kamu!" jawab Papa Alan.

__ADS_1


"Iya memang, Papa gak ngusik hidup Salsa, tapi Papa menekan orangtua Gandhi agar Salsa dan Gandhi tidak bercerai, itu sama aja kan Papa secara gak langsung mengusik hidup Salsa!" balas Salsa.


Papa Alan terdiam karena memang benar begitu adanya. Makanya Papa Alan tidak memerintahkan orangnya untuk melakukan sesuatu pada Salsa dan Zola.


"Tapi Salsa rasa sekarang semua sudah gak berguna, karena sekeras apapun Papa menekan keluarga Gandhi, Gandhi gak akan nurut sama orangtuanya karena Gandhi sudah memilih meninggalkan keluarganya." kata Salsa lagi.


Papa Alan menghela nafasnya kasar.


Salsa mengeluarkan kartu debit dan kartu kredit yang Papa-nya berikan untuknya lalu meletakkan kartu-kartu itu diatas meja dan menyodorkannya pada Papa Alan.


"Ini semua-nya Salsa kembalikan pada Papa. Dan satu lagi, setelah ini Salsa dan Zola akan terbang ke Jerman, kami akan menikah disana." kata Salsa lagi.


Lagi dan lagi Papa Alan menghela nafasnya kasar.


"Jangan ke Jerman! Di Jerman banyak kolega Papa. Kita ke Belanda saja." balas Papa Alan.


Salsa dan Zola mengernyitkan keningnya mendengar Papa Alan menyebut kata kita.


"Kita?" tanya Salsa.


💋💋💋


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2