
Tak lama Yunda masuk keruang tidur.
"Astaga!!! Mas Gandhi!!!" kaget Yunda saat melihat Gandhi yang sudah duduk di sofa.
"Telepon dari siapa?" tanya Gandhi tanpa basa-basi dengan nada ketus.
"Um... itu... um... dari... um... dari adiknya Mas Rio, Mas." jawab Yunda.
Gandhi menarik nafasnya dalam-dalam dan menghelanya kasar. Ia mencoba mengontrol emosinya.
"Jadi selama ini kamu masih sering komunikasi yah sama keluarga mantan suami kamu itu?" tanya Gandhi masih bernada ketus.
"Gak kok Mas. Baru ini Rosa menghubungi aku dan aku gak pernah menghubungi Rosa." jawab Yunda.
"Bohong!" ucap Gandhi sambil memalingkan pandangannya dari Yunda.
"Astaga, sumpah." jawab Yunda sambil berjalan mendekati Gandhi lalu duduk disebelah Gandhi.
"Kamu percaya dong Mas sama aku. Aku gak pernah menghubungi Rosa, dan Rosa baru ini juga menghubungi aku." Yunda berusaha merayu Gandhi.
"Kenapa kamu gak blokir nomor-nya biar dia gak bisa hubungi kamu? Itu sama aja kamu ngasih kesempatan mereka untuk menghubungi kamu! Aku kan udah bilang ganti nomor hape kamu, tapi kamu-nya gak mau!" omel Gandhi.
"Aku minta maaf, Mas." jawab Yunda.
"Udah lah, namanya masa lalu memang gak akan pernah bisa untuk di lupakan!" ucap Gandhi sambil berdiri dari duduknya.
Yunda mencoba menahan tangan Gandhi, tapi dengan cepat Gandhi menepisnya. Kali ini Gandhi benar-benar emosi.
__ADS_1
"Kok ngomong gitu sih Mas. Bukannya gak bisa dilupakan Mas. Aku gak mau ganti nomor telepon yah karena nomor ini udah aku pake dari jaman aku kuliah, jadi sayang aja rasanya kalau aku harus ganti nomor baru. Gak ada hubungannya sama masa lalu aku." ucap Yunda sambil mengekori Gandhi.
"Ya buktinya kamu masih jawab telepon dari mantan adik ipar kamu! Kalau memang kamu bisa melupakan masa lalu kamu, ngapain juga kamu jawab telepon mantan adik ipar kamu itu?! Kamu mau tau kabar mantan suami kamu? Kamu mau tau kabar mantan mertua kamu? Ya udah sana temui aja langsung, gak usah main kucing-kucingan gitu!" cerocos Gandhi.
Tak ingin Gandhi terus marah-marah, Yunda langsung memeluk Gandhi dari belakang.
"Aku minta maaf, Mas, aku salah karena udah jawab telepon dari Rosa. Aku akan ganti nomor telepon aku biar masalah ini gak terulang lagi." ucap Yunda.
"Gak usah! Untuk apa ganti nomor telepon kalau hati dan pikiran kamu masih sama mereka!" balas Gandhi.
"Gak Mas! Hati dan pikiran aku cuma untuk kamu dan Reesha aja, aku sama sekali gak mikirin mereka. Kamu percaya dong Mas sama aku. Aku harus gimana biar kamu percaya sama aku?" balas Yunda sambil mengeratkan pelukannya.
Merasakan pelukan Yunda, hati Gandhi pun luluh, emosinya pun perlahan mereda.
Gandhi pun membalikkan tubuhnya menghadap Yunda.
"Iya aku percaya. Tapi lain kali jangan di ulang lagi yah. Apapun itu, aku gak mau kamu komunikasi dengan keluarga mantan suami kamu. Mau itu adiknya, neneknya, tante-nya, om-nya, atau siapapun itu, aku gak mau." ucap Gandhi sambil memeluk Yunda dan mengecupi puncak kepala Yunda.
Dalam pikiran Yunda sekarang, dia ingin menanyakan tentang permohonan Rosa.
"Kok kamu diem? Kamu ngerasa berat dengan larangan aku?" tanya Gandgi sambil menjauhkan tubuh Yunda.
"Bukan merasa berat Mas, cuma..."
"Cuma apa?"
"Cuma, boleh gak aku temuin Reesha saka Bu Marni sekali aja. Tadi-
__ADS_1
"Gak!!!" belum juga Yunda selesai bicara, Gandhi sudah memotongnya lalu menjauhi dari Yunda dan duduk di tepi ranjang.
"Sekali aja Mas. Tadi Rosa nelepon aku cuma mau bilang itu. Please Mas, sekali aja." mohon Yunda.
Gandhi diam. Tapi dari ekspresi Gandhi, Yunda tau kalau Gandhi sedang marah.
"Mas..." Yunda ikut duduk disebelah Gandhi lalu menggenggam tangan Gandhi.
"Aku mohon Mas, sekali aja. Manatau aja ini permintaan terakhirnya Bu Marni, Rosa bilang kondisi Bu Marni makin drop dan Bu Marni gak mau makan sebelum ketemu sama Reesha. Boleh yah Mas, please." bujuk Yunda.
Gandhi masih diam.
"Aku janji Mas, sekali ini aja. Kalau besok-besok keluarganya Mas Rio atau bahkan Mas Rio mau ketemu sama Reesha, dengan tegas aku nolak." ucap Yunda.
Gandhi menghela nafasnya kasar.
"Ya udah boleh, tapi dengan syarat, kamu gak usah ikut, biar Sus Indah sama Sus Nur aja yang bawa Reesha nemuin Bu Marni, nanti aku juga sewa bodyguard buat jaga mereka." akhirnya Gandhi mengizinkan Reesha bertemu dengan nenek-nya, walaupun tanpa Yunda.
"Gak pa-pa Mas, yang penting Bu Marni bisa ngeliat Reesha." ucap Yunda.
"Makasih yah Mas." kata Yunda lagi sambil memeluk Gandhi.
Gandhi yang masih kesal langsung melepas tangan Yunda.
"Aku mau tidur, ngantuk." ucap Gandhi lalu membaringkan tubuhnya.
Menyadari kalau suaminya sedang ngambek, Yunda tidak tinggal diam. Dia langsung merayu suaminya. Yunda meletekkan kepalanya diatas dada Gandhi.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...