
"Sudah, sudah, kita masuk dulu." ucap Ghazan sambil menepuk punggung Gandhi.
Perlahan Gandhi melepaskan pelukannya dari tubuh kedua kakak-nya.
"Ayo masuk Kak." ajak Gandhi.
Ghazan dan Galang pun masuk kedalam unit apartemen.
"Kenalin Kak, ini Yunda, istri Gandhi." ucap Gandhi saat kedua kakaknya melihat Yunda yang sejak tadi berdiri di dekat pintu.
"Yunda, kak." ucap Yunda sambil menjulurkan tangannya lebih dulu ke Galang lalu ke Ghazan.
Yunda pikir, kakak tertua Gandhi itu Galang karena badan Galang lebih besar dari Ghazan. Dan kalau ketiga kakak-beradik itu di jajarkan, badan Gandhi lah yang paling besar dari kedua kakaknya.
Galang dan Ghazan menyambut uluran tangan Yunda.
"Akhirnya kami bertemu dengan perempuan yang sudah membuat adik bungsu kami memberontak." ucap Ghazan. Entah itu pujian atau sindiran, tapi bagi Yunda itu seperti sebuah sindiran.
"Selamat pagi Pak Ghazan, Pak Galang." sapa Bayu.
Ghazan dan Galang pun mengalihkan pandangannya ke arah Bayu.
"Hai Bay, aku pikir kamu meninggalkan Gandhi, ternyata kamu masih stay disini." balas Ghazan.
"Gak mungkin lah Pak." balas Bayu.
"Ayo kita ke ruang kerja." ajak Gandhi.
"Yun, suruh Sus bikinin kopi yah. Gulanya satu sendok aja." pinta Gandhi.
"Baik Mas." jawab Yunda.
Gandhi, Ghazan, Galang dan Bayu pun berjalan menuju ke ruang kerja dan diikuti Yunda dari belakang, tapi Yunda terus ke dapur membuatkan kopi untuk kedua kakak iparnya ketimbang harus menyuruh pengasuh Reesha.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Ceklek. Saat Gandhi dan kedua kakaknya sedang intermeso, tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka.
Yunda dan Sus Nur masuk kedalam ruang kerja. Yunda membawa cemilan dan Sus Nur membawakan kopi untuk kedua kakak Gandhi.
Minuman dan cemilan sudah di letakkan di meja, merasa tidak enak hati jika harus tinggal di ruang kerja, Yunda pun memilih untuk keluar dari ruang kerja.
"Mau kemana kamu?" tanya Gandhi.
"Mau lihat Reesha dulu, Mas." jawab Yunda beralasan.
"Kan udah ada Sus, duduk disini. Masa kakak aku dateng kamu malah keluar." ucap Gandhi.
Yunda menghela nafasnya kemudian memberikan nampan pada Sus Nur, lalu duduk disebelah Gandhi di sofa yang berhadapan dengan Ghazan dan Galang.
"Aku dengar kamu sedang merintis perusahaan mu yang baru. Bergerak di bidang apa?" tanya Ghazan.
"Untuk saat ini masih fokus di satu bidang dulu, di bidang produksi limbah plastik." jawab Gandhi.
"Apa sudah punya karyawan?" tanya Ghazan.
"Kalau untuk bagian kantor, masih kami bertiga, tapi kalau untuk pengrajin sudah ada. Rumah untuk tempat produksi juga sudah ada, tinggal menunggu mesin untuk mendaur ulang limbah plastiknya datang. Kalau mesin sudah datang, barulah kami mencari pekerja untuk mengoperasikan mesin." jawab Gandhi.
"Untuk saat ini gak usah dulu Kak, nanti kalau perusahaan ini sudah terlihat hilalnya baru nanti Gandhi minta bantuan Kakak." tolak Gandhi halus.
"Gan..." panggil Ghazan.
"Ya kak."
"Kakak bangga dengan kamu. Sebagai kakak, sebenarnya kakak malu melihat kamu yang rela mengorbankan semuanya dan keluar dari zona nyaman demi mempertahankan cintamu. Tidak seperti kami yang memilih pasrah meninggalkan wanita yang kami cintai karena kami terlalu takut keluar dari zona nyaman kami." ucap Ghazan.
"Seandainya Salsa perempuan normal dan kami punya anak, mungkin Gandhi akan melakukan hal yang sama seperti Kak Ghazan dan Kak Galang." jawab Gandhi.
"Jujur, saat Gandhi memutuskan untuk tetap bertahan dengan Yunda, ada sedikit ketakutan dalam diri Gandhi, Gandhi takut gagal, gagal menjadi seorang suami karena tidak bisa memberi kehidupan yang layak untuk Yunda. Apalagi sekarang Gandhi harus merintis semuanya dari awal, yang hilalnya belum jelas. Sedangkan pebisnis kelas kakap saja masih bisa gagal saat berbisnis, apalagi Gandhi yang masih pebisnis kelas teri." kata Gandhi lagi.
"Kamu hebat Gan, kakak yakin kamu pasti bisa sukses." sahut Galang.
__ADS_1
"Kakak punya informasi penting buat kamu." ucap Ghazan.
"Apa?" tanya Gandhi.
"Kakak dengar proyek baru Papa terancam tidak berjalan karena banyak investor yang menarik uang mereka." jawab Ghazan.
"Apa ini karena ulah Papa-nya Salsa?" tanya Gandhi.
"Mungkin. Tapi berita ini masih belum seratus persen kebenarannya, karena masih ada beberapa investor termasuk mertua kami berdua yang bertahan dan sekarang mereka masih dalam tahap pencarian solusi." jawab Ghazan.
Gandhi menghela nafasnya kasar. Walau dia sudah dikeluarkan dari Pradana Utama, tapi tetap saja, dia tidak rela kalau perusahaan yang dirintis oleh Papa-nya itu hancur hanya karena masalah pribadi.
"Nanti Gandhi atur waktu untuk bertemu dengan Papa-nya Salsa." ucap Gandhi.
"Jangan! Kamu jangan melakukan apa-apa untuk saat ini. Kita lihat saja perkembangannya dulu." balas Ghazan.
"Karena kemungkinan solusi yang mereka ambil adalah menjual sebagian saham ke publik." kata Ghazan lagi.
"Kalau sampai itu terjadi, kamu harus membeli lah saham itu." timpal Galang.
Gandhi terdiam memikirkan saran Galang.
"Kira-kira berapa persen saham yang akan mereka jual ke publik?" tanya Gandhi.
"Kemungkinan mereka akan menjual saham milik mu. Makanya, kami tidak mau saham itu jatuh ke publik, jadi kamu harus membelinya. Kalau kamu membelinya, tidak mungkin Papa dan Mama semena-mena sama kamu." jawab Ghazan.
"Bukannya Gandhi gak mau Kak, tapi Gandhi gak punya uang sebanyak itu." jawab Gandhi.
"Tenang, kami berdua sudah menyiapkan dana-nya untuk mu. Tugas mu hanya membeli saham itu. Kamu bisa mengembalikannya setelah kamu punya uang." jawab Ghazan.
Mata Gandhi mrmbulat lebar.
Dia tidak menyangka kedua kakaknya sudah menyiapkan segalanya untuk dirinya.
Ternyata diamnya sang kakak saat adiknya terkena masalah bukan karena sang kakak tidak peduli pada sang adik, tapi karena sang kakak sedang mengamati dan memperhitungkan langkah untuk menyelamatkan sang adik.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...