
Rumah Gandhi.
"Kok baru pulang? Lembur?" tanya Salsa begitu Gandhi masuk ke ruang tengah.
"Gak. Habis nemenin Yunda ke toko emas." jawab Gandhi sambil mendaratkan bokongnya disofa sebelah Salsa.
Mendengar itu Salsa langsung menghadapkan badannya ke Gandhi.
"Kamu udah lamar dia?" tanya Salsa kaget.
"Gak! Lamar apaan sih! Orang cuma nemenin dia nindik telinga anaknya." jawab Gandhi sambil melepas sepatunya.
"Oh... kirain. Aku sampe kaget, secepat itu progresnya." balas Salsa.
"Kan kamu yang bilang semakin cepat semakin baik." jawab Gandhi.
"Iya sih, tapi aku gak nyangka aja kamu bakalan segarcep itu." balas Salsa.
"Tadinya aku memang mau nyatain perasaan aku ke dia, tapi gara-gara tetangga kos-annya Yunda yang berisik jadi gagal deh." dumel Gandhi.
"Yunda ngekos?" tanya Salsa.
Gandhi menganggukkan kepalanya.
"Aku pikir dia ngontrak atau tinggal diapartemen gitu." ucap Salsa.
"Gak, dia ngekos. Malahan aku yang bantu dia nyari kos-an waktu itu." jawab Gandhi.
__ADS_1
"Ooooh.." Salsa membulatkan mulutnya.
"Aku gak tau yah Sa ini hanya kebetulan atau memang jalan yang Tuhan kasih buat aku. Percaya atau gak, sebelum Yunda ngelamar kerja di kantor aku, aku udah pernah ketemu sama dia sebelumnya." ucap Gandhi.
"Serius?" tanya Salsa.
Gandhi menganggukkan kepalanya.
"Kamu inget kan yang waktu aku pergi ke Jerman. Nah, sebelum itu, aku udah ketemu sama dia di bar." ucap Gandhi.
"Yunda pernah kerja di bar?" tanya Salsa dengan raut wajah kaget, kaget karena tak menyangka kalau wajah sepolos Yunda pernah berada di bar.
"Gak. Dia di bar karena salah jalan mau ke kos-an yang dia liat di internet. Kebetulan waktu itu anaknya nangis-nangis karena haus, sedangkan air termos udah habis, jadi dia sok-sok'an mau masuk ke bar lewat pintu belakang cuma mau minta air panas. Lucu banget kan?" jawab Gandhi dan diakhiri dengan tawa kecil kala mengingat momen pertemuan pertamanya dengan Yunda.
"Terus kamu bantuin dia?" tanya Salsa dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Gandhi.
"Setelah kos-kosannya dapet, gak tau kenapa, aku ngerasa dia tuh kayak punya magnet yang buat aku jadi penasaran terus sama dia. Karena niatnya habis bantuin dia, aku mau terus ke bar karena memang tujuan sebelumnya aku memang mau ke bar, tapi belum juga masuk bar, aku selalu kepikiran dia sama anaknya, terus aku ke minimarket beliin perlengkapan untuk dia dan anaknya, biar ada alasan buat aku balik lagi ke kosannya dia." lanjut Gandhi.
"Itu artinya kamu udah suka sama dia dari pandangan pertama." sahut Salsa.
"Aku juga mikirnya gitu, tapi sayangnya aku baru sadar sekarang." balas Gandhi.
"Bagus deh kalau kamu udah sadar. Pokoknya kamu harus cepat nyatain perasaan kamu ke dia, aku pengen lihat kamu bahagia Gan." ucap Salsa.
"Makasih yah Sa udah bantuin aku ngejelasin masalah rumah tangga kita ke dia tadi. Mungkin kalau kamu gak ngomong ke dia, pasti dia gak akan percaya kalau rumah tangga kita tuh aneh banget." balas Gandhi.
"Sama-sama Gan. Tapi kayaknya kata terimakasih aja gak cukup deh." balas Salsa sambil menaik turunkan alis matanya.
__ADS_1
"Terus kamu mau apa?" tanya Gandhi.
"Gimana kalau kamu bayarin tiket aku sama Zola liburan ke Eropa?" jawab Salsa.
"Malak kamu yah."
Salsa terkekeh.
"Ya udah nanti aku bayarin, tapi nanti kalau Yunda nerima aku, kalau gak, gak jadi." ucap Gandhi.
Gandhi pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Gandhi langsung membaringkan badannya kasar diatas ranjang.
Sambil melihat langit-langit kamar, Gandhi kepikiran tentang kejadian di kosan Yunda yang membuatnya gagal menyatakan cinta pada Yunda.
"Gara-gara suara laknat tadi, jadi gagal gue nyatain perasaan gue ke Yunda!" dumel Gandhi.
"Apa gue pindahin aja yah Yunda ke apartemen?" gumam Gandhi.
Tanpa perlu pikir panjang lagi, Gandhi langsung mengambil ponselnya dan mencari apartemen yang letaknya tak jauh dari kantor. Rencananya Gandhi ingin menyewa apartemen untuk Yunda.
Bukan hanya apartemen, bahkan Gandhi berniat memperkerjakan baby sitter untuk menjaga Reesha selama Yunda bekerja.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1