
"Gak bahaya kah kalau sampai ibu suri tau hubungan loe sama Yunda?" tanya Derel.
"Gue gak peduli. Kali ini gue akan memperjuangkan perasaan gue untuk Yunda. Udah cukup gue kehilangan cinta pertama gue, gue gak mau kehilangan cinta terakhir gue." jawab Gandhi.
"Terus Salsa gimana?" tanya Angga.
"Dia udah tau kok. Malahan dia yang bantu gue ngomong sama Yunda soal pernikahan gue sama Salsa." jawab Gandhi.
"Gue doain semoga hubungan loe sama Yunda berhasil dan loe bener-bener bisa megang kata-kata loe buat memperjuangkan perasaan loe untuk Yunda." ucap Derel sambil menepuk pundak Gandhi.
"Doa yang sama buat loe Gan. Gue gak mau liat loe nyesel seperti loe melepas Nara dulu." timpal Angga.
"Thanks udah dukung gue." jawab Gandhi.
"Ya udah yuk, lanjut beres-beresnya." kata Gandhi lagi.
"Tapi ngomong-ngomong kamar ini loe lepas begitu aja?" tanya Angga.
"Ya gak lah. Kalau loe berdua mau make kamar ini, pake aja. Misalnya loe berdua kebanyakan minum di bar, terus ma.bok kan gak baik nyetir dalam keadaan ma.bok, jadi loe berdua bisa pake kamar ini." jawab Gandhi.
"Serius loe?" tanya Angga.
"Hemh." jawab Gandhi.
"Gitu dong, itu baru temen kita." ucap Angga.
__ADS_1
"Tapi bukan di pake buat mesum! Gue jitak kepala loe berdua sampe gue dapet laporan loe berdua bawa cewek kesini! Inget anak bini loe berdua dirumah! Bandel boleh, gatel jangan!" balas Gandhi.
Padahal tujuan Gandhi mengizinkan kedua temannya memakai kamar Yunda bukan karena mengkhawatirkan keselamatan kedua sahabatnya, melainkan Gandhi ingin membuat kedua temannya itu merasakan kesialan yang Gandhi rasakan saat mendengar suara laknat dari tetangga kamar Yunda.
Barang-barang Yunda sudah selesai di kemas. Memang sih tidak banyak, tapi keringat yang keluar lumayan banyak.
Setelah semua barang terkemas, Gandhi pun menyuruh Angga untuk mengirimkan barang-baranb Yunda ke apartemen Gandhi. Sedangkan Derel ikut bersamanya ke yayasan penyedia baby sitter untuk Reesha.
Gandhi ingin memilih dan menguji langsung beberapa baby sitter yang sudah di pilih oleh yayasan.
💋💋💋
Solo.
Bu Ambar sedikit tidak suka melihat kedatangan Harum, pasalnya Bu Ambar masih kesal pada Harum karena membantu Yunda pergi ke Jakarta bukannya membujuk Yunda untuk rujuk dengan Rio.
Sedangkan Pak Yoto tidak ada dirumah karena sedang bekerja di kebun.
"Ada perlu apa Nak Harum kesini?" tanya Bu Ambar ketus.
"Saya kesini mau menyampaikan amanah dari Yunda, Bu." jawab Harum.
"Amanah apa? Amanah biar Ibu ngangkat telepon dari dia? Bilang sama Yunda, gak usah nelpon-nelpon Bapak sama Ibu lagi, dia sudah bikin malu Bapak sama Ibu dikampung ini!" jawab Bu Ambar.
"Kok Ibu ngomong begitu? Memangnya Yunda bikin malu gimana? Masa hanya karena Yunda jadi janda, Ibu sama Bapak malu? Harusnya Bapak sama Ibu mendukung Yunda bercerai dengan Rio, karena Rio bukan laki-laki yang bertanggung jawab untuk Yunda dan anaknya." balas Harum.
__ADS_1
"Nak Harum enak ngomong gitu! Karena keluarga Nak Harum orang berada, jadi gak akan ada yang ngomongin macem-macem kalau Nak Harum jadi janda. Lah kami ini orang gak berada Nak Harum, setelah tetangga pada tau Yunda sudah cerai dari Nak Rio dan bahkan sekarang pergi ke Jakarta, keluarga kami di hujat habis-habisan. Dibilang lah Yunda gak tau bersyukur, dibilang lah Yunda ke Jakarta karena pergi sama selingkuhannya, pokoknya banyak lagi omongan orang-orang di kampung ini yang menghina keluarga Ibu. Bahkan adik-adik Yunda yang gak tau apa-apa ikut kena hujat sampe disekolah mereka." balas Bu Ambar.
"Syukur-syukur kami gak diusir dari kampung ini karena ulah Yunda. Kalau kami diusir, kami mau tinggal dimana?" kata Bu Ambar lagi.
"Saya yakin Bu, Yunda akan mengangkat derajat kalian. Jadi saya harap, Ibu dan Bapak bisa berlapang dada menerima keputusan Yunda. Dan selalu mendoakan Yunda supaya sehat di Jakarta, bukan malah membenci Yunda karena semua orang menghujat Bapak dan Ibu." ucap Harum.
"Karena kalau bukan kalian yang mendoakan Yunda dengan tulus, siapa lagi? Ingat Bu, Yunda anak kandung Ibu. Binatang aja kalau anaknya disakiti pasti marah, masa Ibu sebagai manusia yang berakal malah memaksakan Yunda terus-terusan disakiti oleh Rio?" kata Harum lagi.
Bu Ambar diam.
"Ini, saya mau menyampaikan amanah ini dari Yunda." Harum mengeluarkan amplop putih dari dalam tasnya lalu meletakkannya diatas meja.
Bu Ambar hanya melirik amplop putih itu sesaat.
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu." pamit Harum yang tidak ingin berlama-lama di rumah orangtua Yunda. Takut emosinya terpancing dengan sikap Bu Ambar.
Setelah Harum pergi, barulah Bu Ambar mengambil amplop putih itu dan membukanya.
Matanya membelalak melihat uang merah yang sangat banyak dalam amplop.
"Astaga, kenapa banyak sekali? Uang darimana ini? Apa yang Yunda kerjakan di Jakarta sampai-sampai bisa mengirimkan uang sebanyak ini?" lirih Bu Ambar.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1